Terjerat Cinta Penguntit Cantik

Terjerat Cinta Penguntit Cantik
Dermaga


__ADS_3

"Tempatnya di sini? Lalu di mana Dermaganya?" tanya Devano yang memang belum pernah datang ke tempat ini.


Nadira menoleh pada Devano yang terlihat sedikit menampakkan wajah bingungnya"Oppa ikut saja. Nanti Oppa juga akan tau di mana letak Dermaga dan bagaimana keindahannya" seru Nadira sambil melangkahkan kakinya menyusuri sebuah gang kecil yang ada di sana. Karna memang untuk sampai di dermaga itu masih harus melewati beberapa gang. Karna yang kali ini di lewati Nadira bukan tempat biasanya. Nadira memang sengaja lewat jalan jalur alternatif. Selain lebih dekat, Di sana tempatnya juga lebih indah.


"Kamu tidak salah jalan kan, Sayang? Awas nanti kita malah tersesat" kata Devano dengan ragu mengekor di belakang Nadira.


"Nggk lah, Oppa. Orang aku sudah biasa datang ke tempat ini. Kalau lagi kesel atau pun sedih. Ini yang akan menjadi tempat yang selalu aku datangin" kata Nadira sambil terus jalan


Mendengar perkataan Nadira membuat Devano menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal"Memangnya orang sepertimu juga bisa sedih ya, Sayang?" ujarnya


"Menurut oppa? Ya kali aku tidak pernah sedih. Biar pun begini, Aku juga manusia yang terkadang ada di titik yang sama sekali tak pernah aku inginkan" balas Nadira di sela langkahnya.


Hingga tak berselang lama, Mereka sudah sampai di Dermaga. Salah satu tempat favorite yang sering di datangi oleh Nadira selama ini. Selain pemandangannya yang sangat indah dan juga masih begitu asri, Di sana ada penjual mie ayam yang rasanya enak banget. Setiap datang ke tempat ini, Nadira tidak pernah melewatkan mie ayam itu. Karna sudah menjadi makanan yang paling wajib buat Nadira setiap datang ke sini.


Devano menatap takjub pada Dermaga itu. Tempat nya yang cukup sepi dan terasa begitu menenangkan. Udaranya yang begitu segar, Serta angin sepoy membuat Devano menghirup dalam udara di sana.


"Sayang, Tempat ini indah sekali" kata Devano sambil mengangkat tangannya. Menikmati udara segar serta angin sepoy di sana.


"Apa yang aku katakan, Oppa. Tempat ini indah dan juga sangat menenangkan. Bagaimana, Apa Oppa menyukainya" tanya Nadira sambil menatap Devano yang masih memejamkan kedua matanya. Menghirup udara segar serta menikmati angin sepoy yang menerpa wajahnya.


"Suka, Sayang. Bahkan aku sangat menyukai tempat ini. Kenapa kamu baru membawaku kesini? Kenapa tidak mengajakku sejak dulu?" tanya Devano sambil menoleh pada arah Nadira.


"Karna aku hanya ingin mengajak orang yang menjadi laki-laki spesial dalam hidupku. Dan hari ini akhirnya aku bisa membawa oppa yang sudah beruntung menjadi orang spesial ku" balasnya sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Kenapa tidak mengajakku sejak dulu?"

__ADS_1


"Karna sejak dulu Oppa belum menjadi orang spesial. Dan hari ini, Oppa sudah benar-benar menjadi orang spesial yang sudah berhasil menempatinya"


"Lalu bagaimana dengan Nathan? Apa dulu kamu pernah mengajaknya ke tempat ini?" Entah kenapa tiba-tiba saja Devano teringat akan Nathan yang memang sudah menjadi mantan kekasih dari istrinya.


Nadira tak langsung menjawab, Wanita itu masih terdiam untuk beberapa saat. Memperhatikan raut wajah Devano yang terlihat cukup berbeda setelah mengatakan nama Nathan..


Hal itu tentu saja membuat Nadira mengulum bibirnya."Tentu" kata Nadira yang terdengar ambigu.


Devano menundukkan wajahnya"Jadi saya orang kedua yang kamu bawa ke tempat ini?" tanya Devano


"Aku belum selesai bicara, Oppa. Maksudnya, Tentu saja tidak. Nathan memang mantan ke kasihku. Tapi dia tidak pernah menjadi orang spesial" balasnya sambil mendekat pada Devano yang sudah menundukkan wajahnya.


Mendengar perkataan Nadira membuat Devano mengerutkan keningnya. Karna merasa tidak terlalu paham dengan apa yang baru saja Nadira katakan. "Maksudmu bagaimana, Sayang? Aku tidak terlalu paham. Nathan bukan orang spesial? Bukan kah dia mantan kekasih yang kamu cintai?" tanya Devano pada Nadira


"Memang, Tapi Nathan tidak pernah menjadi orang spesial. Karna laki-laki spesial bukan hanya laki-laki yang aku cintai. Melainkan laki-laki yang sudah menjadi imamku dunia akhirat. Dan orang beruntung yang sudah mendapatkan gelar spesial itu hanya oppa, Suamiku" balas Nadira sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Cie yang berbunga-bunga. Orang spesial ku nih" kata Nadira sambil menyenggol tangan Devano.


"Sayang, Nakal deh. Awas saja nanti ya, Akan aku kasih hukuman"


"Tapi hukumannya yang enak-enak kok" imbuh Devano sambil menatap Nadira.


"Ih Oppa, Itu maumu saja"


"Memangnya kamu tidak mau? Hmmm" kata Devano yang sengaja ingin menggoda Nadira

__ADS_1


"Tidak" balas Nadira sembari melangkahkan kakinya berlalu dari hadapan Devano.


"Masa, Perasaan kamu selalu menikmati permainan yang sering kita lakukan" bisik Devano tepat di telinga Nadira. Membuat Nadira membuka lebar kedua matanya.


"Ih oppa, Jangan membicarakan hal itu. Ini tempat umum" balas Nadira sambil mencubit pinggang Devano


"Berarti kalau kita di apartemen bebas dong. Sekalian langsung main bagaimana?" kata Devano lagi sambil mengulum bibirnya. Pasalnya wajah Nadira seketika menjadi sangat merah saat Devano membahas perihal olah raga malam yang sudah sering mereka lakukan.


"Oppa!! Jangan kumat deh mesumnya"


"Biarin aja, Mesum sama istri sendiri juga. Wlee" balas Devano yang membuat Nadira mengangkat sebelah sudut bibirnya.


Setelah itu, Nadira mengajak Devano untuk mencoba mie ayam yang sudah menjadi langganannya setiap kali datang ke sini.


"Oppa, Sekarang aku lapar. Kita makan dulu ya" ujarnya sambil menoleh pada Devano


Devano mengerutkan keningnya, Pasalnya Devano tidak melihat adanya warung atau orang berjualan di sana"Mau makan apa di sini, Sayang?" tanya nya sambil memperhatikan sekitar


"Ikuti aku, Nanti Oppa juga akan tau kita akan makan apa" balasnya pelan. Wanita itu berjalan menuju tempat mi ayam yang memang lokasinya cukup jauh dari tempat mereka saat ini.


Tak lagi banyak bertanya, Devano hanya mengikuti langkah Nadira di belakangnya.


DI TEMPAT LAIN


Sudah seperti biasa. Setiap hari Alex akan selalu stay di sekitar Mansion wardana. Saat melihat Farah keluar dari mansion itu, Membuat Alex cepat menyalakan mesin mobilnya. "Farah, Mau kemana dia?" ujarnya sambil memperhatikan mobil yang Farah gunakan. Yang sudah berjalan keluar dari halaman Mansion wardana.

__ADS_1


Alex mengikuti laju motor itu, Entah kemana kali ini Farah akan pergi. Tapi kalau di lihat dari rute yang Farah ambil, Sepertinya wanita itu akan pergi ke rumah sakit.


30 Menit kemudian, Mobil yang Farah gunakan benar-benar berhenti di salah satu rumah sakit. Farah langsung turun dari atas mobilnya. Dari sana,


__ADS_2