Terjerat Cinta Penguntit Cantik

Terjerat Cinta Penguntit Cantik
Keadaan Bunda Ratna


__ADS_3

Keenan duduk sambil menatap Mela yang ternyata sudah tertidur. Pria itu mengambil nafas panjang, Ikut sakit saat mengingat bagaimana nasib Mela selama ini.


"Malang sekali nasibmu, Mela. Tapi kenapa setelah tidur panjangmu, Orang pertama yang kamu ingat adalah Devano. Bukan aku, Aku yang selama ini selalu setia menunggu kesadaran mu" kata Keenan yang terdengar sangat lirih.


Memang, Selama 2 tahun lebih, Keenan selalu setia memberikan perawatan terbaik untuk Pamela. Mengingat statusnya sebagai dokter umum, Membuat Keenan memilih untuk menangani Pamela sendiri.


"Apa memang se-berharga itu Devano di mata kamu? Apa memang se-spesial itu Devano di hati kamu? Aku tidak tau, Mel. Tapi aku ingin kamu tau satu hal, Aku mencintaimu, Aku sangat mencintaimu" kata Keenan yang terdengar sangat lirih.


Keenan bangun dari duduknya lalu keluar dari dalam kamar yang di tempati oleh Mela. Tiba-tiba saja ada sebuah panggilan masuk yang ternyata dari rumah sakit. Keenan mengerutkan keningnya, Pasalnya ini bukan jadwalnya jaga malam. Tapi kenapa pihak rumah sakit menelfon jam segini.


Karna merasa cukup penasaran, Akhirnya Keenan menjawab panggilan itu.


📱:Halo, Dokter Keenan


📱:Iya, Sus. Ada apa? Bukan kah saya sedang tidak ada jadwal jaga malam?


📱:Memang, Dokter. Tapi ini ada pasien dokter yang bernama bu Ira, Sepertinya keadaannya kritis dok. Di sini juga tidak ada dokter sama sekali, Kalo malam minggu kan memang semua dokter libur jaga malam.


📱:Astaga, Baiklah. Saya akan segera kesana. Kamu pastikan pasang alat-alat yang seharusnya di dapatkan oleh bu Ira.


📱:Baik, Dokter


Setelah itu, Keenan buru-buru keluar dari sana dengan langkah lebarnya. Keenan masuk ke dalam kamarnya sendiri untuk mengganti pakaian dengan yang lebih formal, Karna tadi keenan sudah menggunakan piyama tidur.


Namun sebelum pergi, Keenan sudah menitipkan Mela pada salah satu asisten rumah tangganya.


"Bi, Saya minta tolong jagain Pamela selama saya tidak ada di rumah, Ya. Soalnya saya mendapat telfon yang sangat darurat

__ADS_1


📱:Baik, Tuan muda. Saya akan menjaga non Mela di sini.


Keenan hanya mengangguk seraya mengangkat kedua sudut bibirnya. Setelah itu berjalan cepat keluar dari dalam rumahnya.


Keenan langsung menyalakan mobilnya dan melajukan mobil itu keluar dari halaman rumahnya. Membelah jalanan malam yang sudah cukup sepi. Di komplek perumahan Keenan, Memang mayoritas masyarakatnya lebih tertutup. Di sepanjang perjalanan, Keenan sama sekali tidak bertemu sama orang, Padahal ini komplek perumahan yang cukup elit.


"Kenapa sepi sekali" kata Keenan sambil terus melajukan mobil itu cepat. Karna jaraknya tidak terlalu jauh, Maka Keenan hanya memerlukan waktu sekitar 20 menit.


Di Rumah sakit


Lisa menangis saat melihat kondisi sang bunda semakin memperihatinkan. Gadis itu mengambil nafas dalam, Tidak tau lagi harus bagaimana. Apalagi saat teringat akan perkataan suster tadi. Jika biaya operasi penyakit yang di alami oleh sang bunda sangat mahal.


Hal itu membuat Lisa semakin tidak tenang. Jangankan untuk biaya operasi, Biaya makan saja sudah kurang. "Bagaimana, Ini. Apa yang harus aku lakukan. Ya allah, Tolong jangan ambil bunda Lisa, Tolong pertahankan bunda Lisa, Ya allah. Karna Lisa tidak punya siapa-siapa lagi" kata Lisa yang terdengar sangat lirih


Lisa berjalan mondar mandir. berusaha menghubungi Ratna, Kakaknya. Namun ternyata nomor Ratna tidak bisa di hubungi. Membuat Lisa tidak tau harus berbuat apa.


Lisa masih saja terus berusaha menghubungi Ratna. Namun lagi-lagi yang terdengar hanyalah suara operator.


"Kamu kemana, Kak. Lihat kondisi bunda. Kamu kemana?" kata Lisa lagi.


Tak berselang lama, Lisa bisa melihat kedatangan dokter Keenan yang sedang berjalan menyusuri setiap koridor di sana. Melihat kedatangan dokter Keenan, Membuat Lisa bisa bernafas lega. Setidaknya dokter Keenan selalu melakukan yang terbaik


"Dokter, Saya mohon, Tolong selamatkan nyawa bunda saya" kata Lisa yang terdengar begitu Lirih. Saat mengingat kondisi sang bunda, Membuat Lisa tidak kuasa untuk menahan air matanya agar tidak tumpah. Namun air mata itu terus saja mengalir begitu saja.


"Kamu berdoa saja, Saya akan berusaha melakukan yang terbaik sebisa saya" kata Keenan dan langsung masuk ke dalam ruangan IGD.


Di sana, Keenan sudah melihat bagaimana kondisi bu Ira. Salah satu pasien yang Keenan tangani selama ini.

__ADS_1


"Sus, Tolong siapkan ruangan operasi. Bu Ira harus segera di operasi malam ini juga" kata Keenan sambil menoleh pada suster itu.


Suster itu masih dia di tempat. Pasalnya dokter spesialis bedah malam ini tidak ada"Kenapa diam saja, Sus? Cepat lakukan apa yang saya perintahkan" kata Keenan lagi


"Tapi dok, Bagaimana caranya bu Ira mau di operasi. Sedangkan dokter Aisyah sedang tidak ada di rumah sakit ini" balas suster itu


"Kamu lupa, Selain dokter umum, Saya juga dokter bedah" kata keenan sambil menoleh pada suster itu.


"Astaga, Maaf dokter saya lupa. Lalu bagaimana dengan biaya rumah sakitnya, Dok?" tanya Suster itu lagi.


"Itu biar jadi urusan saya. Untuk saat ini cepat siapkan ruangan operasi. Masalah biaya kita bahas belakangan. Yang penting nyawa bu Ira selamat. Memangnya kamu mau rumah sakit kita di cap tidak berperikemanusiaan jika sampai ada pasien meninggal karna tidak mendapat penanganan" kata Keenan lagi.


"Baik dokter" balas suster itu dan langsung keluar dari ruangan IGD.


Di Tempat Lain


Setelah Aira keluar dari rumah sakit, Ratna memang memutuskan untuk ikut tinggal di panti asuhan. Selain ingin lebih dekat dengan anaknya, Ratna juga ingin bertobat. Membuka lembaran baru di panti asuhan ini. Mencoba melupakan masa lalunya yang begitu kelam.


Ratna mengusap perutnya yang masih datar"Kenapa, Kenapa aku harus kembali merasakan situasi ini. Kenapa aku harus kembali pada titik ini. Titik terlemah yang pernah aku alami" kata Ratna yang terdengar sangat lirih.


Kedua mata Ratna berkaca-kaca. Rasa sesak dalam hatinya membuatnya ingin menangis. Menangis agar mengurangi rasa sesak itu. Tiba-tiba saja Ratna teringat akan perkataan Zein hari itu.


Biarkan saya menjadi bagain dari kalian. Biarkan saya bertanggung jawab atas apa yang sudah saya lakukan dulu.


kata-kata itu berhasil terngiang pada indra pendengaran Ratna. Ratna mengambil nafas panjang, Bagaimana bisa dirinya menerima Zein. Sedangkan saat ini Ratna sedang mengandung benih dari laki-laki yang sudah merusak hidupnya. Karna rayuan Fadil, Ratna mengkhianati Devano dan membuatnya harus kehilangan semuanya.


"Maafkan aku, Zein. Bukannya aku tidak mau memberikan kesempatan buat kamu untuk menjadi bagian dari hidupku. Hanya saja aku merasa tidak pantas untuk kamu. Laki-laki sempurna dengan segala hal yang kamu miliki" kata Ratna dalam batinnya. Cukup sadar dengan posisinya seperti apa.

__ADS_1


__ADS_2