
Setelah cukup lama menunggu Devano, Nadira bisa melihat kedatangan Devano dengan membawa beberapa barang di tangannya. Kening Nadira sedikit mengerut saat melihat barang apa yang Devano bawa.
Baju couple dengan tertulis "Milik Devano" di belakang baju Nadira. Begitu juga sebaliknya. Entah apa tujuan Devano membeli baju couple dengan sablon seperti itu.
Bahkan bukan hanya itu. Devano juga membeli sebuah buket bunga yang terbuat dari plastik. Dari sekian banyak maca bunga, Kenapa harus bunga plastik yang Devano berikan untuk nya.
"Bunga plastik? Oppa pelit banget sih! Masak beliin aku bunga plastik tanpa wangi khas" protes Nadira sembari mengerucutkan bibirnya.
Hal itu membuat Devano mengulum bibir. Mungkin memang harga bunga plastik yang dia belikan untuk Nadira tak semahal bunga pada umumnya. Namun Devano memiliki alasan tersendiri kenapa membelikannya bunga plastik.
"Kenapa kamu malah senyum-senyum seperti itu?" Nadira menatap pada Devano yang masih terus mengulum bibirnya.
"Coba kamu tebak apa alasanku memberikan kamu bunga plastik?"Devano menatap Nadira masih dengan mengulum bibir.
" Alasannya cuma satu, Kamu pelit oppa"
Nadira menatap bunga plastik yang ada di tangannya, Entah apa yang sebenarnya menjadi alasan kenapa Devano memberikannya bunga plastik.
Devano menatap pada Nadira yang masih mengerucutkan bibirnya. Devano mendekat lalu menggenggam tangan Nadira sangat lembut.
"Sayang, Coba kamu lihat aku, Tatap kedua mataku"
Devano menatap kedua bola mata Nadira begitu dalam. "Sayang, hanya ada satu alasan kenapa aku memberikan kamu bunga plastik, Karna bunga itu tidak akan pernah layu apalagi kering. Sampai kapan pun dia akan tetap seperti itu, Memang hanya sebuah bunga plastik, Namun bunga itu lebih bertahan lama dari pada bunga pada umumnya" ujar Devano yang terdengar sangat lembut menerpa indra pendengaran Nadira.
Mendengar akan hal itu membuat Nadira tertegun, Masih tidak habis pikir jika Devano akan memberikan alasan seperti itu. Memang jika di pikir bung plastik lebih tahan lama dari pada bunga sungguhan.
"Sayang, Aku cuma mau kamu tau kalau aku begitu mencintaimu. Kamu adalah separuh dari duniaku sayang. Oleh karena itu, Aku membeli baju ini" Devano menunjukkan baju couple yang juga dia beli tadi.
__ADS_1
Kedua sudut bibir Nadira terangkat saat melihat tulisan yang ada di belakang baju itu. "Nadira milik Devano" begitu juga sebaliknya.
Nadira terdiam. Apa yang Devano katakan memang benar. Karna terkadang bunga asli akan lekas layu bahkan kering. Namun tidak dengan bunga plastik, Bahkan bunga itu bisa bertahan lebih lama dari pada yang kita perkirakan.
"Aku juga sangat mencintai, Oppa. Entah kenapa rasanya semua yang ada dalam pikiranku hanyalah tentang oppa. Apa oppa mau berjanji satu hal sama aku"
"Tentu, Memangnya kamu mau aku berjanji apa, Sayang?" Tanya Devano yang masih terus menatap kedua bola mata Nadira lekat.
Bahkan mereka tidak perduli jika saat ini ada beberapa pasang mata yang memperhatikannya.
"Berjanjilah untuk selalu ada untuk ku dalam keadaan apapun, Oppa. karna jujur saja, Hidupku sudah sangat berpengaruh pada Oppa. Aku tidak tau bagaimana hidupku nanti jika sampai Oppa tidak ada bersamaku"
Mendengar perkataan Nadira membuat Devano mendekat wanita itu. Mencium lembut pucuk kepalanya. Seakan menunjukkan jika Devano juga merasakan hal yang serupa. Devano juga tidak ingin jauh dengan wanita yang sudah mencuri hatinya.
"Sayang, Tanpa kamu minta sekalipun, Aku akan selalu berusaha ada untuk kamu, Selama nadiku masih berdenyut, Aku akan selalu ada untuk kamu. Karna kamu adalah Aku. Kamu segalanya, Sayang"
Hingga tak berselang lama, Ada suara tepuk tangan yang menyadarkan mereka berdua.
"Duh romantisnya. Aku juga pengen kayak mereka. Sweet couple gak sih" ucap salah satu dari mereka.
"Iya, Sweet couple banget. Mana cantik sama ganteng lagi mereka."
Nadira dan Devano saling lirik saat mendengar ucapan beberapa orang yang ada di sekitar mereka. Sesekali Nadira tersenyum. Apa dia tidak salah dengar mereka mengatakan jika Devano dan Nadira adalah sweet couple.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seperti yang sudah di rencakan oleh Sky sebelumnya, Jika Pamela akan dia berangkatkan ke Singapore bersama dengan Keenan. Salah satu dokter yang memang sudah Sky percaya kan untuk menjaga anak sulungnya.
__ADS_1
Biarpun dengan sangat terpaksa, Pamela akhirnya mau menjalani pengobatan di luar negri. Di samping itu, Sebenarnya Pamela ada alasan lain kenapa dia mau berangkat ke Singapore setelah bersikeras menolak.
"Kamu jahat, Dev. Kamu jahat. Bagaimana bisa kamu malah menikah dengan wanita yang katanya adikku sendiri. Kamu benar-benar jahat, Dev" batin Pamela yang terdengar sangat lirih.
Air matanya yang sejak tadi dia tahan akhirnya terjatuh tanpa permisi. Pamela menatap pada jendela pesawat dengan air mata yang semakin mengalir deras membasahi kedua pipinya.
Keenan yang sejak tadi memperhatikan Pamela tentu saja merasa iba. Karna mau bagaimanapun Keenan paham betul bagaimana perasaan gadis itu saat ini.
Hingga akhirnya Keenan memutuskan untuk semakin mendekat pada Pamela lalu menepuk pelan pundaknya.
"Saya tidak tau apa yang membuatmu menangis, Mela. Tapi sebagai dokter yang di percaya buat menjaga kamu dan juga bertanggung jawab atas keadaanmu, Saya sarankan untuk tidak terlalu memikirkan tentang hal yang membuat kesehatan mu memburuk" kata Keenan pada Mela. .
Mela diam, Sama sekali tak menggubris perkataan Keenan. Yang ada dibenaknya saat ini hanyalah rasa kecewa karna Devano. Laki-laki yang amat sangat dia cintai. Bahkan Pamela berjuang hidup demi bisa menjelaskan kesalah pahama yang terjadi di antara mereka dua tahun yang lalu. Sialnya saat itu takdir berkata lain.
"Percayalah, Akan selalu ada pelangi setelah hujan. Biarpun terkadang pelangi itu tidak datang tepat setelah hujannya reda. Kamu harus percaya jika suatu saat nanti kamu akan mendapatkan apa yang kamu harapkan" lanjut Keenan lagi.
Mendengar itu membuat Pamela mengusap kedua matanya yang sudah terasa sangat basah. Gadis itu menoleh pada Keenan.
"Tapi apakah pelangi selalu menjanjikan keindahan?"
"Sepertinya. Bukan kah memang itu yang kita tau. Pelangi akan selalu terlihat indah mewarnai langit biru"
"Tapi aku tidak yakin pelangi itu akan mewarnai duniaku. Sedangkan langit ku saja sudah menjadi milik orang lain" lirih Kumala sembari menundukkan wajahnya.
Kali ini giliran Keenan yang terdiam. Tidak tau harus menjawab apa atas kalimat yang terlontar dari mulut Kanaya. Dia hanya bisa menatap iba pada gadis itu.
Melihat Pamela seperti itu membuat Keenan ikut merasakan sakit. Karna mau bagaimanapun Keenan sangat mencintai Pamela.
__ADS_1
"Saya berjanji, Mela. Saya akan berusaha me jadi pelangi untukmu suatu saat nanti" batin Keenan