
"Siapa ya yang tadi di telpon sama kak Zein. Kenapa aku merasa tidak asing dengan suaranya. Suara itu terasa begitu familiar" ucap Nadira sambil terus menatap punggung Zein yang sudah menjauh dari tempatnya.
Nadira mengambil nafas pelan. Lalu berjalan ke arah tempat barang-barang yang akan di lelang yang sudah ada di depan. Tiba-tiba saja tatapan Nadira tertuju pada salah satu kalung dengan liontin kecil berbentuk rupi. Kalung itu terlihat sangat indah. Benar-benar indah.
"Kalung ini kenapa sangat mirip dengan kalung mass kecilku. Kalung pemberian tante yang dulu sering ke rumahku" ujar Nadira sambil terus memperhatikan kalung itu.
"Sayang sekali kalung milikku sudah tidak muat lagi di pakai. Hmmm, Padahal kalungnya memang sangat cantik dan juga elegan" ujar Nadira lagi.
Cukup lama Nadira memperhatikan barang-barang yang akan di lelang, Hingga tak berselang lama Zein kembali bersama dengan beberapa stafnya karna acara sudah mau di mulai.
"Kita mulai acaranya. Kamu bisa dudu di kursi depan yang sudah di sediakan ya" ucap Zein pada Nadira.
Nadira mengangguk serta langsung berjalan menuju kursi yang di maksud oleh Zein. Bersamaan dengan itu, Kedua orang tuanya juga orang tua Devano sampai di sana.
"Mama, Papa, Om, Tante. Kalian jadi datang ke sini?" ucap Nadira pada mereka berempat.
"Iya dong sayang. Sejak dulu kami memang suka datang ke acara lelang seperti ini. Iya kan Lin. Bahkan. 14 tahun yang lalu, Tante Lina pernah membelikan kamu kalung yang modelnya sangat cantik saat di acara lelang. Iya kan Lina"
Lina mengangguk"Iya, Sayang. Waktu itu tante pernah membeli sepasang kalung limited edition di salah satu acara lelang besar. Satunya buat kamu, Satunya lagi buat anak perempuan tante. Kalung itu hanya ada dua di dunia" terang Lina sambil mengambil nafas dalam-dalam karna kembali teringat akan anak perempuannya yang hilang 20 tahun yang lalu.
Sedangkan Nadira yang mendengar itu langsung mengerutkan kecil keningnya"Jadi orang yang dulu memberikan aku kalung dengan liontin rubi itu adalah tante?" tanya Nadira sambil menatap Lina.
Lina mengangguk pela "Iya, Sayang. Itu adalah tante. kamu sudah lupa ya? Itu kan tante berikan saat ulang tahun kamu yang ke 6 tahun. Saat itu, Tante yang mendengar jika mama kamu hamil anak perempuan, Tante langsung membeli sepasang kalung dengan liontin bentuk rupi di acara lelang. Tapi tante sengaja memberikannya saat kamu berusia 6 tahun. Kamu masih simpan kalung itu kan?" tanya Lina pada Nadira.
"Masih tante. Karna mau Nadira pakai pun sudah kekecilan, Jadinya Nadira simpan buat anak Nadira nanti. Siapa tau saja anak Nadira perempuan, Hehe" Nadira tertawa saat menyebutkan kata anak.
__ADS_1
"Mau punya anak sama siapa, Calon saja aku belum ada. hikss,, Menyedihkan sekali hidupku" batinnya sambil menoleh ke lain arah.
Tak lama kemudian, Mereka berlima pun sudah duduk di kursi paling depan. Zein sudah memulai acara lelangnya. Barang pertama yang di lelang adalah sebuah kalung cantik yang sejal tadi menjadi pusat perhatian Nadira.
"Oke semuanya, Acara lelangnya saya mulai. Barang pertama ada sebuah kalung cantik dengan liontin berbentuk rubi. Saya akan pasang seharga 150.000 yen. Silahkan yang mau bisa langsung angkat tangan"
Deg!
Kalung itu membuat Lina terdiam sejenak, Dadanya terasa sangat sesak. Teringat akan anak perempuannya yang hilang"Kalung itu, Kenapa bisa ada di sini, Bukan kah hanya ada 2 di dunia. Apa itu kemungkinan besar kalung mulik Wilona" ujar Lina pelan.
Wardana yang mendengar perkataan Lina langsung mengangkat tangannya" Saya tertarik dengan kalung itu"gumamnya sambil mengangkat sebelah tangannya.
"Oke baik. Kalau tidak ada yang mau nego, Saya kunci ya" gumam Zein sambil memperhatikan orang-orang yang ada di ruangan itu.
"Selamat kepada bapak yang ada di meja depan" gumam Zein
"Oke, Sekarang kita beralih pada jam tangan yang satu ini" Zein mengangkat jam tangan itu, "Saya pasang harga lelangnya 170.000 yen" ucap Zein sambil terus mengangkat jam tangan itu.
Hingga tak berselang lama, Terdengar suara seseorang serta mengangkat sebelah tangannya."Saya tertarik" ucapnya.
Nadira yang merasa suaranya cukup familiar langsung membalikkan tubuhnya"Nathan" ucapnya sambil menatap pada Nathan yang duduk di kursi belakang.
Ya, Pria itu adalah Nathan, Mantan kekasihnya. Beberapa hari yang lalu, Saat bertemu dengan Nadira bersama dengan Zein membuat Nathan yang tidak yakin dengan hubungan antara Zein juga Nadira membuatnya mengikuti secara diam-diam. Nathan yang mendengar adanya lelang yang bisa di hadiri siapapun di kantor milik Nathan membuat Nathan mencari tahu alamatnya.
"Nathan, Kenapa dia juga ada di sini" ujar Nadira pelan dan hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri. Tepat saat Nadira memperhatikan Nathan, Pria itu tanpa sengaja menoleh pada Nadira sehingga membuatnya kegeeran. Nathan pikir Nadira sengaja memperhatikannya.
__ADS_1
"Aku tau kamu masih cinta sama aku, Nadira. Makanya kami liatin nya seperti itu" batin Nathan sambil menatap Nadira.
Nadira membalikkan tubuhnya merasa muak saat Nathan ikut menoleh ke arahnya dengan tatapan yang tidak pernah Nadira harapkan lagi.
"Kenapa harus ada pria brengsek itu di sini. Rasanya aku sangat malas melihat wajahnya" batin Nadira.
Dttt,,,,,,,Dtttttt,,,,,Dtttttt
Mendengar suara ponselnya berdering membuat Nadira menundukkan wajahnya. Mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya. Sebelah sudutnya terangkat saat melihat nomor tanpa nama di sana. Siapa lagi kalau bukan Nathan, Karna memang Nadira sudah tidak mau menyimpan nomor pria yang sudah menggoreskan luka dalam batinnya.
"Untuk apa dia mengirim pesan" ujar Nadira sambil membuka pesan dari Nathan
"I Love you, Nadira. Aku tau kamu juga pasti masih mencintaiku, Kembalilah bersamaku, Aku janji akan berusaha mengobati luka yang pernah aku gores di masa lalu ]
"Ck! Jangan harap Nathan. Aku sudah tidak sudi" ucap Nadira sambil mengetik balasan untuk Nathan.
[ Jangan mimpi di siang hari, Jangan pernah hubungi aku lagi, Karna sebentar lagi aku akan segera menikah ] Send
"Apakah ada yang mau menawar, Kalau tidak ada. Saya kunci, 170.000 yen" terdengar suara Zein yang masih setia dengan barang-barang lelangnya.
"200.000 yen" ucap seseorang yang baru saja masuk ke dalam gedung itu.
Nathan yang sudah merasa tertarik dengan jam tangan itu tentu saja tidak mau sampai kalah, Hingga akhirnya pria itu kembali menawar dengan harga yang lebih tinggi"220.000 yen" ucap Nathan sambil mengangkat sebelah tangannya.
"280.000 yen" balas pria yang tadi itu lagi.
__ADS_1
Semua mata tertuju pada sosok yang baru saja melakukan tawar menawar dengan harga tertinggi. Kedua mata Nadira memicing saat melihat siapa sosok yang sedang berdiri di sana"Pak Devano" ucapnya pelan sambil terus menatap Devano