Terjerat Cinta Penguntit Cantik

Terjerat Cinta Penguntit Cantik
Unboxing


__ADS_3

Mendengar perkataan Nadira membuat Bella mengerutkan keningnya"Urusan penting? Memangnya urusan penting apa?" tanya Bella dengan raut wajah yang terlihat begitu penasaran.


Nadira mengangkat kedua bahunya. Karna memang dia sendiri juga tidak tau ada urusan penting apa dengan Devano. Hingga membuatnya harus buru-buru pergi dari apartemen. Padahal mereka baru saja sampai di jakarta.


Di saat Nadira dan Bella masih asik mengobrol di dapur, Tiba-tiba saja ada suara langkah kaki yang baru saja masuk ke dalam apartemen itu. Mendengar suara langkah itu membuat Nadira dan Bella membalikkan tubuhnya. Menoleh pada sosok yang sedang berjalan pelan ke dapur.


"Ada apa denganmu, Oppa? Kenapa wajahmu terlihat tak karuan begitu,?" tanya Nadira pada Devano. Ya, Sosok yang baru saja masuk adalah Devano. Pria itu kembali dengan wajah yang terlihat sangat kusut. Seperti baju yang belum sempat di setrika.


"Iya nih, Ada apa denganmu, Kak. Kenapa raut wajahmu terlihat sangat menyedihkan" timpal Bella sambil mengulum bibirnya.


Pasalnya baru kali ini Bella melihat raut wajah Devano yang benar-benar lecek. Devano mengambil nafas dalam lalu membuangnya kasar. "Tidak ada. Hanya saja aku sedang lelah. Aku ke kamar dulu ya, Sepertinya butuh istirahat" ucap Devano dan langsung berlalu dari hadapan mereka berdua.


Nadira yang langsung paham dengan raut wajah Devano membuat wanita itu menatap punggung suaminya"Apa yang sebenarnya terjadi? Kamu tidak bisa bohong sama aku, Pak. Karna aku sudah sangat mengenalmu. Sebenarnya ada apa?" ujar Nadira dalam batinnya


"Kira-kira ada apa ya, Nad. Kenapa kak Dev wajahnya terlihat aneh" kata Bella sambil menoleh pada Nadira yang masih terdiam dan terus menatap punggung Devano yang sudah menghilang di balik pintu.


"Entah, Bell. Aku juga tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Tapi jika di lihat dari wajahnya, Sepertinya saat ini dia sedang tidak baik-baik saja" Nadira menatap Bella yang sudah mengulum bibir. Membuatnya curiga pada sahabatnya itu.


"Ada apa denganmu? Kenapa senyum-senyum seperti itu? Memangnya ada yang lucu?" tanya Nadira yang masih tidak paham dengan ekspresi yang Bella tunjukkan.


"Itu artinya kak Devan butuh sesuatu" gumamnya sambil terus mengulum bibir.


Nadira yang mendengar perkataan Bella mengerutkan kecil keningnya" Membutuhkan sesuatu? Sesuatu apa?" tanya Nadira


"Masa gak ngerti sih Nad. Itu tuh" jawabnya. Bella mengedipkan sebelah matanya sambil terus mengulum bibirnya.


Namun karna Nadira masih cukup ngeleg dan polos, Wanita itu masih saja tidak paham dengan apa yang Bella maksud. "Apa sih Bell? Bicara yang jelas ih, Aku tidak paham" kata Nadira pada Bella.


Bella mendekat dan membisikkan sesuatu yang langsung mampu membuat Nadira melebarkan kedua matanya"Butuh jatah malam pertama" bisik Bella pada Nadira.


Mendengar apa yang Bella katakan, Kedua mata Nadira seketika terbuka lebar"Bella, Itu otakmu, Astaga" balasnya sambil menatap tajam ke arah Bella.

__ADS_1


Bella terkekeh saat melihat raut wajah Nadira yang tiba-tiba menjadi merah.


Melihat itu membuat Bella semakin ingin menggoda Nadira. Wanita itu menyenggol lengan Nadira dan sengaja ingin membuat wajah Nadira menjadi semakin merah.


"Tapi ya, Nad. Apa yang aku katakan itu benar. Ini hanya sedikit pelajaran dari aku buat kamu. Pelajaran yang harus selalu kamu ingat" ucap Bella lagi


Nadira mengerutkan keningnya"Pelajaran apa?" kata Nadira sambil terus menatap Bella yang sudah menahan tawa.


"Menurut teman aku yang sudah menikah nih ya, Katanya kalau suaminya lagi capek, Salah satu hal yang dia lakukan adalah membuat suaminya bahagia"


"Caranya?" tanya Nadira yang mulai penasaran.


"Caranya sangat gampang. Kamu hanya perlu melayani kak Devan seperti pasangan suami istri pada umumnya"


Blusss


Benar saja, Setelah mendengar apa yang Bella katakan, Wajah Nadira menjadi semakin merah. "Sampai di sini kamu paham kan apa maksudku?" kata Bella lagi


"Gak papa. Jangan lupa lakukan apa yang aku katakan tadi malam ini ya, Nad. Dan satu lagi, Jangan lupa pakai Lingerie yang aku berikan waktu itu. Aku pergi dulu, Gak mau mengganggu pasangan pengantin baru. Dadah Nadira"


"Semoga sukses untuk malam ini. Jangan lupa buatkan aku keponakan yang banyak dan lucu-lucu tentunya" bisik Bella dan langsung pergi dari sana. Meninggalkan Nadira yang sudah terlihat merona setelah mendengar apa yang sudah Bella katakan padanya.


"Astaga Bella. Ada-ada saja dia. Kenapa malah mengajarkan aku tentang hal itu" gumamnya pelan


*


*


*


Tanpa terasa siang sudah berlalu begitu saja. Saat ini Nadira sedang sibuk membuat makan malam di dapur.

__ADS_1


"Kamu masak apa, Sayang?" tanya Devano yang terdengar sangat lembut menerpa indra pendengarannya.


Mendengar suara itu, Nadira membalikkan tubuhnya. Wanita itu sudah langsung bisa melihat senyuman manis dari Devano.


"Oppa, Ngapain kesini? Kan aku sudah minta tunggu di meja makan, Aku hanya memanaskan sop buntut yang sudah aku buat tadi" balas Nadira pada Devano


"Aku kesini hanya ingin melihat istriku masak. Apa tidak boleh?"


"Tentu saja boleh. Sedikit lagi sup nya siap kok. Kamu tunggu di meja makan saja ya"


"Baiklah, Istriku sayang" ujarnya dengan kedua sudut bibir yang sudah terangkat.


20 Menit kemudian, Mereka berdua sudah selesai makan malam. Saat ini Nadira dan Devano dengan menonton drama korea kesukaan Nadira di ruang tengah. Tepat saat di sana menunjukkan adegan kiss, Mereka berdua sama-sama terdiam. Saling memalingkan wajahnya ke lain arah.


Tiba-tiba saja, Nadira teringat akan perkataan Bella siang tadi. Membuatnya menoleh pada Devano. Begitu juga dengan Devano yang menoleh pada Nadira. Devano menatap lekat kedua bola mata Nadira, Membuat Nadira merasa jantungnya kembali berdetak sangat cepat.


Posisi ini benar-benar tidak aman. Jika seperti ini terus, Lama-lama aku bisa sakit jantung


batin Nadira sambil membalas tatapan Devano. Kedua *** mata mereka bertemu dan terkunci untuk beberapa saat. Kemudian Devano mendekat pada Nadira serta langsung mencium bibirnya begitu saja. Membuat Nadira yang reflek membelalakkan kedua matanya.


Semakin lama ciuman itu menjadi semakin dalam. Nadira yang awalnya hanya diam saja akhirnya ikut membalas ciuman Devano. Ciuman yang semakin lama semakin menuntut.


"Aku menginginkanmu, Sayang" ucap Devano pada Nadira.


Nadira tak menjawab. Hanya mengangguk saja.


Setelah itu, Devano menggendong tubuh Nadira masuk ke dalam kamar mereka. Bersamaan dengan itu, Hujan turun begitu saja.


"Kamu siap kan?" tanya Devano yang masih ingin memastikan pada Nadira.


Nadira lagi-lagi hanya mengangguk

__ADS_1


"Tahan ya, Sakitnya hanya sebentar" bisik Devano pada Nadira


__ADS_2