
"Kurang ajar! Ternyata memang ada seseorang yang sengaja melakukan hal ini. Tapi siapapun dia, Akan aku pastikan dia mendapatkan balasan yang setimpal" kata Devano sambil terus memperhatikan rekaman cctv yang masih di putar dari layar ponselnya.
Kening Devano mengerut saat melihat salah satu dari mereka seperti tidak asing. Devano terus mengamati sosok itu hingga membuatnya teringat akan salah satu pekerja di proyek itu.
"Kenapa postur tubuhnya sangat mirip dengan pak Bambang" kata Devano pelan
Setelah itu, Devano menunjukkan rekaman cctv itu ada salah satu ajudannya"Heru. Kamu tau pak Bambang kan?" tanya Devano pada ajudan yang bernama Heru
"Iya, Tuan. Ada apa dengan pak Bambang?' balas Heru sambil menunjukkan raut wajah penasaran.
"Coba kamu lihat rekaman cctv ini. Postur tubuh salah satu dari mereka seperti tidak asing bagi saya. Postur tubuhnya seperti postur pak Bambang" kata Devano sambil memberikan ponselnya pada Heru agar melihat rekaman Cctv di sana.
"Tuan benar, Menurut saya postur tubuhnya memang mirip dengan pak Bambang. Tapi apakah dia pelakunya? Jika memang benar, Untuk apa pak Bambang melakukan hal itu, Tuan?" kata Heru sambil menoleh pada Devano dan mengembalikan ponselnya.
"Saya juga tidak tau. Tapi yang pasti, Saya tidak salah. Jika sosok yang ada di dalam rekaman cctv ini memang pak Bambang. Memang wajahnya tidak terlihat, Tapi postur tubuhnya sangat mirip dengannya. Bukan hanya itu, Baju yang ada di dalam rekaman cctv ini juga baju pemberian Daddy saya satu bulan yang lalu. Sebagai hadian karna kerja kerasnya selama ini" kata Devano lagi
"Tapi saya tidak yakin jika orang ini pak Bambang, Tuan. Bukankah selama ini kita sama-sama tau bagaimana royalitas pak Bambang dalam bekerja" timpal Heru lagi
Perkataan Heru membuat Devano teringat akan kinerja pak Bambang selama ini.
"Kamu benar, Heru. Sambil menunggu kabar dari om Firman, Saya mau kamu juga menyelidiki pak Bambang" kata Devano lagi pada Heru
"Baik, Tuan. Saya akan mencoba menyelidiki pak Bambang"
"Jika kamu menemukan sedikit saja hal yang aneh darinya, Langsung hubungi saya"
"Baik, Tuan muda"
Mobil itu terus membelah jalanan pagi yang begitu banyak orang berlalu lalang di area trotoar. Sudah tidak heran lagi jika jakarta akan selalu ramai di jam segini. Banyak orang yang akan berangkat bekerja.
__ADS_1
20 menit kemudian, Mobil itu sudah tiba di apartemen Rainbow city. Devano menatap Nadira yang masih terlihat sangat pulas. Membuatnya merasa tidak tega sekedar membangunkan nya dan mengatakan jika mereka sudah tiba di tempat tujuan.
"Tolong kamu bawakan barang-barang saya dan juga barang istri saya" gumam Devano pada mereka.
Setelah mengatakan hal itu, Devano keluar dari dalam mobilnya sambil menggendong tubuh Nadira. Masuk ke dalam apartemen itu dan masuk ke dalam lift. Menekan tombol dengan angka 15. Karna memang unit apartemen milik Devano ada di lantai 15.
Ting
Pintu lift terbuka. Mereka sudah sampai di lantai 15. Devano kembali melangkah kan kakinya, Menyusuri setiap koridor dan berhenti di depan unit apartemen dengan nomor 225.
Setelah pintu apartemen itu terbuka, Devano membawa tubuh Nadira masuk ke dalam kamar utama. Merebahkan tubuh wanita itu di sana. Menyelimuti tubuh Nadira lalu Meninggalkan satu kecupan singkat pada kening Nadira kemudian keluar.
Di ruang tengah. Para ajudannya masih menunggu Devano. Sebelum pergi mereka masih ingin memastikan jika Devano tidak membutuhkan mereka lagi.
"Kalian bisa pergi. Oh ya satu lagi, Jangan lupa lakukan apa yang tadi saya perintahkan. Dan satu lagi, Tolong antarkan mobil saya ke apartemen ini. Kuncinya ada di tempat biasa" kata Devano pada mereka.
"Baik, Tuan. Kami akan melakukan tugas dengan sebaik-baiknya.
" Sudah jam 8 saja. Lebih baik aku mini market sekarang. Sepertinya aku harus membeli beberapa bahan makanan buat persediaan selama aku dan Nadira tinggal di sini" gumamnya dan kembali keluar dari dalam kamarnya. Meninggalkan Nadira yang masih terlihat sangat lelap.
Namun pria itu melupakan satu hal, Devano lupa jika saat ini masih tidak ada mobil yang bisa dia gunakan untuk pergi ke mini market. Hingga mau tak mau, Devano harus memesan makanan dari restoran sambil menunggu orang suruhannya mengantarkan mobilnya kesana.
"Ahhh, Kenapa aku bisa lupa. Mobilku kan masih di mansion" kata Devano sambil menghentikan langkahnya.
Setelah itu, Devano mengambil ponselnya lalu memesan beberapa makanan dari restoran pelangi. Salah satu restoran favoritnya yang terkenal dengan makanan khas Jawa dan juga makanan khas Korea.
Kali ini Devano memesan Soto, Bakso, Ayam rica sama sushi. Tak lupa juga dengan Dessert sebagai menu penutup.
Devano duduk di ruang tengah sambil memainkan ponselnya. Melihat artikel tentang kejadian saat di taman hari itu. Tanpa Devano duga, Karna kejadian itu, Semakin banyak perusahaan besar yang ingin melakukan kerja sama dengan perusahaannya.
__ADS_1
"Astaga. Ternyata ada hikmah dari kejadian hari itu. Tapi, Wait" kening Devano mengerut saat membaca artikel yang ada di bawahnya. Sebuah artikel yang menyampaikan perihal hubungan Ratna dan Fadil saat ini.
"Jadi setelah kejadian hari itu, Ratna dan Fadil tak lagi bersama? Lalu bagaimana dengan anak yang ada dalam kandungannya? Bukan kah itu adalah anaknya Fadil" kata Devano samb terus membaca artikel itu.
Setelah membaca artikel perihal Ratna, Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin Devano ketahui jawabannya. Entah kenapa tiba-tiba saja Devano teringat akan bunda Ratna dan juga adiknya. Karna biar bagaimanapun, Selama ini memang Devano yang sudah membantu pengobatan bu Sari, Bunda dari Ratna dan juga adiknya, Lisa.
"Bagaimana keadaan bu Sari setelah ini, Ya. Bukan kah di keluarga itu Ratna adalah tulang punggung. Lalu bagaimana nasib Bu Sari dan juga sekolahnya Lisa"
Di saat sedang memikirkan tentang nasib ibu serta adiknya Ratna, Tiba-tiba saja bell apartemen berbunyi. Hal itu sudah menandakan jika makanan yang dia pesan beberapa menit yang lalu sudah tiba di sana. Kebetulan memang jarak antara Restoran dengan apartemen tidak terlalu jauh.
Devano bangun dari duduknya lalu membuka pintu apartemennya. Setelah pintu terbuka,Seketika wajah Devano berubah saat melihat siapa yang datang mengantar makanan pesanannya. Bahkan bukan hanya Devano, Orang yang ada di luar pintu juga terlihat sangat terkejut saat mengetahui jika Devano yang sudah memesan makanan itu.
"Loh, Lisa? Kenapa kamu yang mengantar makanan pesananku?" ucap Devano sambil terus menatap raut wajah mantan iparnya yang terlihat sayu.
Lisa tak langsung menjawab. Masih tertegun saat melihat jika Devano yang sudah memesan makanan itu"Lisa, Kenapa kamu diam saja?" ucap Devano lagi karna Lisa hanya dia tak bergeming dan tak menjawab sepatah katapun.
Melihat Devano membuat Lisa menundukkan wajahnya karna merasa malu atas apa yang sudah Ratna lakukan. Anak itu membalikkan tubuhnya dan memilih untuk pergi dari sana dengan wajah yang masih menunduk.
Namun belum sempat kakinya melangkah, Devano menarik tangannya hingga membuat Lisa mau tidak mau harus kembali membalikkan tubuhnya"Jawab kakak! Kenapa kamu yang antar makanan ini? Kamu kerja di sana?" tanya Devano sambil menatap Lisa yang masih saja menunduk. Entah apa yang dia lihat di bawah sana. Tapi yang pasti, Lisa merasa tak punya muka di depan mantan kakak iparnya setelah apa yang di lakukan oleh kakaknya.
"A-aku"
"Ada apa? Katakan pada kakak.. Kamu kerja di restoran itu?" ulang Devano sambil menatap Lisa yang masih setia menundukkan wajahnya.
"Iya, Kak. Aku kerja di sana" jawab Lisa pada akhirnya
Kening Devano mengerut. Pasalnya ini kan masih jam sekolah, Kenapa Lisa kerja di jam sekolah seperti ini. Hal itu kembali menjadi pertanyaan yang tiba-tiba saja melintas.
"Kamu jam segini kenapa bekerja? Bukan kah ini masih jam sekolah?" tanya Devano lagi.
__ADS_1
Lagi-lagi pertanyaan Devano membuat Lisa terdiam. wajahnya terlihat sayu dan kedua matanya terlihat berkaca-kaca. Hal itu semakin membuat Devano tidak mengerti pada Lisa. "Ada apa, Lisa. Kenapa kamu tidak sekolah?" tanya Devano lagi
"A-aku"