
"Kamu sudah siap, Kan?" tanya Devano sambil menatap wajah Nadira yang terlihat sangat merah.
Lagi-lagi wanita itu hanya mengangguk. Saat teringat akan perkataan Bella siang tadi, Membuat Nadira hanya pasrah dengan apa yang Devan lakukan.
"Tahan, Ya. Sakitnya hanya sebentar. Maafkan aku, Sayang" kata Devano yang terdengar sangat lembut menerpa indra pendengarannya.
Rasanya cukup sulit buat Devano untuk menembus benteng pertahanan milik Nadira. Nadira mencengkram punggung Devano saat merasa sakit di bagian inti tubuhnya. "Kenapa rasanya sakit sekali" batin Nadira sambil berusaha menahan rasa sakit di sana. Rasa sakit yang memang luar biasa.
"Sakit ya?" Devano menatap wajah Nadira yang sedang meringis menahan sakit.
Setelah beberapa kali mencoba, Akhirnya Devano bisa menembus benteng pertahanan milik Nadira. Air mata Nadira meluruh.
"Terima Kasih, Sayang. Terimakasih atas malam ini" gumam Devano sambil mendaratkan satu kecupan singkat di keningnya.
Kemudian, Devano membawa tubuh Nadira ke dalam kamar mandi. Membantunya mandi suci di sana. Karna memang Nadira terlihat seperti tidak memiliki tenaga.
Malam ini, Adalah malam pertama Nadira mandi berdua bersama dengan Devano. Dengan penuh kasih sayang, Devano memandikan Nadira. { Di larang healing otakπ }
Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 23:00. Devano menatap Nadira yang sudah terlihat sangat lelap dalam tidurnya.
"Terimakasih, Sayang. Terimakasih karna kamu sudah mau menjadi istriku seutuhnya. Aku janji, Mulai malam ini akan selalu memberikan yang terbaik buat kamu" gumam Devano sambil membelai kepala Nadira penuh sayang.
Kemudian Devano ikut memejamkan kedua matanya. Hari ini benar-benar hari yang sangat melelahkan untuknya.
Malam berlalu begitu cepat, Sayup sayup embun pagi serta suara kicau burung sudah terdengar. Matahari sudah mulai datang dan menerangi bumi seperti hari-hari biasanya.
Sepasang manusia masih sama-sama terlelap. Hingga sinar matahari itu mulai masuk lewat celah gorden di sana.
Devano membuka kedua matanya. Meregangkan otot-otot tangan serta kakinya. Pria itu menoleh pada Nadira yang masih terlihat sangat lelap dan damai.
__ADS_1
"Sepertinya Nadira memang benar-benar lelah. Sebaiknya hari ini aku tidak perlu ke kantor dulu. Aku akan di sini menemani Nadira" ujarnya sambil menatap wajah Nadira.
Kemudian Devano masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan wajahnya di sana. Setelah selesai, Devano keluar dari dalam kamarnya. Berjalan pelan ke arah kulkas dan melihat apa yang bisa dia masak pagi ini.
"Apa aku bikin stek aja ya buat sarapan pagi ini" gumamnya sambil mengambil daging dari freezer
Devano mulai memotong daging itu menjadi beberapa bagian. Selain membuat steak, Pria itu juga ingin membuat olahan dari ikan salmon dan juga ikan tuna. Untuk menambah stamina Nadira yang sudah dia kuras habis malam tadi.
Setelah lebih setengah jam sibuk di dapur, Akhirnya semua masakan Devano sudah siap di sajikan. Dari tampilannya saja sudah terlihat jelas jika semua makanan yang di masak oleh Devano memiliki rasa yang sangat enak.
"Akhirnya selesai" ujarnya sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
Pria itu kembali melangkahkan kakinya menuju dapur, Lalu mengambil nampak untuk membawa makanan itu ke dalam kamar.
Setelah tiba di dalam kamarnya. Devano sudah bisa melihat Nadira yang ternyata sudah bangun. "Selamat pagi, Sayang" kata Devano sambil masuk ke dalam kamarnya dengan membawa makanan yang baru saja dia masak.
Nadira menoleh ke arah pintu. Keningnya sedikit mengerut saat melihat Devano datang dengan membawa nampan yang berisi beberapa makanan dan segelas susu coklat.
"Maaf ya, Sayang. Aku memang sengaja tidak membangunkan kamu tadi. Karna aku lihat wajah kamu seperti sangat kelelahan. Maafkan aku ya" pekik Devano yang terdengar sangat lembut menyapu indra pendengaran Nadira.
"Sekarang kamu makan ya, Aku sudah masak beberapa makanan yang bisa menambah stamina buat kamu" Pria itu bangun lalu mengambil makanan itu.
"Ini semua Oppa yang masak?" tanya Nadira setelah melihat ada beberapa menu di atas nampan itu.
Devano mengangguk"Iya, Sayang. Ini semua aku yang masak. Semoga saja kamu suka sama makanan yang aku buat ini ya. Mungkin memang rasanya tidak terlalu enak. Tidak seperti yang ada di restoran kesukaan kamu. Tapi ini aku buatnya dengan penuh cinta"
Nadira tak menjawab. Wanita itu hanya mengambil steak yang ada di atas nampan itu lalu memakannya. Kedua matanya seketika terbuka lebar setelah merasakan steak yang di buat oleh Devano.
Melihat ekspresi Nadira membuat Devano menatapnya"Rasanya pasti tidak enak ya? Kalau kamu tidak suka, Lebih baik makanan ini gak usah di makan. Soalnya sudah lama juga aku tidak masak. Ini hanya coba-coba saja mengingat resep yang dulu selalu menjadi andalanku saat masih jaman kuliah"
__ADS_1
Nadira tak menjawab. Wanita itu hanya terus memakan stek yang Devano masak dengan penuh cinta. Katanya sih.
Sumpah ini sih enak banget. Bahkan rasanya jauh lebih enak dari pada Stek yang ada di restoran favorite ku
batin Nadira sambil terus menikmati steak itu hingga habis tak tersisa. "Ini sih bukan tidak enak, Oppa. Ini benar-benar steak paling enak yang pernah aku makan" gumam Nadira pada Devano.
Devano tersenyum saat mendengar perkataan Nadira. Ada rasa bahagia tersendiri saat mendengar pujian itu. Setidaknya usaha Devano tidak sia-sia.
Di saat Devano masih menatap Nadira yang terlihat begitu menikmati makanan yang dia masak. Tiba-tiba saja ada sebuah panggilan masuk dari nomor Saras. Dengan cepat Devano mengusap layar hijau itu di sana.
π±:Halo, Saras. Ada apa?
π±: Maaf, Tuan. Saya hanya mau mengabarkan jika proyek kita dengan perusahaan Mr, Darwin sudah akan di mulai hari ini. Apa pak Devano bisa datang ke lokasi? Saya baru saja mendapat kabar jika bapak sudah ada di jakarta.
π±:Baguslah. Kalau untuk datang ke lokasi, Sepertinya hari ini saya tidak bisa. Soalnya saya ingin bersama dengan istri saya seharian dan gak mau ada gangguan sedikitpun
Saras yang memang belum tau jika Devano menikah dengan Nadira tentu saja membuatnya cukup terkejut. Pasalnya yang Saras tau hubungan Devano dan Ratna sudah berakhir. Lalu tiba-tiba saja direktur nya ini mengatakan jika ingin menemani istrinya tanpa gangguan dari siapapun.
π±:Istri? Memangnya bapak sudah menikah?
π±:Hmm. Saya sudah menikah sejak beberapa hari yang lalu di Tokyo
π±:Sama bu Ratna?
π±:Bukan. Tapi dengan Nadira.
π±:Hah! Sama Nadira?
π±:Ya. Kami akan mengadakan acara resepsi akhir bulan ini. Saya minta kamu pastikan tidak ada siapapun yang mengganggu saya hari ini. Dan satu lagi, Saya minta tolong kamu belikan obat pereda nyeri di apotek. Kamu kirim lewat ojek online.
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Devano langsung memutuskan sambungan telponnya. Devano memang sengaja meminta Saras untuk membelikan obat pereda nyeri untuk Nadira agar mengurangi rasa sakit akibat perbuatannya malam tadi.