Terjerat Cinta Penguntit Cantik

Terjerat Cinta Penguntit Cantik
Rasa bingung Nadira


__ADS_3

"Mok diam saja, Nad. Kamu mau langsung punya anak apa masih mau menunda dulu?" ulang Farah karna Nadira masih dia tanpa mengatakan sepatah katapun. Masih terlalu bingung dengan apa yang harus dia jawab atas pertanyaan yang baru saja terlontar dari Farah.


"A-aku" Nadira menoleh pada Farah dan juga Devano yang sudah menunggu jawaban darinya.


"Aku apa sayang?" kata Devano yang sudah tidak sabar dengan jawaban yang akan Nadira berikan.


"Duh, Bagaimana ini. Apa yang harus aku katakan. Bukannya aku tidak mau langsung punya anak, Tapi masih ada banyak mimpi yang harus aku wujudkan"batin Nadira.


"Sepertinya untuk saat ini aku ingin menunda dulu, Kak. Selain usiaku yang masih terlalu muda, Masih ada begitu banyak mimpi yang harus aku wujudkan" balas Nadira pada akhirnya. Biarpun awalnya Nadira ragu untuk mengatakan, Tapi mau bagaimanapun hal ini memang harus Nadira utarakan.


Nadira menoleh pada Devano yang terlihat nampak kecewa dengan jawaban dari Nadira. Tapi bukan kah apa yang Nadira katakan memang ada benarnya. Nadira masih terlalu muda untuk buru-buru punya anak. Bukan kah masih begitu banyak kesempatan akan hal itu. Lebih baik untuk saat ini mereka pikirkan bagaimana masa depan nanti.


Farah mengangguk paham dengan jawaban Nadira. "Kakak paham bagaimana maksud kamu, Dir. Mungkin kamu berpikir jika punya anak nanti kamu takut tidak bisa mewujudkan mimpimu, Bukan. Tapi kalau kakak boleh kasih saran, Sebenarnya anak bisa menambah semangat kita untuk mewujudkan impian kita" balas Farah sambil menatap Nadira.


"Memang usia mu masih sangat muda. Tapi bukan kan memiliki anak di usia muda itu lebih baik, Coba kamu bayangkan, Capek pulang kerja, Kamu bisa melihat senyum anak mu. Dan hal itu tentu saja bisa membuat rasa lelah mu pudar"Lanjut Farah lagi.


Nadira hanya diam. Perkataan Farah membuatnya membayangkan bagaimana rasanya memiliki anak di usia muda.


"Apa yang di katakan oleh kak Farah itu ada benarnya juga, Sayang. Jika kita punya anak sekarang, Itu artinya nanti kita bisa lebih fokus bekerja. Bekerja untuk masa depannya" imbuh Devano yang membuat Nadira semakin bingung.


"Nah, Lebih baik kamu pikirkan lagi deh Nad. Jangan suka menunda kehamilan, Karna di luar sana banyak pasangan yang sudah menikah bertahun-tahun tapi belum juga di karuniai keturunan. Jangan sampai menyesal dikemudian hari loh ya" kata Farah lagi yang memang sengaja ingin menakut-nakuti Nadira. Saat melihat raut wajah kecewa dari Devano membuatnya ingin membantu Devano agar Nadira tidak lagi menunda kehamilan.


Setelah mengatakan hal itu, Farah keluar dari dapur. Membiarkan Nadira dan juga Devano di sana. "Semoga saja apa yang aku katakan bisa merubah pola pikirnya" gumam Farah di sela langkahnya.


Farah duduk di meja makan sambil memainkan ponselnya. Tiba-tiba saja ada sebuah pesan masuk yang ternyata dari nomor Alex.


Dtttttt

__ADS_1


Dtttttt


Dttttt


Farah mengambil ponselnya, Menatap layar ponselnya. Keningnya mengerut saat melihat jika nomor Alex yang tertera di sana.


Mas Alex


"Mas Alex. Dia mengirim pesan" gumamnya sambil terus menatap layar ponselnya. Dengan cepat Farah langsung membuka pesan itu.


[ Selamat malam, Istriku. Sudah makan malam? Apa malam ini kamu menginginkan sesuatu? Biar aku belikan. Jangan sampai telat makan ya, Pastikan anak kita selalu sehat dalam perutmu. Aku janji, Akan berjuang untuk bisa mendapatkan hatimu kembali. Love You ]


Farah hanya membaca tanpa mau membalas pesan itu. Saat membaca kata Love you, Membuat jantung Farah berdetak sangat cepat. Pasalnya ini pertama kalinya Alex mengatakan hal itu padanya.


"Apakah mungkin aku bisa bersama dengannya kembali. Tapi sepertinya hal itu hanya akan menjadi sebuah bayangan, Karna Devano tidak akan membiarkan Alex kembali bersamaku lagi. Setelah mengetahui apa yang dia lakukan selama ini" gumam Farah sambil menatap layar ponselnya.


Farah mengambil nafas panjang lalu membuangnya kasar. Saat perkataan Devano kembali terngiang begitu saja.


Kalimat itu tiba-tiba saja berhasil terngiang kembali. Dan membuat Farah langsung menghapus pesan dari Alex. Karna Farah sadar, Mau bagaimanapun usahanya, Semuanya akan sia-sia.


Dtttttt


Dttttt


Dttttt


Ponselnya kembali berdering. Ternyata ada pesan masuk lagi yang ternyata masih dari orang yang sama.

__ADS_1


Mas Alex


[ Saya tidak masalah biarpun kamu hanya membaca tanpa membalas pesan ku, Farah. Tapi satu hal yang harus kamu tau, Saya mencintaimu, Dan saya akan berusaha untuk bisa mendapatkan kamu kembali. Tidak perduli dengan apapun resiko yang harus saya hadapi, Biarpun adikmu sekalipun, Karna saya yakin, Pelan tapi pasti saya bisa memperbaiki semuanya kembali ]


Membaca pesan itu membuat Farah menoleh pada Devano yang sudah terlihat sibuk membantu Nadira memasak di dapur. Lagi-lagi Farah hanya bisa menanggapi pesan itu dengan mengambil nafas dalam.


"Tapi aku yang tidak yakin, Mas. Apalagi Devano sudah begitu mewanti-wanti agar aku tidak lagi berhubungan denganmu" gumam Farah sambil terus menatap layar ponselnya.


DI DAPUR


Devano menatap Nadira yang sedang sibuk menghaluskan bumbu yang ada di hadapannya. Pria itu memeluk Nadira dari belakang.


"Apa tidak sebaiknya kamu pikirkan perkataan kak Farah, Sayang. Sepertinya akan sangat menyenangkan jika kita bisa memiliki anak secepatnya. Apa kamu tidak ingin keluarga kecil kita lengkap. Aku ingin saat pulang bekerja di sambut oleh anak dan juga istriku tercinta" bisik Devano tepat di telinga Nadira.


Hal itu membuat Nadira cukup terkejut, Karna Devano tiba-tiba saja memberikan pelukan yang begitu erat. Terlebih lagi saat ini mereka sedang ada di dapur.


"Oppa, Jangan seperti ini. Tidak enak jika di lihat oleh kak Farah" balas Nadira sambil menoleh pada Devano.


"Tapi aku tidak malu, Sayang. Lagian untuk apa malu, Kita kan suami istri. Memang apa salahnya jika kita berpelukan" balas Devano yang masih tidak mau melepaskan pelukannya.


"Memang tidak salah, Oppa. Tapi tempatnya yang salah. Lepas ih, Aku mau selesaikan masakanku" lanjut Nadira lagi


Namun Devano masih tidak mau melepaskan pelukannya. Bahkan pria itu semakin mempererat pelukannya.


"Lepaskan Oppa. Tidak enak jika di lihat sama kak Farah" kata Nadira lagi


"Baiklah, Aku akan melepaskan pelukannya, Tapi ada syaratnya" balas Devano sambil mengangkat kedua sudut bibirnya. Membuat Nadira mengerutkan keningnya saat mendengar apa yang baru saja Devano katakan.

__ADS_1


"Syarat, Memangnya syarat apa, Oppa?" tanya Nadira sambil melirik Devano


"Cium dulu" bisik Devano sambil terkekeh


__ADS_2