
"Saya memiliki satu rencana. Tapi kali ini saya membutuhkan bantuan kamu dan juga Dion" kata Devano sambil melirik pada Andre yang juga menoleh ke arahnya.
Mendengar perkataan Devano membuat Andre sedikit mengerutkan kecil keningnya"Satu rencana? Rencana apa itu, Pak?" tanya Andre yang terlihat penasaran.
"Nanti akan saya kasih tau sekalian sama Dion. Saya permisi dulu. Nanti akan saya kabarkan mengenai kelanjutan rencana yang sudah saya miliki" ujar Devano lagi dan langsung berlalu dari hadapan Andre.
Devano melangkahkan kakinya dan kembali masuk ke dalam mobil itu, Saat sudah sampai di sana, Ternyata Devano sudah menemukan Nadira yang ketiduran. Pantas saja jika Nadira ketiduran, Pasalnya mereka berdua malam tadi memang tidak tidur hingg pukul 3 pagi.
Setelah pulang dari rumah sakit, Mereka berdua masih mengobrol cukup lama, Hingga tanpa mereka sadari malam sudah berlalu begitu saja.
Melihat Nadira tertidur, Devano langsung membawa kepala wanita itu dalam sandarannya, Menatap sejenak wajah Nadira yang terlihat damai tanpa merasa terganggu sedikitpun.
"Saya bahagia, Nadira. Sangat bahagia. Tak pernah menyangka jika status kita saat ini sudah berbeda. Saya sangat bersyukur bisa memiliki kamu, Wanita yang menurut saya berbeda dengan keunikan yang kamu miliki tersendiri" batin Devano sambil membelai lembut rambut Nadira.
"Kita mau kemana, Tuan muda?" tanya Ajudan tadi
"Langsung ke apartemen Rainbow city" balas Devano pelan
Ajudan itu hanya mengangguk dan langsung melajukan mobilnya menuju Apartemen milik Devano. Membelah jalanan yang pagi ini terlihat padat seperti biasa.
Di Tokyo
Daniel masih setia menunggu Widia yang belum jaga membuka mata. Pria itu menatap wajah Widia sambil menggenggam tangannya"Sebenarnya apa yang sudah terjadi, Widia. Kenapa kamu malah jadi seperti ini" ujarnya lirih
Tak lama kemudian, Tangan Widia bergerak dan kedua matanya terbuka"Aku dimana?" ucapnya dengan suara seraknya
Daniel yang mendengar itu langsung bangun dari duduknya. Kembali melakukan pemeriksaan pada wanita itu.
"Syukurlah kamu sudah sadar, Widia" kata Daniel sambil menatap wajah Widia.
Mendengar suara yang tidak asing membuat Widia melirik ke arah Daniel "Daniel, Kenapa bisa ada kamu? Aku di mana?" tanya Widia dengan suara seraknya.
"Kamu lagi di rumah sakit. Dan kebetulan aku adalah dokter di rumah sakit ini"
"Dokter? Kamu sudah menjadi dokter?"
"Ya. Aku sudah menjadi dokter. Setelah kejadian itu, Aku memutuskan untuk pindah kuliah ke tokyo. Dan melupakan keinginanku buat menjadi seorang pengusaha"
Memang saat itu Daniel sedang kuliah dengan jurusan bisnis. Hanya saja setelah apa yang dia lakukan dengan Widia malam itu membuat mereka berdua tidak pernah lagi saling tegur sapa. Memang kebetulan SMA GARUDA satu naungan dengan UNIVERSITAS GARUDA. Sehingga membuat Widia, Nadira dan Bella cukup dekat dengan Daniel kala itu.
__ADS_1
Widia terdiam..Tak bisa menjawab sepatah katapun dengan apa yang baru saja dia dengar dari Daniel. Sehingga ruangan itu mendadak jadi senyap.
"Dimana anak itu?" tanya Daniel tiba-tiba
"Maksud mu apa, Daniel?"
"Jangan pura-pura tidak mengerti dengan perkataanku. Aku tau jika saat itu kamu mengandung anakku, Kan. Hanya saja karna rasa obsesi mu yang ingin memiliki Nathan membuatmu mengatakan jika anak itu adalah anaknya Nathan"
Mendengar itu membuat Widia cukup terkejut. Bagaimana bisa Daniel mengetahui semuanya. "Aku juga tau jika sebenarnya malam itu tidak ada yang terjadi di antara kalian. Hanya saja kamu sengaja menjebak Nathan agar bisa merebutnya dari Nadira kan?" ucap Daniel lagi
"Tidak usah sok tau" jawab Widia sambil menatap Daniel
"Aku tidak sok tau, Widia. Aku memang sudah tau semuanya. Bahkan aku juga tau jika selama ini kamu selalu merasa iri terhadap Nadira kan? Oleh karena itu, Kamu berusaha melukainya dengan merebut Nathan, Pria yang sangat Nadira cintai saat itu" ucap Daniel lagi
"Jangan pernah sebut nama wanita itu! Aku muak dengar namanya" pungkas Widia
"Kenapa? Apa alasanmu membenci Nadira? Bukan kah Nadira adalah sahabatmu?
"Memang Nadira sahabatku. Tapi itu dulu, Tidak untuk saat ini"
"Kasih aku alasan kenapa kamu sangat membencinya?" tanya Daniel yang mulai ingin tau dengan alasan kenapa Widia membenci sosok Nadira.
"Kamu mau tau kenapa aku sangat membenci wanita itu"
"Karna Nadira, Aku selalu seperti serpihan debu yang tak terlihat di mata mereka. Yang nampak pada penglihatan mereka hanyalah Nadira. Nadira yang pintar, Nadira yang cantik, Nadira yang kaya, Nadira memiliki orang tua yang begitu menyayanginya. Dan satu lagi, Nadira sudah mengambil kasih sayang orang tuaku"
Perkataan terakhir Widia membuat Daniel mengerutkan keningnya"Apa maksudmu? Nadira mengambil kasih sayang kedua orang tuamu?"
"Ya, Semenjak mereka mengenal Nadira, Mereka berdua selalu membanding-bandingkan aku dengannya. Dan karna hal itu, Kedua orang tuaku sering bertengkar, Saling menyalahkan karna aku tidak bisa seperti Nadira. Tidak pintar dan selalu bikin malu" terang Widia lagi
"Karna pertengkaran itu, Akhirnya aku menjadi anak broken home, Mama dan papa memutuskan untuk bercerai dan hidup masing-masing. Mereka tidak pernah memikirkan bagaimana perasaanku"
Tiba-tiba saja Widia merasa dadanya sangat sesak. Kedua matanya menjadi panas hingga butiran bening itu berhasil lolos begitu saja. Sakit, Luka, Serta kecewa kembali Nadia rasakan.
"Jadi hanya karna itu kamu membenci Nadira?" tanya Daniel lagi
"Ya. Oleh karena itu, Aku ingin membuat Nadira juga merasakan apa yang aku rasakan. Saat aku tau dia begitu mencintai Nathan, Saat itu juga aku tau bagaimana caranya menyakitinya. Membuat hatinya merasakan luka dan kecewa secara bersamaan"
"Lalu apa kamu puas setelah melakukan itu?
__ADS_1
"Tentu, Aku sangat puas saat melihat Nadira terluka"
Widia tertawa. Namun seketika tawa itu hilang saat mendengar perkataan Daniel.
"Asal kamu tau, Nadia. Orang yang begitu kamu benci adalah orang yang sudah menyelamatkan hidupmu"
kalimat itu berhasil membuat Nadia menatap Daniel dengan rasa penasaran. "Apa maksudmu?" tanya Nadia sambil mengerutkan keningnya.
"Karna pertolongan dari Nadira kamu bisa selamat"
"Bicara yang jelas. Aku tidak mengerti"
"Nadira sudah memberikan darahnya untukmu. Jika saja Nadira datang telat sedikit saja, Kemungkinan besar kamu tidak akan tertolong" terang Daniel pada Widia
"Apa!!"
Cukup terkejut saat mendengar apa yang perkataan Daniel. Setelah apa yang dirinya lakukan terhadap Nadira.
"Kenapa dia mau melakukan hal itu? Kenapa Nadira mau menyelamatkan nyawaku"
"Karna dia tidak memiliki hati sepertimu. Nadira tidak pernah memiliki rasa dendam atas apa yang sudah orang lain lakukan terhadapnya. Termasuk dirimu" ujar Daniel dan langsung keluar dari sana. Meninggalkan Widia yang masih terdiam tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun setelah mendengar apa yang baru saja Daniel katakan.
"Kenapa kamu mau melakukan hal itu setelah apa yang aku perbuat, Nadira. Ternyata kamu memang masih memiliki hati sebaik itu. Pantas saja kamu selalu memiliki hal yang tak bisa aku dapatkan" ujar Widia lagi
"Kamu memang berbeda, Nad" kata Widia lagi
Daniel keluar dari dalam ruangan Widia sambil mengambil nafas dalam. Tak berselang lama, Ponselnya berdering. Ada sebuah panggilan masuk dari nomor yang dia beri nama Queen
Melihat nama yang tertera di sana membuat Daniel mengangkat kedua sudut bibirnya. Dengan cepat pria itu mengusap tombol hijau di sana. Suara yang selalu mampu menghilangkan rasa lelahnya langsung terdengar.
📱:Ayah, Kapan ayah pulang? Fika punya sesuatu buat ayah
📱:Sesuatu? Memangnya sesuatu apa, Sayang?
📱:Rahasia. Nanti akan Fika kasih tau kalau ayah sudah pulang
📱:Baiklah. Ayah pulang sekarang
Tanpa Daniel sadari, Ternyata Widia mendengarkan pembicaraannya dengan orang di ujung telpon.
__ADS_1
"Ayah, Apa Daniel sudah menikah?" ujarnya dalam batin. Membuat Widia menundukkan wajahnya sedih lalu kembali masuk ke dalam ruang rawat inapnya.