
Mendengar perkataan bu Sari membuat Ratna merasa sangat terkejut. Tak pernah menyangka setelah lima tahun, Mereka di pertemukan kembali.
Ratna mengambil alih tubuh Aira dari gendongan bu Sari. Wajahnya terlihat sangat panik saat melihat begitu banyak darah yang keluar dari pelipis Aira.
"Astaga, Zein. Ayo kita bawa anak kita ke rumah sakit" kata Ratna yang terlaku panik. Wanita itu sampai tidak sadar dengan apa yang baru saja dia katakan pada Zein.
Kalimat itu tentu saja membuat Zein merasa tidak paham"Hah!" ujarnya sambil menatap Ratna dan juga Aira
"Apa maksudmu, Ratna. Anak kita?" tanya Zein lagi
"Sudah, Zein. Jagan banyak tanya sekarang. Saat ini tolong bawa Aira ke rumah sakit. Jangan sampai dia kenapa-napa" balas Ratna yang masih menunjukkan raut wajah paniknya.
"Bawa dia ke mobilku" kata Zein sambil melangkahkan kakinya menuju mobilnya yang memang jaraknya tidak terlalu jauh.
Ratna hanya mengekor di belakang tubuh Zein. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah satu, Aira harus tertolong.
"Bertahanlah, Sayang. Mama mohon kamu bertahan" kata Ratna yang terdengar sangat lirih.
Zein menyalakan mesin mobilnya dan langsung melajukan cepat mobil itu. Membelah jalan raya yang alhamdulilah tidak terlalu padat.
Perkataan Ratna membuat begitu banyak pertanyaan yang mulai terbesit dalam benak Zein. Pria itu sesekali melirik pada Ratna yang masih terlihat sangat panaik.
"Bertahanlah, Aira. Maafkan mama yang sudah membuatmu hidup di panti asuhan selama lima tahun ini" kata Ratna sambil mengusap rambut Aira.
Lagi-lagi perkataan Ratna membuat Zein menimbulkan pertanyaan baru. "Lima tahun. Apa jangan-jangan anak ini adalah anakku. Hasil dari kejadian yang tak di sengaja malam itu. Apa iya dia anakku. Tapi kenapa Ratna tidak pernah mengatakan apa-apa dan minta pertanggung jawaban dariku? Bukan kah hari itu aku sudah meninggalkan kartu nama serta alamat rumahku" batin Zein sambil terus melirik mereka berdua dari kaca spion.
Hingga tak berselang lama, Mobil itu sudah tiba di salah satu rumah sakit yang yang menang jaraknya paling dekat. Zein menghentikan mobilnya di sana. Sedangkan Ratna langsung turun dan berjalan setengah berlari menuju ruangan IGD. Mengurusi beberapa koridor di sana.
"Dokter. Tolong anak saya" ujarnya setelah sampai di depan ruangan IGD
"Anak anda kenapa? Silahkan bawa ke dalam ruangan IGD"
Ratna tak menjawab. Wanita itu hanya mengikuti apa yang baru saja di katakan oleh dokter itu.
"Silahkan tunggu di luar. Biar saya tangani anak anda dulu" ucap dokter itu pada Ratna
"Tolong selamatkan anak saya, Dokter. Saya mohon" jawab Ratna yang terdengar sangat lirih
__ADS_1
"Insyaallah. Saya akan mengusahakan yang terbaik ya"
Setelah itu, Ratna keluar dari ruangan IGD. Menghampiri Zein yang sudah duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan itu.
"Bagaimana?" tanya Zein saat melihat kedatangan Ratna
"Dokter masih melakukan pemeriksaan" balasnya sambil berjalan mondar mandir menunggu kabar dari dokter.
Tak lama kemudian, Pintu ruangan IGD itu terbuka. Ratna dan Zein langsung menghampiri dokter yang baru saja keluar dengan menghela nafas.
"Bagaimana, Dokter?" tanya Ratna
Dokter itu mengambil nafas dalam" Putri anda kehilangan banyak darah. Dan harus segera mendapatkan transfusi darah secepatnya. Kalau tidak, Anak anda tidak akan tertolong" terang dokter itu
"Apa!!"
"Kebetulan stok darah A- di rumah sakit ini sedang kosong"
Mendengar itu semakin membuat Ratna panik. Pasalnya golongan darah Ratna bukan A, Apalagi A-. Golongan darahnya O.
"Zein. Ya, Seharusnya dia memiliki golongan darah yang sama dengan Aira. Bukan kah Zein adalah ayahnya" batin Ratna
"Saya permisi dulu. Kalau nanti sudah dapat pendonor, Langsung saja hubungi suster" kata Dokter itu dan langsung berlalu dari hadapan Ratna juga Zein.
Ratna terus menatap Zein dan membuat pria itu mengerutkan keningnya"Kenapa kamu liatin aku seperti itu?" tanya Zein yang masih tidak mengerti dengan tatapan yang Ratna berikan.
"Tolong, Zein. Seharusnya kamu memiliki golongan darah yang sama dengan Aira" kata Ratna lagi"Kenapa kamu bisa mengatakan hal itu?" tanya Zein sambil menatap Ratna. Karna sebenarnya Zein sendiri belum tau apa golongan darahnya. Oleh karena itu sejak tadi Zein hanya diam saat dokter mengatakan jika Aira membutuhkan darah dengan golongan A-.
"Karna kamu ayahnya, Zein" kata Ratna pada akhirnya
"Apa!! Kenapa kamu baru mengatakan hal ini sekarang, Ratna?"
"Ceritanya panjang. Nanti akan aku ceritakan semuanya. Tapi untuk saat ini aku mohon, Selamatkan Aira, Selamatkan anak kita" pinta Ratna yang terdengar sangat lirih.
Zein tak menjawab. Pria itu hanya langsung masuk ke dalam ruangan IGD menemui suster yang menang sedang menjaga Aira.
"Sus. Tolong periksa golongan darah saya. Jika golongan darah saya sesuai, Maka ambillah sebanyak yang di butuhkan. Yang penting anak ini harus selamat" kata Zein pada suster itu.
__ADS_1
"Baik, Pak. Mari ikut saya"
Zein dan suster itu keluar dari ruangan IGD. Meninggalkan Ratna yang sudah mendekat pada Aira.
"Maafkan mama, Aira. Maafkan mama yang sudah menitipkan kamu di panti asuhan. Waktu itu mama terpaksa melakukannya. Karna mama tidak memiliki jalan lain. Kamu hadir di saat mama belum siap menjadi orang tua. Mama benar-benar minta maaf" Ratna menggenggam tangan Aira yang masih setia menutup kedua matanya. Wajahnya terlihat sangat sendu.
Tak lama kemudian, Zein dan suster yang tadi sudah kembali. "Bagaimana? Apa golongan darah juga A-?" tanya Ratna pada Zein
"Ya, Ternyata golongan darahku juga A-. Itu artinya Aira memang anakku" ucapnya pada Ratna
"Ya iyalah. Karna aku hanya melakukannya denganmu"balas Ratna sambil menoleh pada Zein yang sudah memperhatikan Aira.
Suster itu pun langsung melakukan transfusi darah terhadap Aira. Setelah mengambil sebanyak 2 kantung darah dari Zein.
"Kenapa kamu tidak mengatakan sejak saat itu jika kamu hamil?" tanya Zein pada Ratna.
Sejenak Ratna masih terdiam. Tidak langsung menjawab apa yang baru saja Zein tanyakan. "Kenapa kamu diam saja, Ratna? Bukankah hari itu aku sudah meninggalkan sebuah surat yang berisi alamat serta kartu namaku?" tanya Zein lagi pada Ratna.
Ratna menatap Zein sambil mengambil nafas dalam. "Karna saat aku datang ke rumahmu, Kamu sedang melangsungkan pernikahan dengan wanita lain" balasnya lirih
"Jadi aku memutuskan untuk pergi dari sana. Karna aku sadar, Mungkin memang seharusnya melupakan tentang kejadian malam itu. Tepat setelah aku melahirkannya, Aku memutuskan untuk menitipkan Aira ke panti asuhan. Karna saat itu aku belum siap untuk menjadi seorang ibu. Kamu tau sendiri kan kalau saat utu usiaku baru 18 tahun. Aku tidak tau bagaimana caranya membesarkan dia tanpa ada sosok ayah yang mendampingiku" terangnya
"Aku memutuskan untuk menjemput Aira setelah usianya lima tahun. Namun hal itu belum aku lakukan karna akhir-akhir ini sedang banyak masalah yang harus aku hadapi, Masalah yang ciptakan sendiri" kata Ratna lagi
Di Tempat Lain
"Eh, Nad. Sebenarnya kak Dev itu kemana?" tanya Bella pada Nadira. Karna memang setelah keluar dari Apartemen, Devano langsung menghubungi saudara sepupunya itu untuk menemani Nadira di Apartemen.
"Entah. Aku juga tidak tau sih. Tapi tadi dia bilang sedang ada urusan penting" jawab Nadira sambil sibuk memotong bahan-bahan yang ada di tangannya.
Beberapa saat yang lalu. Setelah Bella tiba di sana, Mereka berdua memutuskan untuk belanja ke mini market. Membeli bahan-bahan makanan untuk Nadira stok di kulkas.
Mendengar perkataan Nadira membuat Bella mengerutkan keningnya"Urusan penting? Memangnya urusan penting apa?" tanya Bella lagi sambil menghampiri Nadira di dapur
Nadira mengangkat kedua bahunya"Aku juga tidak tau" balasnya
Di saat mereka berdua sedang asik mengobrol di dapur, Tiba-tiba saja ada suara langkah kaki. Hal itu membuat Bella dan juga Nadira membalikkan tubuhnya. Menoleh ke arah seseorang yang baru saja masuk ke dalam apartemen itu.
__ADS_1