
"Eh Dev, Kenapa belum tidur?" tanya Lina pada Devano. "Tidak bisa tidur, Mom" balasnya sembari melangkahkan kakinya menuju ruang tengah. Devano menggaruk tengkuknya yang tidak merasa gatal.
"Eleh, Tante katak tidak ngerti aja. Pengantin baru mana bisa tidur, Palingan juga dari tadi sibuk-" perkataan Dion terpotong saat Devano cepat menimpalinya.
"Sibuk apa? Itu otak suka amat treveling" kata Devano sambil menendang kaki Dion. Sehingga membuatnya memekik kesakitan.
"Auuuuu. Sakit monyet. Kalau mau nendang itu di kira-kira kek" umpatnya kesal. Karna memang Devano cukup keras menendang kaki Dion.
"Biarin aja. Siapa suruh itu otak resah bener" Devano duduk di samping Dion. Melihat Devano duduk di sampingnya membuat Dion mendekat dan membisikkan sesuatu yang langsung mampu membuat Devano melebarkan kedua matanya.
"Ingat, Dev. Sebelum melakukan, Kamu harus solat sunnah dulu, Biar tidak ada setan yang ikut menikmati" Bisik Dion sambil terkekeh.
Devano melebarkan kedua matanya. Menatap pada Dion yang sudah mengulum bibirnya"Itu otak kenapa terus mengarah kesitu monyet. Bener-bener dah" balas Devano yang juga ikut berbisik.
"Lah, Tujuan orang menikah apa? Memiliki keturunan bukan, Lah caranya biar dapat keturunan bagaimana? Pasti itu jalannya monyet" bisik Dion lagi.
"Dasar otak mesum luu, Parah bener" balas Devano pelan dan hanya terdengar oleh Dion. Melihat ekspresi Devano membuat Dion terus mengulum bibirnya. Pria itu sengaja ingin menggoda Devano malam ini.
"Eh tante, Tante sama om pengen cepet-cepet punya cucu gak?" tanya Dion sambil menoleh pada Lina, Cristy, Wardana juga Sky.
"Ya tentu saja, Dion. Setiap orang tua pasti ingin memiliki cucu, Maka dari itu kami menikahkan Devano dengan Nadira" balas Lina sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Nah. Kode keras itu Dev. Buru sana produksi yang banyak. Mulai malam ini kamu sama Nadira menjadi pabrik. Pabrik yang akan menghasilkan banyak produk baru"
Mendengar perkataan Dion membuat semua yang ada di ruangan itu tertawa, Dion ini ada-ada saja. Memangnya barang pakai bilang produk baru dari pabrik Devano dan Nadira.
"Bener juga itu, Sayang. Sepertinya kak Dev sama Nadira harus menciptakan banyak produk baru, Bukankah mereka berdua sama-sama anak tunggal. Kalau misalnya punya banyak produk baru, Itu nanti kan bisa menjadi penerus dari perusahaan tante Dana sama tante Sky" timpal Bella sambil tersenyum
"Otak kalian berdua itu memang sama ya, Sama-sama gak bener" ujar Devano pada Dion dan juga Bella.
"Iya dong, Kak. Kita kan sehati. Oleh karena itu kita selalu sefrekuensi. Iya kan sayang" ujar Bella sambil menoleh pada Dion
"Tentu, Sayang"balas Dion sambil tersenyum pada Bella.
Di dalam kamar
__ADS_1
Nadira menatap dirinya dari pantulan cermin, Lingerie yang dia gunakan benar-benar sangat kekurangan bahan. Bahkan sebagain paha mulusnya terpampang jelas. Leher jenjangnya juga terekspose sempurna.
"Duh. Kenapa aku malah seperti wanita malam begini ya. Astaga, Ini benar-benar di luar nalar pikiranku. Bella, Kenapa kamu membelikan aku pakaian yang bahannya sangat minim begini" ucap Nadira sambil terus menatap tubuhnya sendiri.
Setelah itu, Nadira mengambil nafas dalam sebelum keluar dari dalam kamar mandi. Saat sudah memastikan semuanya sempurna, Nadira keluar dari dalam kamar mandi.
Nadira memicingkan kedua matanya saat tidak mendapati keberadaan Devano di sana. "Kemana dia? Apa dia belum kembali" gumamnya sambil terus berdiri di sana.
Ceklek
Suar pintu membuat Nadira cukup terkejut, Jantungnya kembali berdegup kencang saat melihat Devano disana. Bukan hanya Nadira, Tapi Devano juga ikut terdiam, Menatap pada Nadira yang sudah terlihat sangat menggoda.
"Benar-benar barang bagus" ucapnya pelan. Tatapan itu masih fokus pada leher jenjang Nadira yang sudah terekspose sempurna. Rambut yang di ikat tinggi bak ekor kuda, Bibir ranumnya serta kedua mata indah itu terus membuat tatapan Devano enggan untuk beralih dari sana.
Devano mengambil nafas dalam, Mencoba menstabilkan jantungnya yang sudah kembali berdisko, Berjalan pelan menuju tempat Nadira. Tepat saat sudah di dekat Nadira, Devano langsung menggendong tubuh rampingnya, Saat melihat tubuh seksi Nadira membuatnya menepikan niatan awal. Devano menghiraukan pesan Dion yang mengingatkannya untuk sholat sunah sebelum melakukan malam pertama.
"Untuk kali ini tidak perlu sholat sunah dulu deh. Sepertinya tidak akan ada gangguan" batinnya sambil terus membawa tubuh Nadira menuju Ranjang.
Devano mulai mencium Nadira lembut, Ciuman itu semakin lama semakin dalam. "Kamu sudah siap kan, Sayang?" Devano ingin mematikan kembali pada Nadira. Wanita itu hanya mengangguk pelan.
Dtttttt
Dttttttt
Dtttttt
Mendengar bunyi ponsel, Mereka berdua awalnya mencoba tidak menghiraukan, Namun telpon itu terus saja berdering dan membuat Devano dan juga Nadira merasa terganggu.
"Siapa sih ganggu saja" batin Devano kesal
"Angkat dulu, Sayang. Siapa yang telfon?" Tanya Devano sambil melepaskan tubuh Nadira.
"Tidak tau, Oppa. Aku liat dulu"
Nadira mengambil ponselnya. Keningnya mengerut saat melihat sebuah panggilan yang ternyata dari pihak rumah sakit.
__ADS_1
"Dari pihak rumah sakit, Sepertinya ini ada hubunganku dengan Widia"
"Cepat kamu angkat sayang"
Nadira hanya mengangguk dan langsung mengusap tombol hijau itu.
📱:Halo selamat malam, Apa benar ini dengan nona Nadira?
📱:Selamat malam. Iya saya sendiri, Ada apa? Apa ada perkembangan soal Widia?
📱:Maaf jika saya mengganggu malam-malam. Tapi ini urgen
📱:Urgen. Apa ada hubungannya dengan Widia
📱: Nona Widia membutuhkan donor darah secepatnya. Kebetulan stok darah di rumah sakit ini sedang kosong.
📱: Memangnya golongan darahnya apa?
📱:AB-. Saya sarankan agar anda segera mencari golongan darah tersebut, Karna kalau tidak, Nona Widia bisa kehilangan nyawanya.
📱:Apa!!
Setelah itu, Nadira memutuskan sambungan telponnya, Menatap pada Devano yang sudah terlihat sangat penasaran.
"Ada apa,n Sayang? Apa ada sesuatu yang terjadi pada wanita itu?" tanya Devano pada Nadira.
Nadira mengangguk cepat"Kita harus segera ke rumah sakit, Oppa. Karna Widia membutuhkan donor darah secepatnya. Kalau sampai kita terlambat, Nanti dia bisa tidak tertolong" ujar Nadira panik.
Devano mengambil nafas panjang"Apa harus kita yang kesana? Memangnya wanita itu tidak memiliki keluarga?" tanya Devano yang terdengar sangat lirih. .
"Aku tidak tau, Yang aku tau Widia di sini hanya bersama dengan Nathan. Sudah jangan banyak bicara, Lebih baik sekarang ganti baju kita cepat ke rumah sakit"ucap Nadira dan langsung bangun dari duduknya. Langkahnya terhenti saat suara Devano menerpa indra pendengarannya.
"Apa itu artinya kita gagal malam pertama?" tanya Devano.
"Astaga, Oppa. Di saat urgen seperti ini masih memikirkan malam pertama" balas Nadira sambil menepuk jidatnya.
__ADS_1