
Setelah satu minggu lebih di rumah sakit, Akhirnya Daniel membolehkan Widia untuk pulang. Selain kondisinya yang memang sudah baik-baik saja, Widia juga sudah merasa bosan di rumah sakit.
"Biar saya antar, Widia" kata Daniel sambil menatap Widia yang sudah membereskan barang-barangnya.
Mendengar suara Daniel membuat Widia membalikkan tubuhnya"Tidak usah repot-repot, Daniel. Biar aku naik taksi saja" balasnya sambil menoleh pada Daniel yang sudah berdiri di depannya.
"Tidak apa-apa. Saya sama sekali tidak merasa di repot kan. Ini juga sekalian saya mau pulang, Karna jam kerja saya juga sudah selesai" balas Daniel sambil tersenyum.
Widia tak langsung menjawab, Wanita itu terdiam untuk beberapa saat, Dan setelah cukup lama terdiam, Akhirnya Widia mengiyakan tawaran Daniel untuk mengantarnya pulang ke apartemen.
"Baiklah, Tapi sebelumnya terimakasih ya, Daniel. Karna kamu sudah mau mengantarku"
"Tidak masalah. Apa kita pulang sekarang?" tanya Daniel lagi. Widia hanya mengangguk tanpa menjawab lagi.
Mereka berdua keluar dari ruangan rawat inap Widia secara beriringan"Maaf, Daniel. Aku harus ke administrasi dulu, Soalnya biaya rumah sakitnya belum sempat aku bayar" kata Widia di sela langkahnya.
"Tidak perlu, Karna saya sudah membayar semua biaya tagihannya. Oh iya, Apa saya bisa minta tolong, Widia" Daniel menghentikan langkahnya sambil menatap pada Widia yang sudah mengerutkan kecil keningnya"Minta tolong? Memangnya kamu mau minta tolong apa, Daniel?" balas Widia sambil menatap pada Daniel.
Daniel tak langsung menjawab, Pria itu masih terdiam dan memikirkan bagaimana caranya mengatakannya pada Widia. Karna permintaan Fika yang selalu mendesaknya untuk membawakannya calon mama. Sedangkan hingga detik ini Daniel sama sekali tidak bisa melupakan Widia, Widia masih menjadi satu-satunya wanita yang berhasil mengambil hatinya. .
"Daniel, Kenapa kamu diam saja?" tanya Widia karna Daniel hanya diam tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Tolong bantu saya untuk kali ini saja, Widia. Karna saat ini saya sedang ada di situasi yang sangat sulit" Daniel menunjukkan raut wajah sendunya. Apalagi di saat teringat akan perkataan Fika malam tadi. Membuat Daniel dengan sangat terpaksa meminta bantuan pada Widia.
"Kamu berada di situasi yang sulit. Cepat katakan, Apa yang harus aku lakukan untuk membantumu, Daniel. Tapi maaf, Kalau soal keuangan aku tidak bisa membantu, Soalnya kamu tau sendiri bukan, Untuk saat ini aku sudah tidak punya banyak uang, Apalagi setelah perceraianku dengan Nathan, Bedebah itu sama sekali tidak memberikan harta Gono gini sedikitpun. Sehingga mau tidak mau aku harus mencari pekerjaan dan membuatku di ganggu para pria brengsek itu" kata Widia yang terlihat kesal.
__ADS_1
"Apa kamu mau berpura-pura menjadi mama dari anakku. Ah maksudnya, Anak angkat ku" Kata Daniel pada Widia.
"Sebentar, Anak angkat? Kenapa kamu harus meminta aku untuk berpura-pura menjadi mamanya, Memangnya istrimu kemana?" Widia memang mengira jika Daniel sudah menikah. Apalagi setelah mendengar Daniel menerima telfon dari Fika hari itu.
"Iya, Anak angkat. Karna sebenarnya Fika bukan anak kandungku, Dia hanyalah anak panti yang saya adopsi satu tahun yang lalu" terang Daniel pada Widia.
DI TEMPAT LAIN
"Lepaskan! Lepaskan aku! Sebenarnya kalian ini siapa? Apa mau kalian" kata Nadira sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman pria yang ada di hadapannya.
"Diaamm!!! Kalau kamu masih berisik, Saya tidak akan segan-segan untuk membunuhmu saat ini juga" balas Pria itu sambil menatap tajam pada Nadira. Membuatnya merasa sangat ketakutan.
"Oppa, Aku mohon tolong aku" batin Nadira lirih.
Beberapa saat yang lalu, Setelah kepergian kedua orang tuanya, Nadira memang memutuskan untuk melakukan olahraga pagi di taman yang ada di samping rumahnya. Namun tiba-tiba saja ada sebuah pesan masuk yang ternyata dari nomot Bella.
Nadira yang awalnya ingin berolah raga akhirnya mengurungkan niatnya, Wanita itu kembali masuk ke dalam rumahnya dan mengganti pakaiannya cepat. Kali ini Nadira menggunakan mobil miliknya sendiri. Karna rasa khawatir yang begitu berlebihan terhadap Bella, Membuat Nadira melajukan mobilnya di atas rata-rata. Hingga hanya memerlukan waktu 35 menit untuk sampai di tempat itu.
Setelah sampai di alamat yang dikirim oleh Bella, Nadira menghentikan mobilnya, Wanita itu langsung masuk ke dalam rumah di sana.
"Bella, Kamu dimana Bella" panggil Nadira saat sudah sampai di dalam rumah itu. Rumah dengan pintu terbuka namun terlihat sangat sepi, Seperti tidak ada satu orangpun di sana. Apalagi Bella.
"Bella, Kamu masih di sini kan?" panggil Nadira lagi, Namun tetap tidak ada sahutan sedikitpun. Membuat Nadira menatap setiap sudut rumah itu.
"Kemana Bella, Ya? Apa dia sudah pergi, Apa lebih baik aku telfon dia saja" kata Nadira sambil membalikkan tubuhnya dan hendak keluar dari rumah itu. Karna memang kebetulan ponselnya masih ada di dalam mobil.
__ADS_1
Namun tiba-tiba saja, Ada beberapa orang bertubuh besar yang baru saja masuk ke dalam rumah itu, Membuat Nadira mengerutkan keningnya. Biarpun takut, Tapi Nadira berusaha untuk bersikap biasa saja.
Sedangkan beberapa orang itu, Saat melihat keberadaan wanita cantik di sana, Membuat mereka saling lirik"Wiihh ada mangsa bening nih. Hai cantik. Cari siapa ke sini?" tanya salah satu dari mereka sambil mendekat pada Nadira.
"S-saya mencari teman saya, Namanya Bella" balas Nadira dengan ragu-ragu.
Mendengar jawaban dari Nadira membuat mereka kembali saling lirik"Nona cantik, Di sini tidak ada yang bernama Bella. Dari pada mencari orang yang tidak ada, Bagaimana jika kamu temani kita saja. Kita bersenang-senang. Bagaimana?" kata salah satu dari mereka.
"Ide bagus. Kita senang-senang nona cantik" timpal satunya.
Nadira yang mendengar itu membuatnya berjalan mundur, Saat melihat beberapa orang bertubuh besar, Membuatnya seketika merasa sangat takut. Tubuhnya gemetar, Serta keringat dingin mulai keluar dari pelipisnya.
Salah satu dari mereka memberikan kode untuk menutup pintu utama, Memastikan agar Nadira tidak bisa keluar dari sana.
"Saya mohon, Tolong jangan apa-apain saya. Saya mohon" ujar Nadira yang terdengar sangat lirih.
"Nona manis. Tenanglah, Kami hanya akan mengajakmu bersenang-senang. Jangan takut seperti itu, Sayang" ucap salah satunya sambil menarik tangan Nadira. Pria itu berniat untuk mencium Nadira, Namun Nadira langsung menendangnya dan membuatnya seketika menatap tajam kearahnya.
"Waah berani-beraninya wanita ini. Hei kalian, Pegangin dia. Pastikan wanita ini diam. Dia sudah sangat berani melakukan hal ini kepadaku" Pria yang tadi Nadira tendang terlihat sangat marah. Dua orang sudah memegang tangan Nadira. Dan satu di antara mereka kembali mendekat pada Wanita itu.
"Tolong jangan apa-apain saya, Saya mohon" kata Nadira yang terdengar sangat lirih.
"Ini sudah menjadi konsekuensi karna kamu sudah sangat berani menendang ku. Pegangin tangannya, sepertinya wanita ini perlu di kasih pelajaran" ucap pria itu sambil terus mendekat. Membuat Nadira memejamkan kedua matanya.
"Oppa, Tolong aku, Tolong selamatkan aku dari para bajingan ini. Aku mohon tolong aku, Oppa, Hanya kamu satu-satunya orang yang aku harapkan saat ini" batin Nadira sambil memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
Wanita itu benar-benar takut jika orang yang ada di sekelilingnya saat ini melakukan hal yang sama sekali tidak pernah Nadira bayangkan.