
"Bagaimana? Apa Devano masih suka menyulitkan mu?" tanya Reza sambil menatap Pada Nadira yang duduk di samping Devano
"Sudah biasa Kan, Pak. Tiada hari tanpa menyulitkan ku" jawab Nadira sambil melirik pada Devano yang sejak tadi menatapnya. Pria itu memperhatikan Nadira yang malam ini terlihat sangat istimewa.
Risa hanya diam saja. Wanita itu memperhatikan Devano yang masih terus menatap Nadira tanpa mengedipkan kedua matanya. "Penguntit atau Istri" ujarnya yang seketika langsung membuat Devano serta Reza menoleh ke arahnya.
Reza yang mendengar itu tentu saja mengerutkan kecil keningnya. Istri? Apa maksud dari perkataan Risa. Karna yang Reza tau adalah, Nadira asisten pribadi Devano sekaligus penguntit yang dia bayar untuk memperhatikan Ratna. Serta bagaimana kelakuan Ratna.
"Wait. Penguntit atau Istri? Ya tentu saja Nadira adalah penguntit bayarannya Devano. Benar begitu kan, Dev? Lagian kalo calon istrinya Devano adalah Ratna" balas Reza sambil menoleh pada Risa
"Oh ya" Risa melirik pada Devano yang sudah terlihat sedikit tidak mood saat mendengar nama Ratna.
"Jangan pernah sebut-sebut nama wanita ****** itu lagi, Reza. Karna dia bukan lagi siapa-siapa" balas Devano
Perkataan Devano semakin membuat Reza terlihat bingung. Sebenarnya apa yang sudah terjadi? "Apa maksudmu, Dev. Ratna bukan lagi siapa-siapa mu? Sepertinya aku ketinggalan banyak berita"
"Hmmm, Nanti akau gue ceritakan. Tapi bukan di sini"
"Baiklah"
Di saat mereka masih berbincang, Tiba-tiba saja ada beberapa pelayan yang membawa makanan serta minuman ke meja mereka.
Sejenak Devano terdiam. Pria itu memperhatikan minumannya sendiri. Hingga perkataan Nathan berhasil terngiang begitu saja.
Berhati-hatilah. Karna Adam sudah memiliki rencana licik agar bisa menghancurkan keluargamu.
Kata-kata itu membuat Devano melirik pada minuman Risa. Hingga Devano menemukan akal yang akan membuat hal yang sebaliknya terjadi.
Baiklah, Adam. Kita lihat saja apa yang akan terjadi malam ini. Jika kamu tidak menganggap ku keluarga, Maka aku pun juga bisa melakukan hal yang serupa.
__ADS_1
"Risa, Sepertinya minumanmu lebih enak, Apa boleh di tukar dengan milikku. Aku sudah bosa sama jus jeruk, Sesekali aku ingin jus stroberi" pinta Devano pada Risa.
"Ohh tentu, Jika memang kamu menginginkannya, Kenapa tidak" balas Risa sambil memberikan jus miliknya pada Devano.
Hal itu membuat Devano tersenyum. Cukup di sayangkan, Karena wanita sebaik Risa menjadi anak dari orang yang begitu penuh dengan obsesi.
"Maafkan aku, Risa. Sebenarnya aku terpaksa melakukan hal ini, Aku melakukan ini hanya untuk membuat papamu sadar, Jika uang bukanlah segalanya. Aku ingin dia mengerti, Jika keluarga lebih berarti dari pada kekuasaan" batin Devano sambil menatap pada Risa.
"Thanks" ucapnya sambil tersenyum pada Risa.
Setelah itu, Mereka meminum minumannya masing-masing. Begitu juga dengan Risa yang ikut meminum minuman yang sudah Devano tukar.
"Selamat menikmati" kata Devano sambil terus minum. Namun tatapannya terus fokus pada gelas yang ada di tangan Risa.
Entah apa yang akan terjadi padamu setelah ini, Risa. Tapi ini bukan kemauanku, Melainkan papamu sendiri.
Devano hanya bisa membatin. Sebenarnya ada rasa kasihan dari dalam benaknya. Karna ulah papanya, Risa yang akan menjadi korban malam ini.
Semakin lama rasa panasnya semakin menjalar. Membuat Risa berlari dari tempat itu lalu membuka baju dan langsung masuk ke dalam kolam renang.
Devano, Nadira serta Reza yang melihat ekspresi aneh dari Risa membuat mereka terus menatapnya. Mereka semakin merasa penasaran saat tiba-tiba saja melihat Risa bangun dari duduknya.
"Mau kemana dia?" Kata Nadira sambil menoleh pada Risa yang sudah berlari ke arah kolam.
Belum sempat Devano dan Reza menjawab, Mereka sudah mendengar suara dari arah kolam renang.
Byuurrr
Suara itu membuat semua orang menoleh pada arah kolam. Di mana di sana sudah menampakkan sosok Risa yang menyebut hanya dengan menggunakan daleman saja.
__ADS_1
Hal itu tentu saja membuat Risa jadi bahan tontonan semua orang. "Wah, Ada apa dengan gadis itu? Kenapa malah berenang di cuaca dingin seperti ini. Terlebih lagi hanya menggunakan daleman saja. Apa dia sudah tidak punya rasa malu. Benar-benar memalukan" ucap salah satu orang di sana.
"Iya, Coba anda lihat. Dia bahkan tidak perduli dengan adanya banyak orang. Ini kan acara formal. Memalukan sekali ya" timpal satunya.
Adam dan Melati yang belum tau jika yang jadi bahan tontonan semua orang adalah anaknya, Mereka hanya diam saja sambil terus menikmati hidangan di sana. Terlebih lagi Adam. Pria itu sudah tersenyum miring karna berfikir jika yang saat ini menjadi bahan tontonan serta omongan orang adalah Devano atau Nadira.
"Sepertinya rencanaku berjalan dengan lancar. Semoga saja para reporter itu meliput semuanya. Saya sudah tidak sabar ingin melihat hancurnya reputasi keluarga Wardana" batin Adam sambil tersenyum miring.
Tak berselang lama, Ada beberapa orang suruhannya yang berjalan ke arahnya. Melihat orang-orang itu membuat Melati mengerutkan keningnya.
Melati menoleh pada Adam yang masih terlihat biasa saja sambil terus menikmati makanannya. Pria paruh baya itu sudah mengira jika malam ini rencananya berjalan sesuai dengan apa yang dia harapkan, Tapi nyatanya, Semua terjadi di luar ekspektasi yang sudah dia bayangkan.
"Tuan" ucap salah satu dari mereka.
Suara itu berhasil membuat Adam tersadar, Adam menoleh pada kedua anak buahnya dengan kedua sudut bibit terangkat. Awalnya dia berpikir jika kedatangan mereka akan mengabarkan berita bahagia. Namun nyatanya semua itu hanya ada dalam bayangan Adam. Karna malam ini, Yang hancur bukan keluarga Wardana, Melainkan keluarganya sendiri.
"Ya, Apa yang mau kalian sampaikan. ini pasti tentang keluarga Wardana, Bukan. Bagaimana? Apa keluarga itu sudah kehilangan reputasinya?" tanya Adam sambil menoleh pada kedua orang suruhannya.
Mereka tak langsung menjawab, Masih menundukkan wajahnya."Kenapa kalian diam saja?" ujar Adam lagi yang sudah terlihat sangat penasaran.
"Mohon maaf, Tuan. I-itu"
"Bicara lah yang jelas. Jangan hanya i-itu itu" balas Adam sambil menatap mereka dengan tatapan aneh.
"Itu nona sedang menjadi tontonan semua orang, Tuan"
Betapa terkejutnya Adam saat mendengar kalimat yang baru saja terlontar dari anak buahnya. Semuanya benar-benar berjalan di luar nalar.
"Apa!! Bagaimana bisa?'
__ADS_1
Adam langsung bangun dari duduknya. Begitu juga dengan Melati. Mereka berdua berjalan beriringan menuju kolam. Tempat dimana Riss sudah menjadi bahan tontonan.
"Kurang ajar, Kenapa bisa jadi seperti ini. Sama sekali tak sejalan dengan apa yang saya pikirkan!" ucap Adam di sela langkahnya