
"Ingat, Kak. Dia wanita yang mudah rapuh, Mudah terluka, Mudah kecewa dan mudah memaafkan. Tapi biarpun mudah memaafkan, Nadira tidak akan pernah mau mengulang bersama kembali"Ujar Bella pada Devano sambil menepuk pundaknya kakak sepupunya.
"Iya, Bella. Kakak tau itu, Kakak janji, Mulai malam ini tidak akan pernah membuatnya kecewa, Membuatnya merasa luka, Membuatnya merasakan hal yang tak seharusnya di rasakan. Aku akan menjadikannya ratu seperti semestinya. Karna jujur saja, Aku sudah sangat mencintainya, Walaupun aku sendiri tidak tau sejak kapan perasaan ini ada" gumam Devano pelan.
Bella tersenyum mendengar perkataan Devano, Rasanya bahagia saat mendengar kalimat itu. Setidaknya Bella tau jika perasaan Nadira terbalas dan sudah sejalan dengan yang Nadira harapkan.
"Kalau begitu, Kakak buktikan seberapa besar kak Devan mencintai Nadira. Buktikan jika Nadira satu-satunya wanita yang kak Dev miliki saat ini" ujar Bella lagi.
"Iya, Dev. Kamu harus benar-benar membuktikan seberapa besar rasa cinta yang kamu miliki untuk Nadira. Aku doakan, Semoga hubungan kalian sakinah mawadah warohmah hingga jannah" ujar Dion pada Devano.
"Amiiinn"
*
*
Setelah di lakukan pemeriksaan, Ternyata golongan darah Nadira memang AB-. Sesuai dengan golongan darah Widia.
"Sudah siap untuk di ambil darahnya kan, Nona?" tanya suster yang tadi bersama dengan Nadira.
Nadira mengangguk sambil tersenyum"Sudah, Sus. Ambil saja sebanyak yang di butuhkan" balasnya.
"Baiklah"
Setelah selesai melakukan pengambilan darah. Suster tadi langsung membawa 2 kantung darah yang dia ambil dari tubuh Nadira ke ruangan ICU. Karna memang Widia sudah harus mendapatkan transfusi secepatnya.
"Dimana istri saya, Suster?" tanya Devano pada suster itu saat tidak melihat keberadaan Nadira di belakangnya.
"Dia masih di ruangan IGD. Biarkan istirahat dulu"
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Suster tadi langsung masuk ke dalam ruangan ICU, Di sana ternyata sudah ada dokter yang sejak tadi menunggu.
"Bagaimana. Apa darahnya sudah ada?" tanya dokter itu
"Sudah, Dokter. Saya sudah mengambil sebanyak yang di perlukan" balasnya sambil menyerahkan dua kantung darah itu.
"Syukurlah, Darah ini datang di saat yang tepat. Jika saja telat, Bisa saja Widia kehilangan nyawanya" kata dokter Daniel sambil terus memperhatikan Widia yang masih setia menutup kedua matanya.
Dokter Daniel mengambil nafas panjang sambil kembali duduk disampingnya, Menggenggam tangan Widia lalu menciumnya.
"Bertahanlah, Wid. Jujur saja aku masih sangat mencintaimu, Perasaaan ini masih sebesar dulu. Walaupun aku tau kamu tidak pernah menghargai bagaimana perjuanganku untuk bisa ada di titik ini" ucap Daniel sambil terus menatap Widia.
Dokter Daniel adalah salah satu sahabat Widia, Bella dan juga Nadira saat masih duduk di bangku SMA. Daniel memang sudah menyimpan rasa terhadap Widia sejak itu, Hanya saja Widia yang tidak pernah mau menerima Daniel karna sudah terlanjur terobsesi pada sosok Nathan, Kekasih Nadira. Hingga tepat setelah malam kelulusan, Widia menjebak Nathan dan membuat mereka berada dalam kamar hotel yang sama, Widia mengatakan jika Nathan sudah merenggut kehormatannya. Hingga mau tidak mau Nathan harus memutuskan Nadira.
"Kenapa saat itu kamu harus mengatakan anak yang ada dalam kandunganmu adalah anak, Nathan. Padahal aku tau, Itu adalah anakku, Darah dagingku, Widia." batin Daniel. Hal itu membuat ingatan Daniel kembali pada kejadian beberapa waktu yang lalu.
flashback beberapa waktu yang lalu
"Sudah, Widia. Kamu jangan minum lagi, Ini sudah terlalu banyak, Ayo aku antar pulang sekarang" ucap Daniel pada Widia kala itu.
"Gue gak mau, Daniel. Jangan pernah paksa gue buat berhenti minum. Karna hanya ini satu-satunya hal yang membuat gue lupa akan segalanya. Biarkan gue melupakan rasa sakit itu walaupun hanya sesaat" Widia kembali meminta agar gelasnya di isi
Daniel yang mendengar itu hanya bisa mengambil nafas panjang, Tentu saja dia tau bagaimana perasaan Widia saat ini. Daniel paham bagaimana rasanya hidup di tengah-tengah keluarga yang sedang broken home.
"Dari pada lo banyak ngomong, Lebih baik lo ikut minum. Malam ini kita party, Hilangkan semua beban yang mengganggu pikiran"
Daniel hanya diam tak menjawab sepatah katapun. Pria itu dengan terpaksa akhirnya mengambil segelas minuman beralkohol yang di berikan oleh Widia.
"Minum yang banyak, Daniel." gumamnya
__ADS_1
30 menit berlalu, Mereka berdua sudah sama-sama mabuk berat, Hingga mau tidak mau Daniel juga Widia memutuskan untuk menginap di sana.
Malam berlalu, Saat Daniel sudah membuka kedua matanya, Kedua mata itu terbelalak saat melihat dirinya sudah tidak menggunakan apa-apa. Tubuhnya polos dan bajunya berserakan di mana-mana.
"Astaga. Apa yang sudah terjadi" ucapnya sambil menoleh pada Widia yang masih menutup kedua matanya. Daniel menatap ke kasur di mana di sana ada bercak darah.
"Ya ampun, Apa semalam aku dan Widia sudah melakukan itu" gumamnya lagi.
Satu bulan berlalu, Semenjak kejadian malam itu, Widia memilih untuk menjaga jarak dengan Daniel. Wanita itu juga meminta Daniel agar melupakan apa yang sudah mereka lakukan. Daniel pun hanya bisa menurut, Hingga tanpa sengaja, Hari itu Daniel menemukan Widia yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi sambil membuang sesuatu di tempat sampah, Karna penasaran Daniel pun memutuskan untuk melihat apa yang baru saja Widia buang disana. Dan betapa terkejutnya Daniel saat menemukan sebuah testpack dengan hasil positif di sana.
"Astaga, Jangan-jangan Widia hamil karna malam itu" gumamnya pelan sambil memasukkan testpack itu di dalam sakunya.
Flashback off
"Maaf, Dokter. Apa dokter mengenalnya? Kenapa sejak tadi saya perhatikan sepertinya dokter sangat sedih melihat keadaan wanita ini" tanya suster tadi yang sejak tadi memperhatikan Daniel.
Mendengar itu membuat Daniel mengangkat wajahnya dan menoleh pada suster itu"Dia teman saya" balas Daniel.
Setelah mengatakan hal itu, Dokter Daniel keluar dari dalam ruangan ICU.
"Loh, Daniel. Kamu Daniel temen SMA ku kan?" tanya Bella saat Daniel sudah tiba di luar.
Daniel tak langsung menjawab, Pria itu masih terdiam sambil terus memperhatikan Bella"Bella, Kenapa kamu ada di sini?" tanya Daniel pada Bella
"Kamu beneran Daniel? Wah sudah jadi dokter saja. Iya aku kesini karna ikut Nadira"
"Iya ini aku Daniel. Nadiera, Memangnya Nadira juga ada di sini?"
"Heem. Bahkan dia juga orang yang sudah mendonorkan darah pada Widia yang tidak tau diri itu"
__ADS_1
"Hah, Jadi"
"Iya, Nadira yang sudah memberikan darahnya untuk wanita itu"