
"Beneran sakit, Mom? Kenapa di video yang aku lihat mereka menyukainya," tutur Arra dengan raut wajahnya yang tampak takut.
"Karena enak, ah sudalah, nanti kamu juga akan merasakannya. Yang pasti, jangan tunjukkan ekspresi sakitmu di depan Simone. Kalau sampai itu terjadi, Mommy yakin dia akan menundanya," pikir Mommy Ziva yang sepertinya tak sabar ingin menimang seorang Cucu.
"Jadi, kalau sakit aku harus menahanya?" tanya Arra polos.
"Jangan, minta pelan-pelan saja," ajar Mommy Ziva.
"Baiklah, Mommy. Aku sudah mengerti sekarang," balas Arra bersemangat.
"Ya sudah, kalau begitu Mommy akan keluar dan memanggil Simone. Kamu berbaringlah," titah Mommy Ziva dan Arra pasrah melakukan apa pun sesuai keinginan Sang Mommy.
Setelah kepergian Sang Mommy, Arra bangkit dari posisi baringnya. Kemudian langsung melepaskan jubah mandi dengan tersenyum smirk.
"Kak Simone pasti suka kalau langsung aku suguhkan dengan tubuh yang seksi. Aku akan membuatnya bangga sudah mengambil pilihan untuk menikahiku," pikir Arra langsung berbaring dengan posisi persis seperti wanita seksi yang ada di video yang dulu dirinya tonton.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar tak kunjung terbuka, Simone tak juga menunjukkan batang hidungnya. Arra menguap kala rasa ngantuk mulai menyerang. Merasa bosan menunggu kedatangan Sang Suami, Arra pun terlelap tanpa sadar dengan posisi seksi itu.
Tepat setelah Arra telah mengarungi dunia mimpinya, saat itu pula pintu mulai berderit pelan. Dan munculah sosok Simone yang terlihat berjalan perlahan menuju ranjang, cukup lama Simone menatap Arra penuh nafsu. Tak ingin menggangu istirahat Arra, Simone memilih menyingkirkan nafsunya.
__ADS_1
Simone naik ke atas ranjang dengan begitu perlahan, karena tak ingin membangunkan Arra yang tidur begitu pulas. Tak ingin Arra masuk angin, Simone juga menarik selimut tebal dan langsung menyelimuti tubuh seksi Arra yang hanya berbalut lingerie kurang bahan, yang menampakkan semua bagian sensitif di tubuhnya.
Simone menarik napas lega ketika telah berhasil menyelimuti tubuh Arra, yang sebelumnya sukses membuat senjatanya berdiri tegap. Beruntung Simone masih sanggup mengendalikan dirinya. Setelah semua sudah beres, Simone pun berbaring membelakangi Arra.
Baru saja Simone menutup matanya, pria matang berusia tiga puluh empat tahun itu kembali diuji nafsunya, ketika Arra menendang selimut di tubuhnya, kemudian memeluk Simone dari belakang dengan begitu eratnya.
Bila Simone berusaha meredakan nafsu, maka berbeda dengan pikiran dan respon tubuhnya. Lihatlah senjata pusakanya di bawah sana kembali berdiri sempurna kala merasakan ada dua benda kenyal yang menghimpit tubuh bagian belakangnya, membuatnya merinding kala hasrat terus menggelora.
Perlahan Simone menyingkirkannya kaki dan tangan Arra dari atas tubuhnya. Setelah berhasil, Simone memutuskan untuk pergi dan memilih tidur di sofa.
Namum, sebelum pergi tak lupa Simone menutupi tubuh seksi Arra lebih dulu. Arra sedikit bergerak menyampingkan tubuhnya. Simone mengelus dada karena ternyata Arra tidak bangun.
"Arra!" panggil Simone yang dibuat panik, ketika melihat Arra yang kini menangis histeris sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Jangan sentuh aku!" teriak Arra langsung menepis tangan Simone yang ingin menyentuh dirinya.
"Ada apa, Arra? Jelaskan pada Kakak apa yang terjadi? kenapa kamu menangis?" tanya Simone dengan raut wajah khawatirnya.
"Karena Kakak! Aku menangis karena Kakak!" jawab Arra berteriak.
__ADS_1
"Arra, apa kamu marah karena Kakak tidur di sofa?" Arra mengangguk sambil menyeka air matanya, membuat selimutnya turun dan kembali memperlihatkan bagian atas tubuh indahnya.
"Ya sudah, Kakak akan tidur di ranjang bersamamu. Ayo kita tidur," ajak Simone langsung naik ke atas ranjang.
Simone mengerutkan dahinya heran kala Arra menolak ketika diajak berbaring.
"Apa Kakak tidak menyukai tubuhku? Apa aku kurang seksi? Kurang cantik? Kenapa Kakak tidak menyentuhku? Ini malam pertama kita."
"Itu karena Kakak tidak ingin mengganggu istirahatmu, Arra."
"Sekarang aku tidak lagi beristirahat." balas Arra.
"Kamu mau?" tanya Simone membuat Arra langsung mengangguk cepat.
"Baiklah, mari kita lakukan."
*
*
__ADS_1
*