Terjerat Ranjang Hangat Si Culun Seksi

Terjerat Ranjang Hangat Si Culun Seksi
Bab 34 ~ Bertamu


__ADS_3

Sore itu, tepatnya di ruangan seorang CEO yang paling ditakuti di perusahaan TB Grup, siapa lagi CEO itu kalau bukan Dusan Atlemose.


"Sialan! Apa dia tidak pernah merindukanku sama sekali?" tanya Usan pada dirinya sendiri.


Namun, malah dijawab oleh Sekretaris Evan. "Sepertinya tidak, Tuan." Hal itu tentu membuat Usan murka. "Apa aku bertanya kepadamu?" bentak Usan.


"Selain Tuan, hanya ada saya di ruangan ini."


"Sialan, pergi saja kau!" usir Usan dengan membentak kesal.


"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi," pamit Sekretaris Evan, tapi Usan tak peduli. Pria bertubuh kekar berwajah rupawan itu tampak terus memperhatikan ponselnya, berharap Sang Kekasih menghubunginya walau sekali saja.


Derrrtt ....


Ponselnya bergetar, tanpa melihat nama yang tertera di layar, Usan langsung mengangkatnya.


"Hallo kau—"


"Pulanglah." potong seseorang di seberang sana membuat Usan terdiam, lantaran kecewa karena ternyata panggilan yang masuk bukanlah dari Asha, melainkan dari Daddy Lolan.

__ADS_1


"Masih ada beberapa berkas yang harus aku tanda tangani, Daddy," ujar Usan menolak dengan memberikan alasan tak kuat.


"Serahkan saja kepada Sekretaris Evan, sekarang juga pulanglah! Daddy tunggu." tekan Daddy Lolan langsung memutuskan panggilan tanpa mendengar penjelasan Usan lebih dulu.


Sore mejelang malam itu, Usan pun pulang menuju rumahnya dengan menggunakan mobilnya. Kali ini, dia sendiri yang menyetir mobil karena Sekretaris Evan tak bisa ikut pulang setelah dia berikan banyak tugas.


Ketika melewati Dash Boutique, Usan mengurangi kecepatan mobilnya sekaligus mengalihkan setelan agar mobilnya dapat menyetir sendiri, sedangkan dirinya memperhatikan gedung cukup tinggi di sampingnya.


Ketika melihat sesuatu yang cukup mencurigakan baginya, Usan langsung menginjak rem mobil. "Bukankah, bukanlah pria itu adalah pria yang Daddy suruh cari dan tangkap. Benar, tidak salah lagi, aku harus segera mengejar dan menangkapnya! Tunggu ... tidak, aku tidak boleh terburu-buru. Lebih baik aku ikuti perlahan, lalu siapkan rencana untuk menangkapnya nanti."


Usan mengurungkan niatnya untuk mengejar pria berpakaian serba hitam yang sangat misterius itu. Pria misterius itu sebelumnya berada di depan Dash Boutique dan terus menatap ruangan Asha yang ada di atas sana.


Menyadari keanehan itu, Usan pun berpikir keras kenapa pria itu berada di depan Dash Boutique dengan gerak gerik yang begitu mencurigakan. Usan mengikuti mobil tanpa plat nomor polisi itu dengan kecepatan biasa, dia tak ingin membuat pria misterius itu curiga sedikit pun kepada dirinya dan berakhir kehilangan jejak.


Ponselnya kembali bergetar, dengan malas Usan mengkat panggilan itu.


"Hallo, ada apa?" sapa Usan asal.


"Ini aku."

__ADS_1


Ckitt!


Usan kembali menginjak rem mendadak saking senengnya kala mendapat panggilan dari Asha, panggilan yang dia tunggu-tunggu sedari tadi.


Dengan hati yang berbunga-bunga Usan langsung akan bertanya begitu banyak hal dengan semangat. Namun, pria yang tengah jatuh cinta itu seketika berdehem lalu mengubah raut wajahnya menjadi dingin kembali. Sepertinya dia tak ingin terlihat bahwa dia sangat merindukan wanita yang kini masih menjadi kekasihnya itu.


"Ada apa?" tanya Usan singkat.


"Bisakah datang ke rumahku sebentar, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," pinta Asha dengan suara yang terdengar begitu lembut di telinga Usan, membuatnya mengulum senyum. Tapi, dia tak ingin mengubah image dinginnya.


"Kenapa tidak kamu saja yang datang ke rumahku. Kau tahu, Sayang. Kalau seorang pria ke rumah Kekasihnya, maka suguhannya adalah tubuhmu, apa kamu siap?" goda Usan berusaha mencari keuntungan.


"Kalau tidak bisa, yasudah," sahut Asha langsung memutuskan panggilan, membuat Usan tercengang beberapa detik.


"Dia benar-benar berbeda," Usan tersenyum kecil, lalu langsung tancap gas menuju kediaman Asha. Saking bahagianya, Usan melupakan perintah Sang Daddy yang memintanya pulang, dan juga melupakan ada sesosok pria misterius yang tadinya ingin dia ikuti.


Tak butuh waktu lama untuk Usan tiba di Mansion Asha. Tiba di sana, Usan langsung masuk ke dalam rumah Asha. Pelayan yang tahu siapa dirinya, tentu saja memberinya izin begitu saja. Tak sabaran, Usan langsung masuk ke dalam kamar Asha tanpa mengetuk pintu ataupun memanggil Asha lebih dulu.


Mendengar suara kucuran air dari dalam kamar mandi, Usan tersenyum kegirangan. Dia mengira Asha sengaja mandi sebagai persiapan untuk menyambut kedatangannya.

__ADS_1


Penasaran, Usan mendekati pintu kamar mandi. Tak disangka pintu tak dikunci oleh sang pemilik. Lagi dan lagi Usan mengira bahwa Asha sengaja melakukannya.


Usan mendorong pintu kamar mandi perlahan dan ....


__ADS_2