
"Kamu siapa?" tanya Usan menatap Asha bingung. Sedangkan Mommy Ziva langsung menatap Dokter Xean seakan bertanya apa yang terjadi kepada Putranya? Tidak mungkin Usan mengalami Amnesia. Mommy Ziva dibuat bingung lantaran Dokter Xean malah memberi isarat dengan tangannya seakan mengatakan kalau Usan baik-baik saja.
"Aku Asha. Kamu melupakanku?" ekspresi Asha mendadak panik kala pikirannya menebak bila Usan mengalami Amnesia.
"Tentu saja aku tahu kamu Asha," jawab Usan sambil menyunggingkan senyuman mematikan di bibirnya yang masih terlihat pucat.
"Tadi kamu bertanya siapa aku?" balas Asha menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, aku memang bertanya kamu siapa? Masih kekasihku atau calon Istriku?" terang Usan membuat Asha tercengang dengan mulut yang terbuka lebar. Usan menatap Asha gemes.
Sementara Mommy Ziva menganggukkan kepalanya pada Dokter Xean, kala sudah mulai paham situasinya. Mommy Ziva terlihat senang melihat Usan yang tampak begitu berbeda dengan Usan yang dulunya terlihat menakutkan dengan wajah yang suram bila ditatap. Berbeda dengan Usan yang kini ekspresinya terlihat sangat berwarna, lebih bersinar, lembut, dan hangat. Mommy Ziva senang akan hal itu, kehadiran Ziva membawa dampak positif untuk Putranya tercinta.
Diam-diam Mommy Ziva dan Dokter Xean keluar dari ruang rawat Usan, keduanya kompak meninggalkan Asha dan Usan guna memberikan waktu untuk keduanya menyelesaikan urusan pribadi mereka masing-masing.
Asha menggelengkan kepala untuk menyadarkan dirinya dari lamunan. Usan hanya mengulum senyum melihat tingkah imut Asha.
"Asha, kamu mau, kan, meni—"
__ADS_1
"Sudah aku ingatkan untuk tidak melamarku tanpa suasana yang romantis," potong Asha, yang seketika langsung protes saat Usan akan kembali mengucapkan kata yang mampu membuat hatinya berdegub tak beraturan.
"Wanita ini, aku sudah hampir mati tapi dia tetap saja masih dingin," batin Usan mengeluh.
"Kalau romantis kamu akan menerimaku?"
"Belum tentu." Usan menghela napas mendengarnya.
Usan tak lagi bertanya, dia beringsut pelan sambil memegang lembut perutnya yang tentu terasa nyeri.
"Tunggulah sebentar."
*Aku akan meminta Dokter Xean memberikanmu obat pereda nyeri," Asha tak tega melihat Usan yang terlihat kesakitan.
"Tidak perlu, Sayang. Aku masih sanggup menahannya."
"Tapi—"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kemarilah," kata Usan meminta Asha untuk duduk di sebelah ranjangnya. Asha pun menurut patuh.
"Bisakah usap keningku agar nyerinya sedikit berkurang," mendengar permintaan Usan, Asha langsung memijit pelan kening Usan, walau sedikit heran apakah nyeri di perut bisa berkurang bila memijit pelan kening.
Beberapa saat kemudian, Mommy Ziva masuk dengan membawa sarapan untuk Usan yang belum makan apa pun sedari kemarin. "Usan Sayang, apa kamu sudah buang angin?" tanya Mommy Ziva mendekat.
"Sudah," jawabnya dengan raut wajah yang aneh.
"Ya sudah, ayo Mommy suapkan makan," Mommy Ziva duduk di samping Usan.
"Biar aku saja," pinta Asha dan Mommy Ziva memberikannya dengan senang hati. Melihat Putranya begitu bahagia, Mommy Ziva pun langsung keluar dari ruang rawat karena tidak ingin mengganggu.
Usan melahap habis makanan yang terus Asha suapkan kepadanya. "Asha, aku tahu kamu mencintaiku." Asha terdiam membeku.
"Tentang Lorix, aku sudah mengenalnya lama dan sekarang aku sudah mengingatnya. Dia punya seorang wanita yang tidak bisa kamu gantikan posisinya," terang Usan yang sudah mengingat dan mengetahui seperti apa Lorix sebenarnya dan siapa pemilik hatinya.
"Tetap saja kita tidak bisa bersama, Usan. Kamu tahu sekejam apa Nenek Lore, bila menyakitiku bahkan bila ingin membunuhku sekali pun tidak masalah. Tapi bagaimana kalau dia membunuh Pu—" Asha berhenti bicara.
__ADS_1
"Pu?" Usan terlihat penasaran.