
Keesokan harinya, seperti biasa Usan bangun lebih dulu untuk bersiap-siap berangkat bekerja. Setelah dirinya siap, barulah Usan mencoba membangunkan Asha yang masih terlelap begitu pulas. Sebenarnya Usan tak tega membangunkan Asha dalam kondisinya yang kurang baik. Namun, akan sangat berbahaya bila seseorang curiga dan mengetahui pernikahannya dan Asha.
Hanya beberapa kali tepukan lembut di pipi, Asha pun langsung membuka kedua matanya. "Tidak adil, seharusnya aku yang rapi dan cantik lebih dulu," kesal Asha langsung bangkit, menghentakkan kaki, lalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Astaga, kenapa dia begitu cantik. Apakah semua wanita di dunia ini tetap terlihat ketika bangun tidur?"
***
"Ini gara-gara Kak Simone, lihat rambutku menjadi rambut singa," kesal Arra yang bangun dengan rambut yang berantakan. Itu sudah menjadi kebiasaannya, siapa pun yang membangunkannya pasti akan menjadi sasaran amukannya, dan Simone sudah biasa akan hal itu.
Simone yang telah rapi dengan pakaian kerjanya, menuntun Arra hingga tiba di kamar mandi. Setelahnya, Simone langsung keluar dari kamar mandi, kemudian menyiapkan pakaian untuk Istri kecilnya. "Dia sangat imut," gumam Simone.
***
Pagi itu, Usan dan Asha turun menuju ruang makan mendahului pasangan Simone dan Arra, yang kemungkinan masih sibuk dengan urusannya. Tiba di ruang makan, Mommy Ziva tercengang melihat penampilan Asha yang sangat casual dan elegan.
__ADS_1
Mommy Ziva mengenali kalau semua yang melekat di tubuh Asha saat ini adalah pakaian pria milik Usan. Mommy Ziva tak menyangka kalau Asha mampu menyulap pakaian pria menjadi busana seksi yang kini menempel sempurna di tubuh ideal Asha. Hampir saja Mommy Ziva tak dapat mengenali pakaian Putranya itu.
"Astaga, kamu cantik sekali, Asha. Usan begitu beruntung. Oh iya, bagaimana keadaanmu, Sayang?" puji Mommy Ziva.
"Terima kasih. Mommy juga sangat cantik hari ini. Keadaanku sudah lebih baik," balas Asha.
"Ayo duduklah, Sayang." Asha pun duduk di kursinya, tepat di samping Usan.
"Ayahmu sudah kembali ke luar negeri, Sayang. Katanya masih ada beberapa tahap penyembuhan yang harus dilakukan," terang Mommy Ziva membuat raut wajah Asha khawatir seketika.
"Tidak apa-apa, Asha. Ayahmu baik-baik saja. Aku yang meminta Ayahmu untuk mengecek kondisinya. Aku sudah mengirimkan orangku untuk menjaga Ayah Riol," lapor Usan menjelaskan agar Asha tak larut dalam kekhawatiran.
"Benarkah begitu? Apakah Ayahku akan baik-baik saja?"
__ADS_1
"Tentu saja, aku menjamin hal itu," sahut Usan membuat Asha menarik napas lega.
"Usan, kamu antar Asha langsung ke butiknya. Mulai malam besok kalian berdua akan tidur terpisah. Biarkan Asha di Mansionnya dan kamu di tetap di apartemen atau di rumah ini. Yang pasti, jangan temui Asha karena takutnya mereka curiga," pinta Daddy Lolan yang sepertinya sudah menyiapkan sebuah rencana. Dokter Yuna memang tidak dapat dipercaya, itu jelas karena Dokter Yuna ada di pihak Daddy Lolan.
"Baik, Daddy. Aku mengerti," jawab Usan Kemudian mengambil omelette sebegai menu sarapan kesukaannya. Sedangkan Asha tampak begitu gembira dengan perkataan Daddy Lolan. Asha senang karena benar-benar tak harus melayani Usan lebih dulu. Bukannya tidak ingin, tapi Asha merasa tak siap bila belum melihat kalau Putranya sudah baik-baik saja. Bila dipaksakan, sudah pasti dirinya akan pingsan lagi seperti sebelumnya.
Selang beberapa saat kemudian, pasangan pengantin kedua juga baru tiba di ruang makan. Arra tampak santai berada di dalam gendongan Simone.
"Wow, sepertinya kamu kalah, Usan. Lihatlah Kak Simone membuat Arra tidak bisa berjalan," bisik Asha.
"Jangan memancingku, Asha."
*
*
__ADS_1
*