
"Aku tidak bisa menunggu lagi!" jawab singa jantan langsung menerkam rubah betina.
"Aku belum mandi, Usan!" cegat Asha menahan dengan sekuat tenaga dada bidang Usan yang kekar.
"Bukankah sebelum ke sini kamu sudah mandi?" tanya Usan dengan pandangan yang sudah dipenuhi hasrat yang menggelora.
"Itu mandi biasa, aku belum member—"
"Belum membersihkan apa, Sayang? Kamu sudah sangat cantik, sangat wangi, sangat seksi, sangat sempurna. Bila kamu mau mandi lagi dan membersihkan diri lagi. Aku bisa-bisa mati, Sayang." terang Usan geram.
"Mati kenapa?" tanya Asha mengerutkan dahinya.
"Mati karena cintaku untukmu yang semakin besar," goda Usan, kemudian mendapat satu pukulan di dadanya yang bidang.
"Tetap saja aku harus mandi. Dulu, kamu bilang aku bau kalau tidak mandi," imbuh Asha mengingat masa lalu, di mana Usan meminta untuk mandi lebih dulu karena merasa bau.
__ADS_1
Usan terdiam karena merutuki sosok arogannya kepada Asha di masa lalu. "Itu dulu saat aku belum jatuh cinta kepadamu. Berbeda dengan sekarang, aku sangat mencintaimu, mau kamu berdandan seperti apa pun aku tetap akan menyukainya. Sudah, sekarang aku benar-benar sudah tidak sanggup menahannya." Usan kembali meng ukung tubuh Asha. Membuat Asha benar-benar pasrah lantaran tak lagi punya alasan untuk menolak.
Sama seperti tiga tahun lalu, Usan tak pernah berubah. Bukannya menjadi jinak, tapi dia malah semakin buas. Lihatlah bagaimana caranya memperlakukan Asha dengan tak sabaran.
Tanpa rasa bersalah, Usan melu mat bibir Asha dengan penuh nafsu tanpa memikirkan perasaan Asha. Hal itu membuat Asha kualahan mengimbangi Usan yang begitu buas.
Asha mengerti Usan begini karena sudah tiga tahun tak merasakannya. Namun, haruskah kembali mengulang masa lalu? Melakukannya sesuka hati tanpa sedikit pun kelembutan.
"U-usan, pe-pelan hemp ..." Usan kembali melu mat bibir sensual Asha. Dia melakukannya lagi dan lagi, tanpa memberikan sedikit waktu untuk Asha mengambil oksigen lebih dulu. Bukannya menikmati, Asha justru merasa kalau dirinya sama seperti seorang gadis yang tengah diper kosa.
"Usan hentikan!" teriak Asha langsung menyingkirkan Usan dari atas tubuhnya. Usan terjungkal ke samping, pria yang sudah bertelan jang dada itu kebingungan atas apa yang barusan Asha lakukan kepadanya.
"Kamu yang begini menyakitiku, Usan!" pekik Asha membuat Usan terdiam membatu lantaran menyadari kesalahannya. Sementara Asha langsung menyeka air mata yang tiba-tiba meluncur tanpa disadari. Apa yang Usan lakukan tadi, membuatnya mengingat rasa penyesalan yang sangat Asha benci.
"Maafkan aku, Sayang. Aku salah karena tidak memikirkan perasaanmu, aku tidak akan melakukannya lagi," sesal Usan meraih jemari Asha, lalu menciumnya lembut untuk meminta maaf.
__ADS_1
Melihat air mata yang mengalir dari kedua sudut mata sang istri, Usan merasa sangat bersalah. Usan menyesali keegoisannya yang hanya mementingkan diri sendiri, tanpa memikirkan apakah Asha merasa nyaman dengan apa yang dia lakukan.
"Kamu mau'kan memaafkan aku?" tanya Usan pada Asha yang kini ada di dalam dekapannya. Sedangkan Asha mulai merasa nyaman dengan pelukan hangat Usan.
Andai Usan ketahui Asha menangis bukan hanya karena perlakuan tergesa-gesanya, melainkan juga mengingat Lewis Sang Putra yang kini entah bagaimana nasibnya. Asha tak menjawab pertanyaan Usan, tapi dia menganggukan kepala sebagai jawaban.
"Terima kasih, Sayang. Aku berjanji akan melakukannya dengan lembut," ujar Usan membuat Asha merasa lega.
"Sekarang, apa boleh aku lakukan?" Asha mengangguk, karena bagaimana pun Usan berhak atasnya, karena itu adalah kewajibannya sebagai seorang Istri untuk melayani Suminya. Usan tersenyum senang karena Asha masih mengizinkannya.
Perlahan Usan mengelus pipi basah Asha, lalu membenarkan anak rambutnya yang berantakan. Setelah itu, Usan meletakkan jemarinya di bibir ranum Asha. "Apa boleh?" tanya Usan meminta izin.
"Pelan-pelan," jawab Asha mengizinkan, membuat Usan tersenyum kecil, kemudian Usan mendekat wajahnya ke wajah Asha, lalu ....
*
__ADS_1
*
*