
"Pria itu adalah Kak Simone," jawab Arra langsung menundukkan wajahnya dalam dan telah siap mendapatkan amukan amarah dari kedua orang tuanya.
Mendengar pernyataan Putrinya, pasangan itu pun tercengang dengan mata membulat sempurna dan mulut terbuka lebar. Keduanya saling tatap seraya mengerjabkan mata masing-masing.
Mommy Ziva memberi isyarat dengan anggukan kepala, meminta Sang Suami agar menjelaskan segalanya kepada Arra. Namun, Daddy Lolan malah menggeleng lalu berbisik di telinga Sang Istri, mendengar bisikan Suaminya, Mommy Ziva pun mengangguk mengerti.
Mommy Ziva mengelus punggung Arra, kemudian mengangkat wajah Sang Putri yang semula menunduk. Arra pun segera mengangkat wajahnya, Mommy Ziva kaget melihat pipi Arra yang sudah basah dipenuhi oleh air mata.
"Arra tahu perasaan ini salah, Arra tahu tidak seharusnya Arra menyimpan perasaan sedalam ini kepada Kak Simone. Tapi, Arra tidak sanggup lagi, Arra sangat mencintai Kak Simone. Arra mencintai Kak Simone sebagai laki-laki, bukan sebagai Kakak. Arra sudah dewasa, Mommy. Arra sudah dapat membedakan mana yang cinta dan mana yang bukan. Perasaan sayang Arra terhadap Kak Simone itu berbeda dengan perasaan Arra ke Kak Usan. Sangat berbeda, Arra menderita Mommy, Daddy." jelas Arra dengan tangisan yang terus mengalir deras.
"Sayang, sudahlah jangan menangis lagi. Sekarang kamu masuk ke kamar dan istirahatlah untuk menenangkan dirimu. Masalahmu dan Simone, Mommy dan Daddy butuh waktu untuk memikirkannya," jelas Mommy Ziva dan Arra pun mengangguk, kemudian bangkit dan berjalan gontai menuju kamarnya.
Setelah kepergian Arra, Mommy Ziva bertanya.
"Kamu serius?"
"Iya, Sayang. Lagian Usan juga sudah mulai berubah menjadi lebih baik, sudah saatnya dia dan Arra tahu tentang siapa Simone yang sebenarnya," balas Daddy Lolan yakin.
"Bagaimana dengan orang-orang?, apa kita juga akan mengumumkan hal ini kepada mereka? Aku takut mereka akan menghujat Simone bila tahu kalau Simone bukan Putra kandung kita," ujar Mommy Ziva memaparkan kekhawatirannya.
__ADS_1
"Tidak, itu tidak akan terjadi, Sayang. Percayalah kepadaku, aku akan melindungi Putra dan Putri kita," Daddy Lolan berusaha menenangkan Istrinya.
"Lalu, bagaimana dengan Ayah kandung Simone yang masih berkeliaran dan terus mengintai, aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada keluarga kita, Sayang."
"Tenanglah sayang, semua yang kamu takutkan, aku pastikan tidak akan terjadi," Daddy Lolan merangkul Mommy Ziva dan memeluknya dengan begitu erat.
***
"Aaaakhhh!" teriak Asha yang terkena luka tembak tepat di bagian bahu kirinya. Supir langsung menurunkan kecepatan, Asisten Via langsung bergerak cepat membantu Asha masuk ke dalam mobil. Asha pun berhasil masuk ke dalam mobil, Asisten Via memberikan penanganan pada luka tembak yang Asha alami.
Asisten Via bukanlah sembarang Asisten, kini dia menjelma menjadi seorang Dokter bedah yang begitu handal. Dengan cekatan dan rapi, Asisten Via mulai memberi sayatan pada luka tembak Asha, setelah sebelumnya dia suntikan obat bius untuk mengurangi rasa sakitnya.
Tiba di Mansion Asha, Asisten Via juga telah selesai mengeluarkan peluru dan menjahit kembali luka tembak yang Asha dapatkan.
Asisten Via membantu Asha berjalan hingga masuk ke dalam kamarnya.
"Apa sudah merasa lebih baik, Nona?" tanya Asisten Via.
"Iya, aku sudag merasa lebih baik. Maaf karena tidak mendengarkanmu sebelumnya dan terima kasih sudah datang tepat waktu, tanpa kamu mungkin aku sudah berakhir."
__ADS_1
"Santai saja Nona, menjaga dan melindungi Nona adalah tugas Saya."
"Sekarang apa Nona bisa menjelaskan siapa pria itu?" tanya Asisten memulai instrogasinya.
"Wajahnya tertutup topi, aku tidak bisa melihat jelas. Tapi, rahang tegas itu—"
"Ada apa dengan rahang pria itu?"
"Rahang tegas pria itu sangat mirip dengan rahang milik Tuan ....
*
*
*
Asha
__ADS_1