Terjerat Ranjang Hangat Si Culun Seksi

Terjerat Ranjang Hangat Si Culun Seksi
Bab 25 ~ Kejujuran vs Kebohongan


__ADS_3

"Arra, kamu bantu suapin Kakakmu, ya. Mommy mau menemani Daddy-mu makan siang. Ini makanannya untuk dua porsi, kamu ikut makan siang sama Kakakmu tidak apa, kan, Sayang?"


"Iya, Mommy. Aku akan suapin Kak Simone dan aku juga akan ikut makan siang bersamanya," jawab Arra tentu saja malah senang.


"Baguslah kalau begitu." Mommy Ziva mengelus rambut putrinya dengen penuh kelembutan.


"Xean, kamu ikut makan siang dengan Mommy, ada hal yang ingin Mommy bicarakan denganmu," lanjut Mommy Ziva mengajak Xean keluar dari kamar Simone.


"Baik, Mommy." jawab Dokter Xean.


Setelah kepergian Mommy Ziva dan Xean, kini tinggallah Arra dan Simone di dalam kamar super luas itu. "Kakak mau makan pakai apa?" tanya Arra pada Simone.


"Kamu makanlah dulu, kakak bisa makan sendiri," Simone menolak lembut.


"Kak, sebenarnya apa salahku? Kenapa Kakak menjadi dingin kepadaku? Dulu Kakak sangat hangat dan baik kepadaku, kenapa sekarang Kakak berubah?" Arra bertanya serius.


"Berikan pasta itu," titah Simone malah mengabaikan Arra, tanpa Arra sadari setetes buliran bening pun meluncur dari kedua sudut matanya.


Perlakuan Sang Kakak yang berubah begitu banyak, tentu melukai hatinya begitu dalam. Dari kecil dia sudah berusaha mengabaikan perasaan itu. Namun, semakin diabaikan semakin besar pula rasa cinta yang dia punya untuk Sang Kakak tercinta.

__ADS_1


Arra tau perasaanya salah, tapi apa yang bisa dia lakukan?, bukankah dia sendiri juga tersiksa. Cintanya benar-benar terlarang. Entah bagaimana bisa dia terjebak seperti itu, sungguh Arra tidak mengerti apa yang telah terjadi kepada dirinya.


"Jawab pertanyaan Arra yang tadi, Kak," mohon Arra sambil mengulurkan sepiring pasta dengan resep sehat kepada Simome. Simome menerimanya dengan raut wajah biasa, sedangkan Arra mengulurkannya dengan tangan bergetar karena masih menahan tangis.


"Pertanyaan yang mana?" tanya Simome pura-pura tidak tahu.


"Semenjak Arra beranjak dewasa, kenapa Kakak berubah?" kembali Arra bertanya dengan sabar.


"Semakin kamu dewasa, tingkah, perilaku dan sikap kamu semakin membuat Kakak ilfil," jawab Simone dengan santainya, sedangkan Arra merasa tubuhnya lemas seketika.


"Contohnya apa? Tingkah, perilaku dan sikap Arra yang mana—yang membuat Kakak ilfil?" tanya Arra menyeka air mata yang menetes.


"Kalau soal itu hanya reflek saja, Kak. Arra tidak suka ada yang menghina orang-orang yang Arra sayangi. Bila desainer itu menghina Kakak, Arra juga akan menamparnya," jelas Arra membela diri.


"Ya sudah, lakukanlah apa pun yang menurutmu benar," Simone semakin tak peduli.


"Arra mencintai Kak Simone."


***

__ADS_1


"Jelaskan padaku!" bentak Usan dengan api amarah begitu terlihat di wajah tampannya, matanya yang tajam dapat menusuk Asha hingga kesulitan untuk menjawab. Beruntungnya Asha sudah bisa mengendalikan dirinya.


"Tiga tahun lalu, tiga tahun lalu aku memang hamil dan bekas jahitan di perutku adalah bekas jahitan operasi cecar yang aku jalani," jawab Asha sambil menutupi tubuhnnya, seadanya.


"Di mana dia sekarang?" raut wajah Usan semakin menakutkan, tubuhnya semakin membesar kala otot-otot tubuhnya mengencang dengan sendirinya saat emosi menguasainya.


"Kamu tidak perlu tahu," balas Asha santai.


"Dia darah dagingku, maka aku berhak atasnya!" Usan mencengkram dagu Asha dengan kasar dan dengan kasar pula Asha menepisnya.


"Aku akan memberikannya kepadamu, tapi ada syaratnya," Asha menyeringai.


"Apa?"


"Lepaskan jeratanmu padaku."


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2