
Usan mendorong pintu kamar mandi perlahan, dan ponsel yang kembali bergetar membuatnya urung untuk masuk ke dalam kamar mandi. Usan pun terpaksa mundur dan duduk kembali di sofa, lalu mengangkat panggilan yang berasal dari Daddy Lolan.
"Hallo Daddy," sapa Usan pelan.
"Di mana kamu? Kenapa belum sampai?" tanya Daddy Lolan di seberang sana.
"Ada urusan mendadak yang harus aku selesaikan dulu, Daddy. Aku tidak akan lama, satu jam lagi aku akan segera pulang," jawab Usan memohon untuk diulurkan waktu, agar dirinya dapat melepas rindu bersama Sang kekasih.
"Cepatlah, awas saja kalau sampai kamu tidak pulang," ancam Daddy Lolan, seperti biasa dia langsung memutuskan panggilan sepihak. Usan menghela napas kasar, dirinya tidak akan punya banyak waktu untuk bermesraan dengan Asha, bila Sang Daddy terus memintanya untuk segera pulang. Entah apa yang diinginkan oleh Sang Daddy.
Tok, tok, tok ....
Suara pintu dari luar sana terdengar. Bukannya membuka pintu kamar yang diketuk, tapi Usan malah menatap pintu kamar mandi yang tak berubah dan masih tertutup seperti semula, walau tak dikunci. Usan mulai bangkit dan membuka pintu yang ternyata diketuk oleh seorang pelayan perempuan.
"Ada apa?" tanya Usan singkat.
__ADS_1
"Saya ingin mengantarkan pembalut dan obat tambah darah ini untu Nona, Tuan. Apakah Nona Asha ada?"
"Pembalut dan obat tambah darah?" tanya Usan mengerutkan alisnya heran.
"Iya, Tuan. Tugas saya selalu menyediakan dua benda penting ini untuk Nona. Dan hari ini adalah tanggalnya, seperti biasa saya akan mengantarkannya langsung kepada Nona Asha" jelas pelayan itu detail.
"Berikan kepadaku, aku saja yang akan mengantarnya," pinta Usan dengan raut wajah kecewanya, kecewa lantaran tak akan bisa menyentuh kekasihnya Asha. Padahal, Usan sudah menunggu selama ini. Walau sebelumnya Usan pernah berjanji tak akan menyentuh Asha.
Namun, semua itu berubah ketika Asha tak ingin terjerat dengannya. Cara satu-satunya untuk membuat Asha terjerat dengannya adalah menunjukkan keahliannya ketika bermain di atas ranjang. Bagi Usan, membuat wanitanya tak berdaya adalah kehebatannya yang tak bisa dimiliki pria lain. Sembilan kali dalam semalam, siapa yang sanggup selain dirinya. Itu adalah rekornya dan bersama dengan Asha, Usan berniat akan menggenapkan rekornya itu.
"Usan, sejak kapan kamu di sini?" tanya Asha yang mengeluarkan separuh kepalanya dari balik pintu kamar mandi.
"Barusan," jawab Usan dingin.
"Itu punyaku, tolong bawa kemari, aku membutuhkannya," pinta Asha sambil menunjuk pembalut miliknya yang berada di atas ranjang.
__ADS_1
Dengan sabar, Usan membawa dan memberikannya kepada Asha. "Terima kasih, tunggulah sebentar aku tidak akan lama," tutur Asha masuk kembali ke dalam kamar mandi, kali ini wanita itu tak lupa mengunci pintunya dari dalam.
Beberapa menit kemudian, Asha keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Usan hanya dapat menelan saliva yang tercekat, Asha tak pernah gagal membuatnya bergairah tingkat tinggi. Jika Usan tengah berusaha menahan hasrat, maka Asha terlihat biasa saja, wanita bertubuh seksi itu mandar mandir di hadapan Usan, tak tahukah dia, kalau senjata pusaka Usan di bawah sana sudah berdiri dengan tegapnya dan bersiap berperang.
"Apa kamu menyuruhku datang hanya untuk melihatmu mondar-mandir dengan jubah seksi itu?" tanya Usan kesal.
"Tentu saja tidak, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."
"Apa itu?" sahut Usan tak sabar.
"Aku ingin kamu ....
*
*
__ADS_1
*