
Asha terus menyalahkan dirinya sendiri akan kematian Sang Nenek tercinta. Andai dirinya tidak berulah dan bisa menjaga emosi, semua ini pasti tidak akan terjadi. Neneknya pasti akan baik-baik saja karena tak ada berita buruk yang akan dia dengarkan hingga membuatnya mengalami serangan jantung.
Memikirkan hal jtu, Asha tiba-tiba mengingat sebuah Kejanggalan. Sesuatu yang Asha rasa janggal, Asha teringat akan sesuatu, Asha ingat beberapa hari lalu dia telah menyetel televisinya agar tak ada berita yang tersetel di rumahnya, hingga tak mungkin bagi Neneknya untuk melihat berita miring tentang dirinya.
Melihat berita tentang dirinya di ponsel juga tidak mungkin, karena Asha tahu bila Neneknya buta huruf juga tidak bisa menggunakan ponsel. Neneknya hanya bisa mengangkat panggilan, hanya satu itu saja yang Neneknya ketahui tentang ponsel.
Mendapati kejanggalan itu, Asha langsung bangkit dari baringnya, Usan khawatir akan tingkah Asha, Usan takut Asha akan berbuat hal yang tidak-tidak.
"Ada apa?" tanya Usan sambil mengelus rambut gelombang Asha. Asha tak menjawab, melainkan langsung berlari menuju kamar Neneknya, Usan yang panik juga berlari mengikuti Asha dari belakang.
"Asha!" teriak Usan panik, tapi dia tidak berusaha menghentikan Asha, dia hanya ikut berlari menyusul dan memastikan bila Asha baik-baik saja. Usan mengusap dadanya lega saat Asha hanya berhenti dan masuk ke dalam kamar Neneknya.
__ADS_1
"Apa yang kamu cari, Asha?" tanya Usan tapi Asha abaikan. Asha sibuk dengan urusannya sendiri, sibuk mencari ponsel Neneknya.
"Apa kamu mencari ponsel ini?" Usan memperlihatkan sebuah ponsel biasa yang dia temukan tergeletak di lantai dengan lcd yang retak.
"Berikan padaku," pinta Asha dan Usan langsung mengulurkan ponsel kepada Asha, Asha menerimanya dengan cepat, kemudian duduk di pinggir ranjang sambil mengotak-atik ponsel tersebut.
Sedangkan Usan mulai mengerti apa yang terjadi. Serangan jantung yang Nenek Dariyah alami adalah sebuah kesengajaan yang dilakukan oleh pihak lain dan Usan paham betul siapa pelakunya.
Asha mengepalkan tangannya murka kala dendamnya semakin membara. Asha bersimpuh, membenamkan wajahnya dalam. Hatinya semakin terasa perih bak ditusuk sembilu, entah apa kesalahan apa yang dia lakukan hingga Ibu tirinya begitu membenci dirinya.
Kenapa wanita paruh baya itu tidak membunuhnya, tidak merengut nyawanya. Kenapa harus Ibu dan sekarang Neneknya? Kenapa tidak bunuh saja dirinya? Asha benar-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Semua orang yang dia sayang telah pergi, semua orang yang memberikan banyak cinta ketulusan sudah pergi meninggalkannya. Meninggalkannya bersama dendam yang sangat dalam.
__ADS_1
Tidak ada seorang pun yang dapat Asha jadikan sebagai alasan untuk bertahan hidup. Hanya dendam yang telah mendarah daging, yang mampu membuat Asha bersemangat melanjutkan hidup keras yang dia jalani.
"Tidak perlu khawatir, mereka bukan lawanku. Hanya dalam waktu sedetik aku bisa menjadikan mereka butiran debu," ujar Usan bermaksud menenangkan Asha.
Mendengar perkataan Usan, Asha mengangkat wajahnya sambil tersenyum menyeringai. "Hubungan kita hanya sebatas berbagi kehangatan ranjang, aku harap Tuan tidak mencampuri sedikit pun urusanku."
*
*
*
__ADS_1