Terjerat Ranjang Hangat Si Culun Seksi

Terjerat Ranjang Hangat Si Culun Seksi
SEASON 2 ~ Bab 17


__ADS_3

"Maaf, Sayang. Tapi ini benar-benar tanggung, tahanlah sedikit lagi, setelah ini tidak akan sakit lagi," terang Usan kembali menekan lembut.


"Astaga, kenapa sempit sekali?" lanjut Usan masih berusaha menerobos pertahanan Asha yang ternyata kembali sempit seperti pertama melakukannya.


Asha tampak memejamkan mata sambil menggenggam erat selimut untuk menetralisir rasa sakit yang tak tertahankan di bawah sana. Mendadak semua adegan paling menyedihkan dalam hidupnya, berputar di pikirannya bak film yang sengaja disetel.


Adegan menyedihkan itu dibuka dengan penampakkan Sang Ibu yang tergeletak berlumuran darah, diusir oleh Ayahnya, selalu dirundung (bully) oleh orang-orang disekitarnya, juga kematian Sang Nenek, dan yang terakhir suara pilu Lewis yang meminta pertolongan padanya.


"Mommy, tolong Lewis."



Asha hanya dapat menggelengkan kepala sambil merintih kesakitan. Mendengar suara pilu Sang Putra, hatinya terasa begitu perih bak disayat-sayat sembilu.


Namun, Usan benar-benar tak peduli pada kondisi Asha, walau dia melakukannya perlahan. Tapi, dia tetaplah seorang Dusan Atlemose yang egois. Tepat dipertengahan perjalanan, ketika Usan berhasil masuk seper-empatnya, saat itu pula genggaman tangan Asha melemah dengan setetes buliran bening mengucur dari sudut matanya. Dan saat itu pula, Asha kehilangan kesadarannya.

__ADS_1


"Ashaaaa!" teriak Usan kaget kala melihat Asha yang pingsan tiba-tiba. Jika tiga tahun lalu Usan tetap bermain walau Asha telah hilang kesadaran. Maka, berbeda dengan saat ini, saat ini Usan langsung melepaskan diri dari tubuh Asha, kemudian memeriksa keadaan Asha dengan raut wajah khawatirnya.


Ketika merasakan kalau Asha masih bernapas, saat itu juga Usan dapat bernapas lega. Dengan pikirannya yang setengah jernih, Usan langsung menghubungi Dokter Xean. Usan langsung memutuskan panggilan sepihak sebelum mendengar jawaban dari Dokter Xean.


Usan langsung menyelimuti Asha yang polos, kemudian barulah Usan memasang kembali pakaiannya. Mengambil posisi duduk di pinggir ranjang, mencoba untuk membangunkan Asha dengan menepuk pelan pipinya, serta untaian kata maaf dan maaf yang tak henti dirinya ucapkan.


Lima menit berlalu, tapi kemunculan Dokter Xean pun tak kunjung terlihat. Geram dan tak sabar menunggu, Usan segera keluar dari kamar, dengan terburu-buru Usan langsung masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai dasar.


Ketika tiba di lantai bawah, Usan dikejutkan akan kehadiran Kakaknya Simone yang turun dari lantai dua dengan menggunakan tangga, karena saat itu lift tengah Usan gunakan. Tak sabaran, Simone pun memilih berlari menuruni anak tangga.


"Apa sudah selesai? Kenapa kalian berdua cepat sekali?" tanya Mommy Ziva mewakili pertanyaan Daddy Lolan dan juga Tuan Riol.


Baru saja keduanya akan membuka mulut untuk menjawab, namun urung, karena kemunculan Dokter Xean menjadi target Kakak Adik dengan penampilan begitu kusut dan berantakan.


Usan dan Simone sama-sama menarik tangan Dokter Xean. Keduanya menarik Dokter Xean dengan berlawanan arah. Usan mengajaknya masuk ke dalam lift, sementara Simone mangajaknya menuju anak tangga. Apa yang kedua Pengantin pria itu lakukan, tentu sukses membuat panik masing-masing orangtua. Apalagi Tuan Riol juga Daddy Lolan. Melihat kejanggalan itu, Tuan Riol langsung mendekati Usan. Sedangkan Daddy Lolan langsung mendekati Simone.

__ADS_1


"Apa yang terjadi? Kenapa kalian berdua merebutkan Dokter Xean?" Kedua Pria paruh baya itu menanyakan pertanyaan sama di saat yang bersamaan pula, membuat kedua pengantin pria terdiam dengan raut wajah pucatnya.


"Apa yang terjadi?" bentak Daddy Lolan.


"Asha pingsan." "Arra terluka." jawab keduanya bersamaan.


"Apa!"


BRRUUUK! ....


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2