
Di ruang makan Mansion Bredariol.
"Asha Sayang, apa yang Asisten Via lakukan pada makanan yang Ibu persiapkan?" tanya Nyonya Kiya yang baru datang setelah mengantarkan makanan untuk Suaminya. Nyonya Kiya menatap curiga, kala melihat Asisten Via yang tengah memeriksa satu persatu makanan dan minuman dengan menggunakan sebuah alat canggih yang dapat mendektiksa racun.
"Memeriksa kandungan yang ada di dalam makanan dan minuman ini, apakah ada racunnya atau tidak," jawab Asha yang masih berdiri santai sambil memeriksa kuku cantiknya.
"Bagaiamana hasilnya, Asisten Via? Apa ada racunnya?" tanya Nyonya Kiya duduk kursi yang biasanya dia duduki, tepatnya di hadapan Laura yang duduk di seberangnya.
"Semua makanan dan minuman aman, Nona." Asisten Via mengabaikan pertanyaan Nyonya Kiya, tapi lebih memilih melaporkan langsung kepada Nona Mudanya yaitu Asha.
Seperti sebelumnya, dengan isarat lirikan matanya, Asha memberi perintah untuk Asisten Via menyiapkan tempat duduk untuknya. Dan lagi-lagi Asisten Via melakukan ritual seperti yang juga dia lakukan sebelumnya. Kali ini, Nyonya Kiya dan Laura tak lagi heran, Ibu dan Anak itu tampak fokus pada makanan mereka masing-masing.
"Silahkan, Nona." ujar Asisten Via sopan.
"Kenapa di sana? Tempatku bukan di sana, letakkan kursinya di tempatku biasanya duduk bersama Almarhum Ibuku," pinta Asha masih betah berdiri. Asisten Via yang tak mengerti pun terlihat kebingungan.
Melihat Asisten Via yang tak mengerti maksudnya, Asha pun berjalan mendekat pada Laura yang tengah makan dengan lahapnya.
__ADS_1
Tak diduga-duga, Asha langsung mendorong kursi Laura dengan salah satu tangannya hingga Laura pun terhentak ke lantai bersamaan dengan kursi yang dia duduki.
"Laura!" teriak Nyonya kiya seketika langsung bangkit dan membantu Sang Putrinya yang kini kesakitan akibat ulah Asha yang mendorongnya hingga terjatuh dan mengalami sakit pada pinggangnya hingga kesulitan berdiri.
Sementara Asha tak peduli, Asha malah meminta Asisten Via untuk meletakkan kursinya tepat di tempat Laura sebelumnya. Setelah kursi diletakkan di tempat yang dia inginkan, barulah Asha duduk dan langsung menyantap makan siangnya dengan santai.
"Asha, apa yang kamu lakukan pada Adikmu Laura? Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?" bentak Nyonya Kiya yang sudah tak lagi sanggup menahan emosinya.
"Sesuatu apa dulu?" tanya Asha mengabaikan dan masih menikmati santapannya.
"Kak Asha, kakak benar-benar keterlaluan!" pekik Laura melemparkan sendok makan di tangannya tepat ke arah Asha. Namun, sendok yang Laura lempar tak dapat melukai Asha, ketika Asisten Via menangkapnya dengan tepat.
Asha mengajak Asisten Via untuk ikut bersamanya menuju sebuah kamar yang dulunya adalah kamar miliknya. Namun kini, kamar itu sudah berganti menjadi kamar milik Laura, danAsha ingin merebutnya kembali.
"Ibu, bantu aku berjalan," pinta Laura yang kesulitan berjalan. Nyonya Kiya yang semula ingin menyusul Asha pun langsung mengurungkan niatnya, dan kembali berbalik badan untuk membantu Putrinya berjalan.
"Kamu tenang saja, Sayang. Lihat saja nanti, ibu akan membalasnya."
__ADS_1
"Ibu selalu mengatakan akan membalasnya, tapi ibu tidak berbuat apa pun, dengan begini tentu saja Kak Asha akan semakin merajalela. Lihatlah apa yang dia lakukan pada kamarku!" kesal Luara saat melihat Asisten Via mengeluarkan semua barang-barang miliknya.
"Ibu, aku tidak mau kehilangan kamarku. Cepat usir saja kak Asha," lanjut Laura mendesak.
"Sabar dan tunggulah sebentar saja, Sayang. Biarkan dia mengusai kamarmu maupun barang lain di rumah ini, karena setelah kita melenyapkannya, semua milikmu akan kembali lagi kepadamu, Sayang. Bersabarlah, Ibu pasti akan melenyapkannya, untuk sekarang biarkan dia bertindak sesuka hatinya, tapi setelah itu giliran kita yang akan betindak sesuka hati kepadanya, lihat saja nanti," jelas Nyonya Kiya berhasil meyakinkan Putrinya.
"Ah Ibu dan Luara ternyata mengikutiku. Oh iya Luara, untuk sementara kamu tidur di ruang tamu, ya karena Kakak tidak bisa tidur di tempat lain di rumah ini, selain di kamar Kakak sendiri."
"Ibu,' bisik Laura pada Nyonya Kiya.
"Iyakan saja apa yang dia katakan." Laura mengangguk patuh.
"Bagaiamana Laura? Kamu tidak keberatan, bukan?" tanya Asha arogan.
"Iya Kakak, tentu saja aku sama sekali tidak keberatan."
"Oh iya, ini juga sangat menganggu suasana di kamar. Ini, ambilah."
__ADS_1
Pyaarr!
"Aw ....