Terjerat Ranjang Hangat Si Culun Seksi

Terjerat Ranjang Hangat Si Culun Seksi
Bab 65 ~ Murka Asha


__ADS_3

"Asha!" seru Lorix langsung masuk ke dalam ruangan kerja Asha tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Hal itu tentu saja membuat Simone dan Asha kompak kaget.


"Kak Lorix," Asha langsung bangkit lalu mendekat pada Lorix.


"Kamu siapa? Dia Kakakmu, Asha?" tanya Simone juga berdiri, memandang Lorix heran.


"Oh iya, Kak Simone. Kenalin ini Kak Lorix," tutur Asha memperkenalkan Lorix pada Simone.


"Kenapa nama itu terdengar tidak asing," batin Simone.


"Aku Lorix," ucap Lorix mengulurkan tangan kanannya, Simone sigap menerima uluran tangan Lorix. Keduannya saling bersalaman dengan tatapan yang sama-sama mematikan.

__ADS_1


"Aku Simone," jawab Simone singkat, kemudian langsung melepaskan jabatan tangannya.


"Kau Kakaknya Asha?" tanya Simone lagi.


"Bukan, aku tunangannya Asha," jawab Lorix jujur.


"Tunangan?" Simone reflek balik bertanya karena merasa aneh dengan jawaban pria tampan bertubuh kekar di hadapannya.


Melihat raut wajah Simone yang tiba-tiba berubah, Asha pun langsung menjelaskan. "Lorix memang adalah tunanganku, Kak. Sebenarnya—" lagi-lagi Asha melihat raut wajah Lorix, seakan bertanya apakah boleh dirinya menceritakan siapa Lorix sebenarnya. Lorix pun menganggukkan kepala sebagai jawab iya, karena Lorix tahu kalau Simome adalah Kakak kandung Asha.


"Sebenarnya apa, Asha?" Kamu selingkuh?" Dengarkan Kakak baik-baik, Asha, walau tingkah dan perilaku Usan membuatmu tidak nyaman, tapi sebenarnya dia adalah pria yang baik. Kakak lihat Usan sangat mencintaimu, dia benar-benar tulus kepadamu. Tidak seharusnya kamu menyakitinya dengan berselingkuh begini. Kakak hanya tidak ingin kamu salah melangkah, Asha." terang Simone.

__ADS_1


Sebagai Kakak kandung, Simone tak ingin Asha bertindak terlalu berlebihan. Sekeras apa pun hidupnya dahulu, Simone berharap Asha menjadi perempuan yang baik, bukan perempuan yang berpakaian dan berperilaku tidak wajar seperti saat ini. Sedikit hanyak, Simone kecewa akan perubahan Asha yang menurutnya sudah di luar batas.


Simone berharap Asha menjadi seperti dirinya, dirinya yang tidak ingin membalas dendam kepada siapa pun. Bagi Simone, semua yang terjadi sudah menjadi takdir yang memang harus dilalui, bukan untuk di sesali dan kembali menyakiti.


"Kakak bicara begitu karena Kakak tidak tahu apa saja yang sudah aku lalui selama ini. Kakak hanya melihat Ibu dijual, tapi aku melihat Ibu terbunuh dengan lumuran darah. Kakak hidup ditengah keluarga yang begitu menyayangi dan menganggap Kakak seperti anak kandungnya sendiri, sedangkan aku, aku hidup dengan penuh penderitaan. Aku sudah merasakan bagaimana sakitnya berada di titik paling terendah dalam hidup, hingga harga diri dan harga tubuh aku relakan. Dan dengan entengnya Kakak mengatakan bahwa aku salah dalam melangkah!" ujar Asha menekan kalimatnya, kala emosi mulai merasukinya. Sungguh Asha kecewa, Asha kecewa akan Simone yang bukan mendukungnya. Tapi, malah mengatakan dirinya telah salah melangkah.


"Oh iya, satu lagi hal yang harus Kakak tahu, Lorix bukanlah selingkuhku, tetapi Usan-lah selingkuhanku. Usan-lah yang menjeratku dan mengancamku agar mau menjadi kekasihnya. Bahkan, aku sudah mengatakan kepadanya kalau aku sudah memiliki seorang kekasih, tapi Usan tetap tidak peduli," jelas Asha dengan emosi yang semakin memuncak. Sedangkan Lorix tetap diam sambil menonton raut wajah Simone yang tampak begitu menyedihkan.


"Asha maaf, Kakak tidak bermaksud—"


"Keluar! ....

__ADS_1


__ADS_2