
"Karena kamu memberikanku harapan palsu, maka jangan salahkan aku bila langsung memujudkan harapan itu sekarang!" Usan mendaratkan bibirnya ke bibir kenyal Asha, Asha tak berontak sama sekali, tapi dia menutup mulutnya rapat agar Usan tak dapat masuk ke dalam rongga mulutnya.
Usan hanya memberikan luma tan di bibir kenyal milik Asha. Walau hanya di bibir, tetap saja hal itu sukses membuat hasratnya memuncak hingga terasa berada di ubun-ubun.
"Aaakkh!" ringis Asha kesakitan kala Usan tak sengaja menekan bahunya yang terdapat luka tembak di sana. Asha berusaha menahan rasa sakit pada lukannya yang mungkin saja telah terbuka jahitannya.
Sedangkan Usan langsung menyingkir dari atas tubuh Asha, karena bingung melihat Asha yang kini mengatur napas untuk mengurangi nyeri beserta ngilu yang kini dia rasakan. Beberapa detik kemudian, Usan berpikir bahwa Asha sengaja berakting untuk menghindari hukuman yang akan dia berikan.
"Akting buruk begitu, kamu kira aku akan tertipu," ujar Usan. Bingung karena Asha tak meresponnya, Usan pun mendekat pada Asha, dan betapa kagetnya Usan kala melihat ada bercak darah segar yang terdapat pada jubah mandi yang masih Asha kenakan.
Menyadari Asha tak berakting, Usan pun seketika panik. Usan terlihat sangat mengkhawatir kondisi Asha. "Astaga!" teriak Usan panik.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang juga," lanjut Usan siap mengangkat tubuh seksi Asha.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mau ke rumah sakit!" tahan Asha melarang Usan yang ingin membawanya ke rumah sakit.
"Kau teruka parah Asha!" balas Usan murka, bagaiamana mungkin Asha menolak bantuannya.
"Aku baik-baik saja, lebih baik kamu bantu aku ganti perbannya saja. Setelah diganti pasti nyerinya akan berkurang," jawab Asha sukses membuat Usan mengurungkan niatnya untuk membawa Asha ke rumah sakit.
"Di mana kamu letakkan kotak p3knya?" tanya Usan mulai tenang saat melihat Asha tak lagi meringis kesakitan seperti sebelumnya.
"Di laci itu," tunjuk Asha, Usan pun segera mengambilnya dan membawanya bersama.
Melihat Asha yang seperti itu, seketika Usan melupakan amarahnya. Yang kini Usan rasakan hanyalah rasa khawatir kepada luka yang ada di bahu Asha. Usan membuka perban itu perlahan tapi agak terburu-buru lantaran penasaran luka apa yang Asha dapatkan.
Usan dibuat terbelalak kaget ketika semua perban yang membalut luka itu telah terbuka. Usan kaget dengan luka di baju Asha, sebagai mantan ketua Gangster, tentu saja Usan tahu benda apa yang menyebabkan bentuk luka seperti itu.
__ADS_1
"Bagaimana kamu bisa mendapatkan luka tembak ini, Asha? Di mana kamu mendapatkannya?" dari suaranya yang menekan, tentu Asha tahu bahwa Usan benar-benar dalam keadaan yang dibaluti penuh emosi.
"Akan aku jelaskan nanti, sekarang ganti dulu perbannya," pinta Asha dan Usan pun langsung fokus pada tugasnya.
Perhalan Usan membersihkan bercak dara di sekitar luka Asha, setelah memastikan tidak ada jahitan yang robek, barulah Usan membalut kembali luka itu dengan perban yan baru.
Setelah selesai dengan urusannya, Usan langsung meminta Asha berbaring menyamping. Sedangkan dirinya tetap duduk di pinggir ranjang sambil menatap Asha penuh rasa khawatir.
"Sekarang jelaskan kepadaku bagaimana kamu bisa mendapatkan luka itu? Siapa yang menyerangmu" Tanya Usan.
*
*.
__ADS_1
*