Terjerat Ranjang Hangat Si Culun Seksi

Terjerat Ranjang Hangat Si Culun Seksi
Bab 46 ~ Teh Beracun


__ADS_3

"Asha," panggil Tuan Riol dengan bibir keriputnya yang bergetar, pria paruh bayah itu langsung membenarkan posisi kacamatanya, guna memastikan bahwa dirinya tidaklah berhalusinasi.


"Ayah," panggil Asha dengan setetes air mata yang mengucur dengan sendirinya. Setelah menutup pintu dengan rapat, Asha pun mulai melangkah menuju ranjang di mana Sang Ayah terbaring dengan wajahnya yang semakin harus semakin memucat, juga tubuh yang tampak begitu kurus.


"Ayah," Asha mengulang panggilannya kemudian duduk perlahan di pinggir ranjang, tepatnya di samping Sang Ayah yang selama ini begitu dirindukannya. Meski Sang Ayah sudah membuangnya, namum Asha tak pernah bisa melupakan Ayahnya begitu saja. Sekeras apa pun Asha mencoba melupakan, bahkan Asha juga mencoba untuk membenci Sang Ayah, namum tetap saja Asha tak sanggup membohongi hatinya yang selalu merindukan sosok Ayah tercinta, yang telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang.


"Ada apa dengan ekspresi di wajah Ayah?" Lanjut Asha bertanya curiga. Asha ingin menyentuh wajah keriput itu, tetapi tangannya seakan kaku. Asha takut tangannya ditepis kasar Sang Ayah hingga melukai hatinya sendiri.

__ADS_1


"Kenapa kamu kemari?" tanya balik Tuan Riol berusaha bangkit walau bersusah payah. Namun akhrinya dia berhasil bangkit dan menatap Asha dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku ingin memperlihatkan rekaman ini kepada Ayah," jawab Asha mengulurkan ponselnya yang memperlihatkan sebuah adegan di mana Nyonya Kiya dan Laura berdiskusi tentang rencana untuk menghancurkan Tuan Riol dan juga Asha, sama seperti rencana ketika mereka melenyapkankan Nyonya Disha, Ibu kandung Asha.


"Ambil kembali," Tuan Riol tak melihat video itu sampai selesai dan dia langsung memberikan ponsel itu kepada Asha, membuat Asha mengerutkan alisnya heran.


"Ayah, Ayah belum melihatnya sampai akhir," balas Asha.

__ADS_1


"Ayah sudah mengetahui bahwa Ibu sengaja dibunuh oleh mereka berdua dan Ayah juga tahu tahu bahwa aku tidak pernah berbuat jahat atau berniat membunuh Ibu tiriku. Tapi, Ayah sama sekali tidak melaporkan hal ini kepada polisi, bahkan Ayah juga tidak membelaku saat itu. Yang Ayah lakukan adalah, Ayah dengan teganya malah menelantarkanku dan mengusirku, Putri kandung Ayah sendiri! Apa maksud Ayah akan semua itu!?" Ketus Asha kemudian menarik napas dalam sebelum melanjutkan kembali ucapannya. Sementara Tuan Riol terus menatap Asha dengan penuh kerinduan.


"Satu hal lagi, satu hal lagi yang harus Ayah ketahui. Ini, teh ini, teh yang setiap harinya mereka berikan kepada Ayah adalah teh khusus yang mengandung racun, yang dapat menonaktifkan seluruh organ tubuh Ayah secara perlahan!" tutur Asha sambil menunjuk segelas teh yang dia bawa. Sementara air matanya terus mengalir deras dari kedua sudut matanya, begitupun Tuan Riol yang tak dapat berkata-kata apa-apa. Sulit baginya untuk menjelaskan semua kondisi yang sebenarnya hanya dengan kata-kata.


Karena tak tahu harus berkata apa kepada Putrinya, Tuan Riol pun mengambil teh yang Asha bawa, teh yang Asha katakan mengandung racun itu, Tuan Riol habiskan dengan sekali tegukan.


"Ayah, apa yang Ayah lakuakan? Apa Ayah masih tidak percaya kepadaku? Teh itu benar-benar mengandung racun Ayah, lihatlah surat ini!" Asha melemparkan sebuah surat yang berisi keterangan semua racun yang terkandung di dalam teh khusus yang barusan Tuan Riol teguk.

__ADS_1


"Ayah tahu, Asha. Ayah sudah lama mengetahui bahwa teh yang selama ini Ayah minum adalah teh yang mengandung racun," jawab Tuan Riol sambil memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa berat tepat setelah meneguk habis tehnya.


"Ayah tahu kalau teh itu mengandung racun, tapi Ayah meneguknya sampai habis. Apa maksud Ayah? Atau jangan-jangan ...."


__ADS_2