Terjerat Ranjang Hangat Si Culun Seksi

Terjerat Ranjang Hangat Si Culun Seksi
SEASON 2 ~ Bab 5


__ADS_3

"Karena Kakak mengkhawatirkan Lewis." Asha menjatuhkan tubuhnya. Untuk Putranya, tentu Asha sangat-sangat menyesal. Dulunya, Asha sangat membenci kehidupan yang tumbuh di dalam rahimnya, tidak disangka, setelah berhasil melahirkan Lewis, Asha merasa kalau Lewis adalah belahan jiwanya. Asha merasa sangat mencintai Putranya.


Namun, semua sudah terlambat. Asha menyadari segalanya tepat setelah dirinya tak lagi berhak atas Lewis. Bila ditanya sedang apa Putranya saat ini? Maka Lorix-lah yang tahu jawabannya, karena Lorix sudah melewati masa-masa sulit itu.


Pernah suatu hari Lorix menceritakan tentang betapa sulitnya menjalani pelatihan-pelatihan berat dan kejam itu, saat itu pula rasa bersalah, tak tenang dan menyesal terus datang menghantui Asha.


"Lalu, apa yang bisa aku lakukan saat ini, Kak? Kakak saja tidak bisa menyelamatkan Gyana, apalagi aku, apa yang bisa aku lakukan untuk menyelamatkan Putraku?" tanya Asha frustasi.


"Kita lawan bersama-sama." jawab Lorix pelan.


"Maksud Kakak kita akan melawan Nenek Lore? Apa Kakak gila!"


"Apa kamu tidak lelah, Asha? Apa kamu tidak lelah dengan semua ini? Selama manjadi mafia, maka kita tidak akan pernah merasakan sebuah kata yang disebut bahagia. Untuk itu, menikahlah dengan Usan."


***


Tidak terasa dua mingggu sudah berlalu, Asha benar-benar sibuk dan hanya fokus pada butiknya, kehilangan sosok Asisten Via yang dapat melakukan apa pun membuat Asha kesulitan.

__ADS_1


Hal itu turut mengakibatkan dirinya tak sempat untuk sekedar mengunjungi Usan yang masih dalam tahap perawatan. Selain tak sempat, Asha juga memang tidak ingin bertemu dengan Usan untuk saat ini.


Sore itu Asha mendapat kabar bahwa Usan sudah keluar dari rumah sakit seminggu yang lalu, Usan dipulangkan cepat karena kondisinya yang sangat baik dan lukanya sembuh sesuai perkiraan.


"Seminggu lalu? Kenapa dia tidak menemuiku?" batin Asha yang rupanya kecewa karena Usan tidak menemuinya, padahal sudah berada di rumah cukup lama.


Pikiran-pikiran negatif pun mulai menyelimuti Asha, namun bukan Asha namaya kalau tidak dapat menenangkan dirinya sendiri. Tapi tetap saja Asha merasa penasaran tentang apa yang Usan lakukan. Bila tidak sempat menemui secara langsung, apa salahnya menghubungi dirinya lewat ponsel. Apa gunanya teknologi?


Tok, tok, tok ....


"Masuk!" seru Asha yang kebetulan sedang tak lagi menggambar, lantaran suasana hatinya yang sedang tak baik.


"Boleh Kakak masuk?" tanya Simone yang masih berdiri di ambang pintu.


"Masuklah," jawab Asha mempersilahkan.


Usan masuk dan duduk di kursi yang berada tepat dihadapan Asha. "Ada apa, Kak?" tanya Asha.

__ADS_1


"Ini undangan untukmu," ujar Simone sambil mengulurkan sebuah undangan berdesain unik kepada Asha.


"Usan akan menikah!" balas Asha dengan nada suara meninggi kala mengira kalau Usan yang akan menikah.


"Bukan Usan, tapi Kakak. Kakak dan Arra akan menikah malam ini, maaf karena terlalu terburu-buru. Kamu datanglah karena Kakak ingin kamu hadir sebagai Adik kandung. Pernikahan ini adalah pernikahan rahasia, untuk itu datanglah seorang diri. Jangan ajak Lorix," pinta Simone berbicara serius.


"Aku tidak akan membawa Lorix. Tapi, tidakkah seharusnya Kakak menunggu Ayah pulang dari berobat, karena walau bagaimana pun, Ayah adalah laki-laki yang sangat dicintai oleh wanita yang yang telah melahirkan Kakak, Ayah juga sangat ingin bertemu dengan Kakak," terang Asha.


"Ayah sedang dalam masa pemulihan, Asha. Ayah butuh waktu lama untuk penyembuhan. Sedangkan Arra telah hamil tiga bulan, bila ditunda lagi, maka perutnya akan semakin membuncit. Kakak juga tidak ingin Keturunan Kakak lahir sebagai anak haram." Jelas Simone membuat Asha mengerutkan dahi kala merasakan ada suatu hal yang tidak beres.


"Tidak ingin Keturunan haram, lalu kenapa Kakak membuatnya sebelum menikah?" tanya Asha mengulum senyum.


"Kecelakaan, sama sepertimu." Asha tercengang.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2