
"Arra mencintai Kak Simone, titik."
"Kakak juga mencintaimu, sekarang habiskan makananmu," balas Simone santai sambil mengelus rambut gelombang Arra.
"Arra mencintai Kak Simone sama seperti perasaan seseorang perempuan ke laki-laki yang dicintai. Bukan seperti perasaan Adik ke Kakaknya!" tegas Arra membuat Simone meletakkan kembali sendok berisi pasta yang tadinya ingin dia makan.
"Apa yang kamu inginkan, Arra?" tanya Simone sambil menghela napas berat.
"Aku ingin Kak Simone, aku mencintai Kakak. Apa aku salah, Kak?" tangis Arra pun pecah karena merasa lega, lega karena akhirnya dia berhasil mengungkap perasaan yang selama ini dia pendam.
"Jadilah perempuan baik dan patuh, dengan begitu—"
"Kakak akan menerimaku sebagai kekasih?" potong Arra mendesak, kedua bola matanya berbinar penuh harap.
"Iya," jawab Simone singkat, membuat Arra tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya, gadis berusia dua puluh tahun itu langsung menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Simone, Kakak tercinta.
"Makasih, Kak. Aku senang Kak Simone mau menerima aku. Tapi, beneran sekarang kita adalah pasangan kekasih?" tanya Arra mengkonfirmasi.
"Siapa yang bilang?" tanya balik Simone membuat Arra langsung melepaskan diri dari pelukan hangat Sang Kakak.
__ADS_1
"Kakak mempermainkan aku?" ketus Arra kesal.
"Kamu harus berubah dulu bila ingin menjadi kekasih Kakak. Bersikap dan berperilaku layaknya Arra yang dulu Kakak kenal, dimulai dari meminta maaf kepada Asha, kekasihnya Usan," Arra terdiam mendengarkan persyaratan yang Simone utarakan.
"Dia seorang kriminal, Kak. Apa Kakak tidak lihat videonya menghabisi dua orang karyawan di perusahaan kita."
"Tentu saja Kakak tahu, tiga orang karyawan itu yang jahat, Arra. Apa kamu sudah melihat rekaman cctv yang sebenarnya?"
"Sudah, tapi—"
"Kalau seandainya yang dibully saat itu adalah Kakak, apakah kamu akan pergi begitu saja?"
"Tentu saja tidak, aku pasti akan menghajar orang itu sampai kehilangan nyawanya karena sudah berani melukai Kak Simone!" tegas Arra bersemangat.
"Ya sudah, lanjutkan makanmu."
"Baik, kak."
Beberapa menit kemudian, Arra dan Simone pun telah selesai menghabiskan makan siang mereka. Arra membantu Simone berbaring kembali untuk istirahat karena tubuhnya belum pulih sepenuhnya.
__ADS_1
"Kakak, bagaimana kalau kita menikah bulan depan?" tanya Arra to the point dan tentu saja mengejutkan Simone.
"Apa maksudmu, Arra?" tanya Simone yang tak habis pikir dengan kelakuan Adiknya yang selalu membuatnya hampir mengalami serangan jantung.
"Begini, Kak. Usia Kakak itu sudah tiga puluh empat tahun, sedangkan aku dua puluh tahun. Usia kita berdua terpaut empat belas tahun, untuk itulah kita harus menikah secepatnya sebelum Kakak keburu tua," jelas Arra dengan ekspresi polosnya, membuat Simone tercengang saking tak percaya dengan apa yang kini Arra cetuskan.
"Arra, kamu belum jadi kekasih, Kakak. Berubah dulu baru pikirkan hal selanjutnya," sahut Simone gemes.
"Baiklah, Kak. Aku akan berubah secepat mungkin agar kita bisa secepatnya menikah," ujar Arra dengan penuh keyakinan.
"Sekarang pergilah, Kakak ingin sitirajat," Usir Simone membuat Arra mencebikkan bibirnya. Namun, dia tetap pergi dengan membawa meja dorong berisi piring bekas makan.
Simone menatap dalam—kepergian Arra hingga pintu tertutup kembali dengan rapat. "Meski bukan kakak kandungnya, pantaskah aku untuknya?"
*
*
*
__ADS_1
Arra