
Setelah kepergian Usan, Asha pun meminta Asisten Via untuk masuk ke ruangannya. "Apa berhasil, Nona?" tanya Asisten Via yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Apa kamu lihat ekspresinya tadi? Astaga, dia benar-benar tidak sepintar yang aku duga, bagaimana mungkin seorang CEO TB Grup dapat dengan mudah dibohongi begitu," Asha kesulitan berhenti menertawakan Usan yang menurutnya begitu bodoh.
"Sebenarnya, untuk apa Nona membohongi Tuan Usan?" tanya Asisten Via.
"Tentu saja untuk lepas darinya," jawab Asha cepat.
"Tadi, seharusnya Nona sudah bisa lepas sepenuhnya dari Tuan Usan. Namun, kenapa Nona hanya minta dilepaskan jeratannya saja?, apakah Nona mencintai Tuan Usan dan tidak ingin berpisah dengannya?" Asisten Via mengintrogasi dengan tekanan yang mampu membuat Asha terdiam seketika.
Asha menelan kasar salivanya yang tercekat, tak dapat Asha pungkiri bila dirinya memang telah jatuh hati pada pria pertama baginya itu. Untuk itulah Asha menaruh sedikit harapan, harapan agar balas dendamnya terwujud tanpa harus merengut nyawanya. Bila itu terjadi, Asha ingin mewujudkan angan-angannya yaitu hidup bahagia bersama pria yang dia cintai.
Di sisi lain, Asha juga tak ingin menunjukkan perasaanya kepada siapa pun apalagi kepada Usan. Asha bisa saja membohongi orang lain, tapi tidak dengan Asisten Via yang memiliki insting tinggi.
"Aku pastikan hal itu tidak akan menjadi kelemahanku!" tegas Asha di hadapan Asisten Via.
"Baguslah, Nona. Saya hanya takut Nona melupakan dendam, tugas saya di sini hanya menjalankan perintah, melindungi dan juga mengingatkan."
"Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan pernah mungkin melupakan dendamku, aku pastikan semua orang itu akan musnah dalam genggaman tanganku sendiri!" Balas Asha dengan raut wajah yang begitu serius, api dendamnya kembali berkobar-kobar bak api yang membakar satu wilayah.
__ADS_1
Tok, tok, tok ....
Suara ketukan pintu dari luar ruangan, Asisten Via langsung membukanya.
"Siapa, Via?" tanya Asha seraya kembali duduk disingasananya.
"Nyonya Kiya dan Laura sudah datang, keduanya sudah menunggu Nona di lantai bawah,"
"Mari kita lihat apalagi yang akan mereka lakukan," seru Asha bangkit kembali dan langsung turun ke lantai bawah untuk menemui Ibu dan Adik tirinya.
"Oh iya Via, apa kamu sudah menemukan sesuatu yang menarik tentang mereka berdua?" tanya Asha ketika sudah berada di dalam lift.
"Tentu sudah, Nona. Ini adalah sesuatu yang sangat menarik dan pastinya akan membuat mereka menanggung malu yang begitu besar," lapor Asisten Via.
Tiba di lantai bawah, tepatnya di ruangan khusus yang terpajang banyak gaun-gaun pengantin mewah yang memiliki harga selangit.
Sampai di sana, kedatangan Asha disambut ramai oleh para pengunjung yang seketika mengerumuni Asha, tidak disangka beritanya yang terus menjadi tranding malah membuat butiknya dibanjiri pesanan. Tak butuh waktu lama, Asisten Via pun berhasil membuat mereka semua bubar dan tetap fokus memilih gaun-gaun yang terpajang.
"Akhirnya Kakak Asha datang juga, aku sudah tidak sabar ingin melihat sebagus apa gaun pengantinku yang Kakak desain, pasti sangat bagus. Benar,kan Ibu?"
__ADS_1
"Tentu saja, Sayang. Ayolah Asha, tunjukkan kepada Adikmu, sebagus dan seindah apa guan desainanmu," sambung nyonya kiya ramah, namun Asha mengabaikan mereka berdua.
"Via, ajak mereka ke ruang ganti," titah Asha dengan penuh kearoganan, dia berjalan lebih dulu. Sedangkan Via, Nyonya Kiya dan Laura mengekor di belakangnya hingga tiba di ruang ganti yang begitu luas dengan nuansa serba putih.
Tiba di ruang ganti, beberapa karyawan pun langsung mengeluarkan sebuah peti besar yang didalamnya terdapat gaun yang telah Asha desain. Gaun itulah yang nantinya akan menjadi gaun pengantin yang akan Laura kenakan di acara pernikahan.
Beberapa karyawan membantu Laura mengenakan gaun indah nan mewah itu. Laura pun terlihat begitu puas dengan gaun hasil buatan Asha. Setelah puas mengambil banyak gambar, barulah Laura melepaskan kembali gaun indah itu.
Kini, ketiganya tengah duduk di sebuah sofa yang ada di ruangan super luas itu.
"Apa yang ingin Ibu katakan?" tanya Asha santai.
"Begini Asha, Ibu ingin mengundangmu pulang ke rumah untuk membantu persiapan pernikahan Adikmu. Ibu harap kamu tidak menolak permintaan Ibu, ini adalah hari besar bagi Adikmu, dia ingin kamu ada menemaninya," bujuk Nyonya Kiya.
"Tentu saja aku tidak akan menolak," jawab Asha menyetujui keinginan Ibunya dengan mudah.
Nyonya Kiya : Bagus, dengan begitu aku akan mendapatkan banyak kesempatan untuk menghabisimu, Sayang.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah menerima undangan Ibu dan Laura," balas Nyonya Kiya tersenyum senang.
__ADS_1
"Sama-sama."
Asha : Kita lihat, siapa yang akan menghabisi siapa?