
"Kak Simone, aku mau pipis dulu!" teriak Arra langsung berlari menuju kamar mandi, tanpa menghiraukan tubuh polosnya. Sementara Simone hanya menatap kepergian Arra dengan mata terbelalak kaget.
Simone langsung menjatuhkan tubuhnya kasar ke atas ranjangnya dengan napas yang masih memburu hebat. Simone menghela napas kasar kala melihat ke arah kamar mandi yang pintunya telah tertutup rapat.
Di dalam sana, ada seorang gadis dewasa yang sebelumnya sudah membuat nafsunya memuncak. Namun, gadis itu pula yang meruntuhkan segalanya, kemudian pergi begitu saja. Meninggalkan dirinya yang hanya bisa menatap diam kecewa.
Simone mencoba menenangkan diri, berharap senjatanya di bawah sana dapat kembali tenang. Simone merasa tubuhnya begitu lemas, apa yang Arra lakukan, benar-benar sukses membuatnya tak berdaya.
Beberapa saat kemudian, Simone kembali bangkit setelah berhasil membuat tubuhnya terasa sedikit lebih tenang. Simone mendekati nakas, meraih segelas air putih di atasnya, kemudian siap mengambil ancang-ancang akan meneguknya cepat.
"Aaaakhh!"
Belum sempat Simone meneguk air putih di dalam gelas itu. Namun, teriakan kencang Arra dari dalam kamar mandi, berhasil membuatnya kaget dan langsung melempar gelasnya hingga menjadi kepingan-kepingan kecil yang tak lagi berguna.
"Arra, apa yang terjadi?" tanya Simone sambil mencoba membuka pintu kamar mandi. Namun, pintu yang terkunci dari dalam membuatnya kesulitan.
"Kakak, aku terpeleset, kaki terluka dan aku tidak bisa berdiri, hiks ..." teriak Arra menangis histeris, membuat Simone semakin dibuat khawatir.
"Astaga Arra," sahut Simone frustasi sekaligus geram dengan pintu yang sulit untuknya buka.
__ADS_1
"Arra, mundurlah lebih dulu, Kakak akan dobrak pintunya," pada akhirnya Simone memilih mendobrak pintu kamar mandi itu.
"Baik, Kak." balas Arra dengan isakan tangisnya. Sementara Simone masih terus berusaha mendobrak pintu, beberapa kali percobaan gagal. Hingga pada akhirnya, pintu langsung terbuka ketika Simone mengerahkan seluruh tenaganya.
"Kakak," panggil Arra sambil membentang kedua tangan ingin dipeluk oleh Sang Kakak yang kini telah sah menjadi Suaminya.
Melihat pergelangan kaki Arra yang terluka, tentu membuat Simone menjadi sangat panik. Rasa khawatirnya mampu mengalahkan nafsu yang membuncah, kala melihat tubuh polos Arra yang sukses membuat senjata pusakanya kembali berdiri tegap.
Perlahan Simone menggendong Arra yang masih menangis kesakitan. Simone membaringkan Arra ke atas ranjang, kemudian menutupi tubuh polos itu dengan selimut dan hanya menyisakan bagian pergelangan kaki yang terluka.
"Kakak mau ke mana? Jangan tinggalkan Arra, Kak!" cegat Arra yang mengira kalau Simone akan pergi meninggalkannya.
***
Mendapatkan izin dari Sang Istri, Usan pun langsung bertindak. Mengarahkan senjatanya yang telah berdiri tegap tepat di inti milik Asha. Sebelum memasukkannya ke dalam liang hangat milik Sang Istri, Usan lebih dulu mengusapnya di sana, hal itu tentu saja membuat Asha merintih tak karuan.
"Ahh, ti-dak ta-han emm ..." Usan tersenyum bangga mendengarnya, semakin Asha merintih semakin Usan mempercepat Usapannya. Ketika tubuh Asha akan kembali bergetar, saat itu pula Usan mulai menyatukan tubuhnya dan Sang Istri. Usan menekan dengan begitu perlahan, mengubah rintihan erotis Asha menjadi rintihan kesakitan.
"Astaga, kenapa sempit sekali? Bukankah ini yang kedua kali," keluh Usan yang terus menekan dengan penuh kelembutan. Sedangkan Asha terus merintih minta diakhir.
__ADS_1
"Sa-sakittt ahh," Usan seakan tuli tak mendengar rintihan Asha. Dia hanya fokus pada miliknya di bawah sana. Walau Usan melakukannya perlahan, entah kenapa Asha tetap merasa sakit melebihi sakit tiga tahun lalu.
"Aaakkhh! Sakittt! Hentikan!" Usan yang mendengar itu pun langsung berhenti menekan.
"Maaf, Sayang. Tapi ini benar-benar tanggung, tahanlah sedikit lagi, setelah ini tidak akan sakit lagi," terang Usan kembali menekan lembut.
"Asha! ....
*
*
"
Guys, jangan lupa persembahannya, ya. Like, komen, hadiah, dan votenya π Calangeo π
Oh iya, visual Lorix, Othor ganti yakππππ
__ADS_1