
"Tambahkan lagi kecepatannya!" bentak Usan pada Sang Pilot yang bertugas.
"Maaf, Tuan. Tapi ini sudah kecepatan penuh," jawab mereka tapi tetap fokus.
Mendengar itu, Usan pun kembali duduk di kursinya. Namun, dengan perasaan yang tak tenang dan malah semakin mengkhawatirkan kondisi Asha.
"Tuan, ada tranding topik tentang Nyonya Kiya dan pernikahan Putrinya," lapor Sekretaris Evan sambil memegang Ipad-nya yang berlogo apel digigit.
"Apa?" tanya Usan antusias.
"Lihatlah ini Tuan, sepertinya ini ulah Nona Asha. Nona memasang Video Nyonya Kiya ketika masih menjadi seorang ja lang," jelas Sekretaris Evan sambil memberikan Ipad-nya kepada Usan.
"Dia benar-benar membuatku tidak berguna," kesal Usan yang malah tak suka dengan Asha yang sanggup melakukan segala hal tanpa bantuannya. Kedepannya, kalau Asha akan menjadi semakin hebat, Usan takut Asha akan meninggalkannya dan dia tak akan mampu menjerat Asha.
"Sekarang cek bagaimana keadaan di kapal itu?" titah Usan dan Sekretaris Evan langsung fokus pada layar iPadnya dengan jemari yang menari-nari di layar.
"Ada penyusup di kapal itu, Tuan." imbuh Sekretaris Evan membuat Usan kembali meradang.
"Sial! Kalian cepatlah!" teriak Usan di tengah-tengah hujan yang semakin deras itu.
__ADS_1
Usan kembali bangkit dan tampak begitu tak sabaran ingin melihat keadaan Asha. "Berapa lama lagi, Evan?
"Tidak sampai 2 menit lagi, Tuan. Badai membuat pilot kesulitan."
***
Ketika Edrik Siap membidik tepat ke arah kepala Asha. Di detik yang sama, Asha juga membidik mengarah ke tangan Edrik hingga peluru menembus lengan kanan pria kekar itu, membuat pistol yang dia arahkan ke Asha jatuh menjauh darinya.
"Aakkhh!" teriak Edrik kesakitan kala merasa sakit pada tangannya. Melihat Edrik yang tak lagi dapat menyerangnya, Asha pun mendekat dengan senyuman miringnya.
"Sekarang giliranku!" tegas Asha langsung memuntahkan seluruh peluru yang ada di pistolnya untuk menyerang Edrik hingga Edrik pun mengalami banyak luka. Tembakan Asha benar-benar begitu akurat hingga Edrik tampak kesulitan menghindari.
Meski begitu, Asha dan pengawal tetap memberikan hujatan senjata ke bawah laut sana. Bahkan, mereka juga menunggu kemunculan Edrik. Namun, Edrik tak kunjung muncul.
"Apa ada kemungkinan dia akan selamat?" tanya Asha pada seorang pengawal di sampingnya.
"Dengan banyak luka tembak dan ombak yang besar, saya rasa tidak mungkin untuknya selamat. Tapi, kemungkinan bisa saja terjadi bila dia sudah melakukan persiapan," jelas pengawal detail.
"Bagus kalau dia nasih hidup, aku belum puas menyiksanya," lanjut Asha dengan seringai'an di bibir sensualnya.
__ADS_1
"Ayahku sudah menempelkan gps canggih di kulit tubuhnya, kalian lacak keberadaannya sekarang. Kemudian, bawa dia ke markas besar," titah Asha berwibawa.
"Siap, Nona." jawab mereka serentak.
"Luka Nona semakin parah, lebih baik kita masuk untuk memberikan penanganan," ajak seorang pengawal berjenis perempuan yang berpakaian serba hitam tertutup hingga sulit Asha kenali.
Ketika Asha akan berjalan kembali ke dalam kapal. Namun, urung dilakukan kala ada sebuah hellikopter yang siap mendarat di tempat kini mereka berdiri.
Melihat itu, Asha sigap mengambil pistol dari sakunya, karena takut kalau itu adalah musuh. "Siapa?" tanya Asha singkat.
"Itu hellikopter milik TB Grup, Nona." jawab Pengawal membuat Asha memasukan kembali senjatanya ke dalam saku.
"Asha!"
*
*
*
__ADS_1
Maafin typonya ya, Guysππ». Othor nulisnya pas lagi ngantuk banget. Jangan lupa Vote dan hadiahnya πππ