
"Me-melahirkan?" ucap Usan tercengang dengan mata membulat sempurna kala mendengar penjelasan Dokter Yuna. Tak hanya Usan saja yang kaget. Tapi, Ayah Riol juga tak kalah kaget mendengarnya.
"Tuan baik-baik saja?" tanya Dokter Yuna langsung beralih pada Ayah Riol yang tampak tidak baik-baik saja. Dokter Yuna menuntun Ayah Riol untuk duduk sofa, kemudian memberinya obat khusus. Setelah itu, barulah Dokter Yuna kembali mengurus Asha.
Sementara Usan langsung menyingkap sedikit selimut Asha setelah menyadari sesuatu, dan benar saja, bekas jahitan yang semula ada di perut Asha, kini sudah tak lagi ada. Itu artinya, bekas jahitan sebelumnya hanyalah tipu daya semata.
"Apa itu artinya Asha pernah melahirkan normal?" tanya Usan dan dijawab anggukan kepala oleh Dokter Yuna, yang kini memberikan penanganan pada Asha agar segera sadar.
"Benar, Tuan. Untuk hal ini, saya sarankan agar Tuan bertanya secara baik-baik kepada Nona Asha. Meski terlihat kuat, tapi sebenarnya Nona adalah wanita lemah dan lembut. Mungkin tidak terlihat dari fisiknya, tapi batinnya jelas terluka," terang Dokter Yuna membuat Usan mengangguk mengerti.
"Jangan katakan tentang hal ini kepada siapa pun termasuk Mommy dan Daddy, aku akan mengurus dan menyelesaikannya sendiri," pinta Usan langsung disetujui oleh Dokter Yuna.
"Usan," panggil Asha yang telah tersadar, tak lama setelah perbincangan Usan dan Dokter Yuna berakhir.
"Asha, akhirnya kamu sadar juga," balas Usan langsung mengambil posisi duduk di pinggir ranjang, tepatnya di samping Asha.
"Ada apa ini? Kenapa ada Dokter dan juga ... Ada Ayah, Ayah kenapa?" tanya Asha kala melihat wajah Sang Ayah yang pucat.
"Tidak apa-apa, Asha. Ayahmu hanya khawatir karena kamu tiba-tiba pingsan," Usan menuntun Asha untuk kembali berbaring dengan tenang.
__ADS_1
"Aku pingsan? Kenapa?" Asha bertanya seakan mengintrogasi Dokter Yuna, membuat Dokter Yuna seketika kaget kala tak menyangka kalau Asha juga mempunyai aura yang tak kalah mengintimidasinya dari Usan.
"Nona hanya mengalami trauma akan kejadian di masa lalu, tapi Nona tidak perlu khawatir karena ada Tuan Usan yang akan membantu untuk penyembuhan," jelas Dokter Yuna terpaksa berbohong, usai mendapatkan kedipan mata dari Usan.
"Benarkah begitu, Dokter?" tanya Asha yang menyimpan sedikit rasa curiga. Sedangkan untuk trauma yang dialami, Asha sendiri sudah lama mengetahuinya.
"Bener Nona."
"Bagaimana perasaanmu sekarang, Sayang?" tanya Ayah Riol mendekati Putrinya tercinta.
"Sudah lebih baik, Ayah. Ayah bagaimana?" tanya balik Asha.
"Karena Nona sudah sadarkan diri, saya permisi kembali ke rumah sakit sekarang, Tuan." pamit Dokter Yuna langsung diantar sampai di pintu kamar oleh Usan.
"Ayah juga pamit karena mau istirahat juga. Usan, tolong jaga Asha baik-baik, kalau sesuatu terjadi beritahu Ayah segera," pinta Ayah Riol langsung keluar dari kamar setelah mengecup kening Putrinya.
Setelah mengantar Ayah Riol hingga ke lift, barulah Usan kembali ke kamarnya untuk menemani Asha. "Asha, kamu mau ke mana?" tanya Usan kala melihat Asha yang telah menjuntaikan kakinya di ranjang.
"Piyama, aku tidak mungkin tidur tanpa busana."
__ADS_1
"Tetap di sana, biar aku ambilkan." Usan langsung menuju lemari.
"Ini," Usan mengulurkan piyama dengan celananya yang panjang.
"Kenapa warna putih? Apa tidak ada gaun piyama warna merah? Ini juga terlalu tertutup," protes Asha.
"Piyama gaun berwarna merah. Kamu masih ingin menggodaku?" tanya Usan membuat Asha langsung menyadari sesuatu.
"Berikan padaku," Asha langsung menyambar piyama yang Usan ulurkan. Asha pun mulai mengenakannya dengan bantuan Usan, walau menggunakan piyama yang tidak seksi. Namun, tetap Asha tampak seksi, kala tak memakai bra maupun cd. Hal tersebut sudah pasti membuat Usan dan juniornya menderita.
"Tidurlah, jangan cemaskan apa pun," Usan menuntun Asha berbaring, kemudian dia juga menyusul berbaring.
"Tidakkah kamu ingin menanyakan sesuatu kepadaku?"
*
*
__ADS_1
*