
Hutan lebat Oesteria adalah hutan yang jarang dimasuki lantaran ada begitu banyak binatang buas di dalamnya. Hutan luas yang terletak cukup jauh dari pusat kota itu, memiliki puluhan ribu pohon-pohon besar yang menjulang tinggi, membuatnya gelap bila dimasuki semakin dalam.
Seperti saat ini yang tampak oleh Asha, meski masih sore hari, tapi keadaan hutan sudah sangat gelap bak malam hari. Memasuki hutan sekitar tiga kilometer dengan menempuh perjalanan selama kurang lebih lima puluh menit. Kini, mereka sudah semakin dekat dengan tempat persembunyian Edrik di depan sana.
Karena pohon-pohon yang tumbuh berdempetan membuat mobil tidak akan bisa masuk ke dalamnya. Untuk itulah, Asha dan Lorix akan berjalan kaki sekitar dua puluh menit untuk sampai di sebuah bangunan tua yang tak lagi berpenghuni.
Sesuai rencana, hanya Lorix dan Asha yang akan menyusup secara diam-diam menuju bangunan tua itu. Setelahnya, barulah para anggota lainnya menyusul. Hal itu dilakukan agar Edrik tak curiga dan berakhir melarikan diri. Jika melihat dari titik merah yang ada di ponsel Asha, saat ini Edrik masih berada di tempat yang sama, yaitu bangunan tua yang luas, berukuran lima kali sepuluh meter.
"Ayo Kak! Aku sudah tidak sabar ingin menghabisi si tua bangka itu!" seru Asha mulai melangkah.
"Tunggu!" cegat Lorix menahan lengan Asha.
"Ada apa, Kak?" Asha mengerutkan dahinya heran.
__ADS_1
"Sebentar," Lorix mengeluarkan ponsel canggihnya dari saku jasnya, ponsel canggih yang sudah dimodifikasi. Setelah beberapa detik mengotak-atik ponselnya, barulah terpancar cahaya merah dari sudut bawah ponselnya, cahaya itu berbentuk bulat memiliki lebar sekitar tiga centi meter.
Asha mengerutkan dahinya kemudian bertanya. "Kak, kenapa senternya begitu? Sedikit pun tidak berfungsi sebagai penerang," protes Asha yang mengira kalau Lorix memasang cahaya itu untuk menyinari mereka selama perjalanan menuju bangunan tua.
"Mata kita bisa menyesuaikan diri dengan kondisi gelap dan terang. Jadi, kita masih dapat melihat walau tidak terlalu jelas. Cahaya ini bukan untuk penerang dalam situasi gelap, melainkan untuk mendeteksi ranjau yang dipasang oleh Edrik." jelas Lorix lalu menyinari ke sebuah ruang tanah di depannya. Dan benar saja, ponselnya langsung bergetar hebat ketika mendeteksi adanya ranjau di ruang tanah itu.
Seketika Asha tercengang melihat hal itu, karena kalau Lorix tidak menahannya tadi, maka Asha akan pulang tanpa kaki. "Luar biasa, apakah ponsel ini dimodifikasi oleh Gangsternya Lorehot juga, Kak? Kenapa mereka begitu cerdas?" ujar Asha kagum.
"Masih banyak temuin canggih dan berguna lainnya. Sekarang, ayo kita mulai, kamu ikuti langkah kaki Kakak," pinta Lorix dan Asha pun memegang jas Lorix dari belakang, lalu mengikuti langkah kaki Lorix.
"Berhati-hatilah," kata Lorix memperingati Asha yang akan lebih dulu masuk seorang diri ke dalam bangunan tua itu. Hal itu dilakukan agar Edrik mengira hanya ada Asha dan tidak ada orang lainnya. Di saat yang tepat, barulah Lorix keluar dari tempat persembunyiannya, disusul anggota Lorehot lainnya.
"Baik, Kak. Tenang saja, aku akan berhati-hati," tegas Asha.
__ADS_1
"Saatnya mengajari pak tua itu tentang bagaiamana cara membunuh dengan sadis!" seru Asha dalam hati sambil menggenggam pistonya dengan erat, menghela napas dalam lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan jantung yang berdetak lebih kencang. Setelah merasa yakin, barulah Asha melangkah perlahan, hingga kini sudah tiba di depan pintu besar bangunan tua yang luas itu.
"Pintunya tidak dikunci, apa dia sudah memperkirakan kedatanganku dan telah bersiap-siap?" Asha bertanya-tanya dalam hati.
Tak sabar ingin bertemu dengan Edrik, Asha pun tanpa ragu langsung menendang pintu besar itu hingga terbuka lebar. Kemudian Asha melesat berlindung ke samping. Tak ada sesuatu yang terjadi, Asha melangkah perlahan mendekati pintu dengan menodongkan senjata ke depan dengan kedua tangan.
Sudah berada di ambang pintu, tapi masih belum ada sesuatu yang menarik bagi Asha, sesuatu menarik yang dapat membuatnya merasa tertantang. Belum ada gerak-gerik keberadaan apalagi kemunculan Edrik, Asha pun melangkah perlahan dan langsung masuk ke dalam bangunan tua luas yang di dalamnya dipenuhi drum-drum besar, serta botol-botol anggur yang kosong.
BRAAKK!
DOR! ....
*
__ADS_1
*
*