
Sore hari itu, Usan pun terpaksa dibawa pulang atas permintaannya sendiri. Walau bekas jahitannya masih basah dan masih rentan terbuka, tapi Usan tak peduli. Yang dia inginkan saat ini adalah pulang dan pergi ke Dash Boutique untuk menemui Asha.
"Pulang dulu, Usan. Besok baru temui Asha, dia tidak akan pergi ke mana-mana. Tidak perlu terburu-buru untuk bertemu dengannya, pikirkan juga lukamu," oceh Mommy Ziva yang kini duduk di kanan Usan, sedangkan Arra duduk di samping kiri Usan.
"Benar, Kak. Luka di perut Kakak itu bukan luka biasa yang dapat sembuh dengan mudah. Ikuti saja apa yang Mommy katakan dan yang Dokter Xean sarankan," lanjut Arra. Duduk dengan diapit dua wanita cerewet di dunia, membuat Usan ingin berteriak kencang untuk menenangkan diri.
"Tidak bisa Mommy, Arra. Kak Simone, antar aku ke Dash Boutique sekarang!" seru Usan tak peduli. Membuat Mommy Ziva dan Arra kompak menghela napas kasar.
"Baiklah," jawab Simone.
Beberapa menit dalam perjalanan, kini mobil mewah itu berhenti di depan Dash Boutique, butik terkenal di kota Oesteria.
"Hati-hati dengan luka di perutmu, Usan. Jangan sampai terbentur," pesan Mommy Ziva dan Usan mengangguk cepat sambil melambaikan tangannya pada mobil yang mulai melaju perlahan. Setelah mobil sudah tak lagi tampak, barulah Usan segera masuk ke dalam gedung Dash Boutique.
Kedatangan Usan di sore hari itu tentu menjadi bahan perbincangan para pengunjung Dash Boutique. Banyak yang mengira kalau Usan tak terluka, lantaran saat ini Usan terlihat baik-baik saja. Sama sekali tidak seperti seseorang yang baru ditusuk perutnya dengan pisau tajam.
Melihat beberapa pengunjung yang terus menatapnya, Usan pun balik menatap mereka semua dengan tatapan tajamnya, membuat mereka langsung menundukkan wajah ketakutan. Setelah itu, Usan langsung menuju ruangan Asha. Namun, seorang karyawan malah menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Maaf, Tuan. Apa Tuan tengah mencari Nona Asha?" tanyanya sopan dan ramah.
"Benar, aku akan pergi ke ruangannya sekarang juga."
"Sebelumnya maaf, Tuan. Nona Asha sedang tidak ada di Butik."
"Dia sudah pulang ke rumah?" tanya Usan yang mengira kalau Asha pulang lebih awa dan kini sudah berada di Mansion.
"Tidak juga, Tuan. Nona sedang keluar karena ada urusan," jelasnya dengan raut wajah pucat.
"Lalu, ke mana dia?"
Mendengar itu, Usan pun menerobos masuk ke dalam ruangan Asha walau Sang Karyawan terus melarangnya. Ketika tiba di ruangan itu, Usan benar-benar tak menemukan Asha walau sudah mecari di mana-mana.
Setalah puas memeriksa ruangan dan tak menemukan Asha. Usan pun segera keluar dari butik, menelpon Sekretaris Evan untuk menjemputnya. Tak sampai lima menit kemudian, kini Sekretaris Evan sudah berada di hadapan Usan yang menunggu.
Usan langsung masuk ke mobilnya, kemudian memberi perintah kepada Sekretaris Evan untuk membawanya ke Mansion Asha. Tiba di Mansion Asha, Usan kembali mendapat kabar kalau Asha sedang tak berada di rumah. Tapi, para palayan dan pengawal di sana tidak satu pun yang mengetahui ke mana Asha pergi.
__ADS_1
Seketika Usan panik kala tak menemukan Asha di mama pun. Usan takut Asha di celakai oleh Edrik yang sebelumnya telah mencelakainya. Tiba di mobil Usan menjatuhkan tubuhnya kasar di samping Sekretaris Evan yang duduk di kursi kemudi.
"Evan, Asha pasti membawa ponselnya, cepat kau lacak di mana Asha sekarang!" titah Usan mendesak.
"Baik, Tuan." jawab Evan langsung bertindak cepat.
Beberapa menit kemudian.
"Bagaimana?"
"Saat ini, Nona Asha berada di hutan lebat Oesteria, Tuan."
"Sial! Ke sana sekarang!"
*
*
__ADS_1
*