
Booom ....
Suara bom yang meledak begitu dahsyatnya membuat Lorix kaget. Karena punya firasat yang tidak baik, dia langsung berlari menuju tempat di mana suara itu berasal. Asap yang membubung tinggi membatasi jarak pandang, dan membuat Lorix kesulitan ketika berjalan menuju lokasi ledakan terjadi.
Tepat pada saat itu juga, langit mendadak menjadi semakin gelap, petir tiba-tiba menyambar kemudian disusul dengan suara Guntur yang menggelegar. Hingga beberapa detik kemudian, barulah hujan turun dengan begitu derasnya. Memadamkan api yang semula membakar hutan akibat ledakan dahsyat itu.
Ketika tiba di lokasi sumber suara, Lorix menatap sedih sisa-sisa kebakaran yang sudah menjadi arang yang bercampur dengan air hujan. Bau-bau tak sedap menyengat indra penciuman Lorix, membuatnya mengepalkan tangan murka, karena kekhawatiran yang dia takutkan, rupanya benar-benar terjadi.
Banar apa yang dikatakan oleh Almarhum Nyonya Kiya, Edrik bukanlah musuh yang dapat ditebak dengan mudah. Lihatlah betapa hebatnya pria itu karena mampu membodohi seorang Lorix.
Ternyata, ranjau yang dia tanam disekitar jalan hanyalah sebuah trik menipu yang begitu tak terduga. Karena selain ranjau, Edrik juga memasang begitu banyak bom di area sana. Tepat pada waktu semua anggota akan menyusul dan melewati jalan tersebut, bom pun meledak dan mereka semua lenyap seketika.
Sedih sudah pasti, menyesal apalagi, karena kedua puluh anggota itu adalah orang-orang yang tulus bekerja untuknya. Karena selain dua puluh orang itu, tidak ada anggota Lorehot lain yang berpihak kepadanya. Semuanya hanya bekerja dan berpihak pada Nenek Lore saja.
"Aku akan membuatnya kehilangan nyawa malam ini juga!" seru Lorix, setelah itu Lorix langsung berjalan cepat menuju bangunan tua di depan sana. Lorix berjalan terburu-buru ketika baru mengingat Asha yang sempat dirinya lupakan dan tinggalkan. Saking mengkhawatirkan anggotanya, Lorix sampai melupakan Asha yang kini entah seperti apa kondisinya.
***
Tepat saat Asha masih menengadah ke atas, Edrik langsung mengarahkan senjatanya di jantung Asha dan
DOR!
Asha tak menghindar sama sekali, kala mengingat kalau dirinya sudah menggunakan rompi anti peluru yang dapat melindunginya. Namun, Asha dibuat terbelalak ketika melihat Usan yang berlari secepat kilat ke arahnya.
Saking cepatnya, Asha tak sempat melakukan apa pun selain berteriak kencang.
__ADS_1
"Tidaaakk!" teriak Asha berharap semua yang dilihatnya hanyalah sebuah mimpi buruk yang tak pernah dirinya inginkan terjadi.
Asha menutup mulut dengan kedua telapak tangan, tubuhnya bergetar hebat, Asha juga berusaha menarik napasnya yang terasa berat saat tiba-tiba kesulitan mendapatkan oksigen, ludahnya mendadak sulit ditelan. Asha benar-benar tak percaya apa yang dilihatnya saat ini.
Namum, darah segar yang terciprat ke wajah dan tubuhnya, menyadarkan Asha kalau apa yang dilihatnya saat ini, benar nyata terjadi. Asha beringsut ke depan, air matanya mengucur begitu deras saat melihat Usan yang terbaring telentang di hadapannya, dengan luka tembak kembali menghantam perutnya yang semula terdapat luka tikaman, yang bahkan masih mengeluarkan darah lantaran belum pulih dan masih sangat basah.
Dengan kedua telapak tangannya, Asha gunakan untuk menekan luka di perut Usan yang luka begitu besar. Dengan isakan tangis, Asha berusaha menahan darah segar itu agar berhenti mengucur. Namun, hal itu sangat sulit dilakukan, kedua tangan Asha dipenuhi darah segar milik Usan.
Asha mendongakkan kepalanya, menatap Edrik penuh amarah dan kebencian, karena pria di hadapannya itu selalu mengambil orang-orang yang dia sayangi di dunia ini. Asha menyeringai pasrah, ketika Edrik kembali menodongkan pistol ke arah keningnya.
Asha memejamkan matanya pasrah, siap menerima tembakan dari Edrik. Asha benar-benar telah pasrah, dia ingin mengakhiri segalanya. Pasti ada yang salah dengannya, Asha merasa kalau dirinya adalah perempuan pembawa sial, lihatnya bagaimana orang yang dia cintai pergi satu persatu.
Karena itulah Asha memilih pasrah dan memilih pergi agar dapat terus bersama Ibu, Nenek, dan juga Usan, pria yang begitu dia cintai. Ya, Asha tak lagi dapat membohongi dirinya, bahwa dia sangat mencintai Usan. Di depan sana, Edrik mulai melepaskan pelatuk dan ....
DOR!
DOR!
DOR!
Beberapa detik kemudian, Edrik pun jatuh dengan posisi telengkup di lantai yang dibajiiri oleh darah. Tepat di belakang Edrik, Asah melihat Simone yang langsung menjatuhkan pistolnya. Ternyata, Simone lebih dulu menembak Edrik, sebelum Edrik menembak Asha.
Asha melihat Simome menjatuhkan tubuhnya dengan kasar, karena bagaiamana pun dan sejahat apa pun Edrik, Edrik tepat adalah Ayah kandungnya sendiri. Dan itu artinya, Simone telah membunuh Ayahnya, hal itu membuat tubuh Simone terasa lemas. Menyesal mungkin tidak, tapi yang pasti Simome merasa sangat sedih.
Tak hanya Usan dan Simone saja yang datang, tapi juga ada beberapa boddyguar berpakaian serba hitam yang langsung menjinakkan bom, yang akan meledak dalam waktu tiga menit lagi. Namun, para boddyguar itu berhasil menjinakkan bom di detik-detik terakhir.
__ADS_1
"Asha!" teriak Lorix yang baru saja tiba. Melihat perut Usan yang berlumur darah, Lorix reflek melepaskan jasnya, kemudian dia gunakan untuk menekan perut Usan. Tepat setelah itu, Usan terbatuk dan langsung membuka kedua matanya yang juga terkana cipratan darah.
"Usan bertahanlah, ayo kita ke rumah sakit sekarang juga!" seru Asha, namum Usan malah menggeleng cepat serta menahannya.
"A-asha," panggil Usan kesulitan berbicara. Asha langsung mengangguk dengan banjir air mata.
"Me-meni-kah-lah de-deng-anku." ajaknya terbata-bata.
"Aku menolakmu, Usan!" Seru Asha menangis semakin histeris.
"Ke-kena-pa?"
"Karena apa katamu? Tentu saja karena aku menolakmu. Aku menolakmu karena aku tidak suka suasana seperti ini! Aku mau dilamar dengan penuh keromantisan! Kalau kamu mau menikahku, maka kamu harus bertahan! Aku membenci pria yang lemah!" sahut Asha dengan volume suara yang tinggi. Mendengar ucapan Asha, Usan tersenyum kecil sambil menahan rasa sakit yang luar biasa.
"I-itu sa-ja cu-kup bagi-ku, aku se-nang ka-rena ka-mu ju-ga men-cintai-ku," tutur Usan dengan tangan yang terangkat berusaha menjangkau pipi Asha. Asha langsung menyambut tangan Usan, lalu meletakkan tangan dingin penuh- darah itu di pipinya.
"A-aku men-cin-taimu, As-ha." setelah mengucapkan kalimat cintanya, tangan Usan jatuh seketika, dan Usan pun kehilangan kesadarannya di dalam pelukan Asha.
"USAAAAN!"
*
*
*
__ADS_1
TAMAT!
Selamat Hari Rata Idul Fitri 1443 H. Minal' aidzin wal-faizin mohon maaf lahir dan batin🥰🥰🥰