Terjerat Ranjang Hangat Si Culun Seksi

Terjerat Ranjang Hangat Si Culun Seksi
Bab 47 ~ Luka Pelindung


__ADS_3

"Ayah tahu kalau teh itu mengandung racun yang akan membunuh Ayah secara perlahan-lahan. Tapi, Ayah tetap meneguknya sampai habis. Apa maksud Ayah? Atau jangan-jangan ...."


"Membunuh secara perlahan dan Ayah masih bisa bertemu denganmu seperti sekarang ini. Bila Ayah menolak teh ini, hari ini pasti tidak akan terjadi dan Ayah tidak akan bisa melihat betapa hebatnya Asha Putri Ayah," terang Tuan Riol dan Asha langsung menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Sang Ayah yang selama ini yang begitu dia rindukan.


Mendengar penuturan Sang Ayah, Asha benar-benar tak kuasa menahan tangisnya, selama ini Asha salah telah membenci Ayahnya, siapa sangka Ayahnya rela menderita demi dirinya. Andai selama ini Asha tahu, mungkin Asha tidak akan datang terlambat seperti saat ini. Asha terlambat, Asha datang setelah kondisi Ayahnya sudah sangat memburuk.


"Maafin Asha, Ayah. Ayah menderita karena Asha," tangis Asha pecah.


"Kamu sama sekali tidak bersalah, Sayang. Ayahlah yang bersalah, Ayah membiarkan kamu menderita di luar sana. Ayah tidak bisa memaafkan diri Ayah sendiri," imbuh Tuan Riol membalas pelukan Asha dengan begitu beratnya.

__ADS_1


"Asha baik-baik saja, Ayah. Semua hal yang Asha lakukan untuk sampai di tahap ini, tidak pernah sekali pun Asha sesali," jawab Asha mulai melepaskan diri dari pelukan Sang Ayah.


Melihat perkembangan Putrinya yang banyak berubah, Tuan Riol tersenyum lebar sambil menyeka perlahan air mata Sang Putri. "Ayah yakin, Ayah yakin Ibumu sangat bangga kepadamu. Terima kasih sudah bertahan hingga sampai di titik ini, terima kasih sudah bertahan hingga Ayah masih bisa melihatmu lagi, Ayah sangat menyayangimu, Sayang."


"Asha juga sangat menyayangi Ayah. Maaf datang terlambat, maaf juga karena sudah membenci Ayah selama ini," Asha menatap Ayahnya penuh kerinduan.


"Ayah Juga minta maaf karena sudah membiarkanmu menerima banyak luka di luar sana. Tapi, ketahuilah Sayang, luka di luar sana lebih baik daripada Ayah harus kehilanganmu sama seperti Ayah kehilangan Ibumu. Maaf karena Ayah tidak berguna, maaf karena Ayah tidak bisa menjagamu dan juga Ibumu. Ayah mohon maafkan Ayah," terang Tuan Riol. Sedangkan Asha hanya dapat menepuk-nepuk dadanya guna bisa kembali bernapas dengan lancar.


"Terima kasih atas pengorbanan ayah, Asha sama sekali tidak menyalahkan Ayah. Tapi, kenapa Ayah tidak memberitahu Asha saat itu, Ayah adalah orang hebat dan Asha sangat yakin kita akan menang untuk kasus pembunuhan terhadap Ibu yang mereka lakukan," tanya Asha di sela-sela tangisannya.

__ADS_1


"Mereka sangat kuat, Sayang. Ayah sudah terlambat saat itu, mereka sudah menyebar bukan hanya di perusahaan tapi juga di rumah ini. Ayah benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Maafkan Ayah, sayang, maaf karena Ayah terlalu egois dan tidak berguna."


"Ayah tidak usah khawatir, Asha bisa menghabisi mereka berdua dengan mudah. Semuanya akan Asha lawan, Ayah. Ibu tiri dan Adik tiri bukanlah lawan Asha sekarang. Lihat bagaimana Asha melenyapkan mereka berdua," tegas Asha yakin. Namun, Tuan Riol malah menggelengkan kepalanya membuat Asha mengerutkan dahinya heran.


"Kenapa, Ayah?"


"Musuh sesungguhnya bukanlah mereka berdua," jawab Tuan Riol dengan raut wajahnya


yang serius.

__ADS_1


"Lalu, siapa?"


"Dia ....


__ADS_2