
"Haha ... Rasain kamu, aw!" pekik Asha ketika tak sengaja menabrak seorang pria berpakaian serba hitam. Ketika pria itu akan pergi, dengan cepat Asha menahannya lantaran merasa curiga dengan pria misterius memakai topi hitam yang menutupi wajahnya.
"Siapa kamu?" bentak Asha sambil menarik paksa topi yang dikenakan pria bertubuh kekar itu.
"Aakhh!" Pria itu berhasil memelintir tangan Asha dan langsung melessat pergi. Merasa curiga dengan pria itu, Asha pun langsung mengejarnya dengan lari yang tak kalah kencangnya walau tengah memakai heels.
Asha bisa saja melepaskan tembakkan pada pria yang kini dia kejar, karena Asha selalu menyimpan sebuah pistol berjenis ckit di stockingnya. Tapi, Asha tak mungkin menghancurkan pesta ulang tahun Dokter Xean hanya karena suara dari senjatanya.
Untuk itu, Asha lebih memilih berlari hingga kini Asha sudah berada di taman belakang. Melihat pria itu mencoba memanjat pagar tinggi, Asha sigap melepas heels, kemudian dia lempar sekuat tenaga dan berhasil mengenai kepala pria misterius itu. Tapi, sayangnya Asha tak berhasil menangkap pria misterius itu karena dia tetap memanjat cepat dengan mudahnya.
"Sial! bagaimana bisa larinya sekencang itu," kesal Asha sambil menyeka keringatnya yang bercucuran deras, kemudian mendekati pagar dan mengambil kembali heelsnya.
"Asha!" panggil Lorix yang datang tiba-tiba di gelapnya malam taman belakang, yang hanya di sinari lampu-lampu tamaran.
"Kakak mengagetkan aku saja."
__ADS_1
"Ada apa? Apa yang kamu kejar hingga berkeringat begini?" tanya Lorix sambil membantu menyeka keringat di kening Asha.
"Tadi ada seorang pria mencurigakan yang berpakaian serba hitam persis seperti penyusup pada umumnya, saat aku tanya dia siapa, dia langsung pergi begitu saja," jelas Asha sambil memasang kembali heelsnya.
"Benarkah? Sekarang ada Kakak, kamu tidak perlu khawatir, Kakak akan minta pengawal untuk memeriksanya," terang Lorix, lalu menuntun Asha untuk masuk kembali ke dalam rumah.
"Nona Asha, apa yang terjadi?" tanya Xean yang sebelumnya tengah berbincang dengan Lulu, melihat Asha yang datang dengan penuh keringat membuatnya merasa khawatir.
"Asha merasa tidak enak badan, saya akan langsung membawanya pulang untuk beristirahat," jawab Lorix menjelaskan.
"Benarkah? Saya seorang Dokter, apa Nona Asha mau saya periksa?" tawar Xean ramah.
"Oh, begitu. Baiklah Nona Asha, hati-hati di jalan, perbanyak minum air putih. Terima kasih karena sudah menghadiri pesta ulang tahun saya, terima kasih juga untuk hadiahnya."
"Sama-sama, kalau begitu kita pulang," balas Lorix langsung membawa Asha pergi untuk pulang.
__ADS_1
"Saya juga pamit pulang, Dokter," sambung Lulu yang juga pamit untuk pulang.
"Sebentar, apa Nona Lulu tidak ingin menunggu Usan, sepertinya sebentar lagi dia akan kembali," imbuh Xean yang ingin menahan Lulu.
"Tidak perlu, Dokter. Kebetulan masih ada urusan yang harus saya hadiri."
"Baiklah, nanti akan saya katakan kepada Usan kalau Nona sudah pulang lebih dulu."
"Terima kasih, Dokter."
"Sama-sama, Nona Lulu."
Setelah tamu undangan berangsur pulang kembali ke rumah masing-masing, barulah Xean mencari keberadaan Usan sahabatnya.
"Apa dia sudah pulang? Tidak mungkin, dia pasti akan pamit pada Mommy dan Daddy lebih dulu kalau memang sudah pulang," pikir Xean heran sambil meraba ponselnya di saku jas untuk membuat panggilan dengan Usan.
__ADS_1
"Hallo, kau di mana?" tanya Xean dengan nada suara yang tinggi.
"Xe-xean, to-long a ....