
"Kak Simone, Kakak—" Arra tak sanggup melanjutkan kalimatnya lantaran terlalu kaget dengan apa yang kini terjadi.
Tak hanya Arra, Mommy Ziva, Usan dan Asha juga kaget atas apa yang Simone lakukan.
Melihat semua orang tercengang, Simone pun melepaskan genggaman tangannya pada tangan Arra. Tak hanya orang-orang disekelilingnya, Simone sendiri pun juga kaget dengan apa yang terjadi pada dirinya. Simone menatap kedua kakinya di bawah sana. Walau masih bisa berdiri dengan seimbang, tapi Simone ragu untuk melangkah.
"Simone Sayang, kamu sudah bisa berdiri," Mommy Ziva menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.
"Ayo Kak, ayo aku bantu kakak untuk mencoba melangkah! seru Arra yang terlalu bahagia hingga melupakan akan kekesalannya terhadap Asha yang masih berdiri di tempat semula.
Arra menuntun Simone untuk melangkah sambil memegang kedua tangan Sang Kakak, tapi Simone terlihat merasa kakinya begitu berat ketika akan melangkah. Padahal, Simone sudah mengangkat kakinya dengan sekuat tenaga.
"Kakak pasti bisa, Kak. Pelan-pelan saja," Arra berusaha menyemangati Sang Kakak, tapi Simone masih tak sanggup mengangkat kakinya untuk melangkah, sedangkan Mommy Ziva masih terlalu shock.
"Yakin dulu, Tuan. Yakin Tuan bisa melangkah, setelah yakin maka melangkahlah. Jangan takut," ujar Asha menatap Simone tak bisa, begitu pun sebaliknya. Entah kenapa Simone merasa ada sesuatu yang berbeda dari Asha. Apalagi perkataan Asha yang seakan mengetahui ketakutan yang selama ini berusaha Simone sembunyikan.
Simone mulai menghela napas dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. Setelan itu, Simone kembali mengangkat kaki sebelah kanan dengan begitu perlahan. Tak disangka, Simone benar-benar bisa melangkahkan kakinya, semuanya pun tercengang dengan raut kebahagiaan terukir di wajah masing-masing. Kecuali Usan, dia tampak kesal karena tak suka atas apa yang Asha lakukan kepada Kakaknya. Apalagi tatapan penuh arti keduanya, cemburu pun datang tanpa disadari.
__ADS_1
"Ikut aku!" seru Usan langsung menyerat tangan Asha, Asha tak menepis tangan Usan yang kini membawanya keluar dari Mansion, hingga tiba di mobil.
"Kau pergilah, Evan!" usir Usan.
"Baik, Tuan." jawab Sekretaris Evan langsung turun dari mobil.
"Masuklah," Usan membukakan pintu mobil untuk Asha, tanpa membantah Asha langsung masuk dan duduk di kursi sebelah kemudi.
"Kamu mau membawaku ke mana?" tanya Asha memeriksa penampilannya di cermin mini antiknya.
"Butikmu," jawab Usan dan Asha tak peduli.
"Ke mana lagi? Ini sudah sampai butikmu, buka pintunya karena aku ingin turun sekarang juga," pinta Asha kerena pintu mobil masih Usan tutup otomatis.
"Apa kau tidak lihat ada banyak wartawan di sana."
"Jadi, Kamu tidak mau mengakuiku di hadapan mereka semua?" mendengar perkataan Asha, Usan pun langsung membuka pintu mobil.
__ADS_1
"Tranding topik tentangmu tidak akan asa habisnya."
"Tidak masalah bagiku."
Pada akhirnya, Usan pun menuntun dan melindungi Asha dari serbuan wartawan. Tiba di pintu utama gedung Dash Boutique, Asha pun menghentikan langkah kakinya, membuat Usan juga turut menghentikan langkah kakinya.
"Apa lagi, Asha?" tanya Usan kesal.
"Aku ingin berbicara sedikit kepada mereka berdua," balas Asha langsung berdiri dengan santainya di depan wartawan yang terus mengambil gambarnya.
"Katakan apa pun yang ingin kalian tanyakan," Uje Asha memberikan kesempatan kepada Wartawan untuk mewawancarainya.
Dari sekian banyak pertanyaan yang dilayangkan, intinya sama saja dengan satu pertanyaan yang ditanyakan oleh wartawan yang berada paling dekat dengan Asha, yakni. "Ada hubungan apa antara Nona dan Tuan Usan?"
"Menurut kalian apa?" tanya balik Asha membuat wartawan merasa kurang puas.
"Apakah benar Tuan dan Nona adalah pasangan kekasih?" Lagi dan lagi wartawan melayangkan pertanyaan tentang hubungan Asha dan Usan, berita Asha dan Usan mampu menggeser berita kematian tiga karyawan TB Grup sebelumnya.
__ADS_1
"Lebih tepatnya pasangan dia atas ranjang."