
"Apa mau diantar?" tanya Usan pada Asha yang kini telah bersiap untuk pulang.
"Tidak usah, aku pulang bersama Asistenku saja," tolak Asha lembut.
"Kapan lagi waktu senggangmu? Sepertinya kita harus bertemu pada malam hari. Apa nanti malam aku boleh ke rumahmu?" tanya Usan yang benar-benar sudah tak sabar ingin melahap Asha. Tapi, apadaya mereka berdua sama-sama punya kesibukan masing-masing.
"Di rumah, aku tinggal bersama Nenekku," jawab Asha.
"Baiklah, kalau begitu kamu yang ke Apartemenku, nanti malam aku yang akan menjemputmu," balas Usan.
"Tidak bisa, Sayang. Minggu ini ada banyak rancangan desain yang harus aku selesaikan," sahut Asha cepat.
"Baiklah, pastikan jangan menerima pesanan lagi. Selesaikan semua pesanan dalam minggu ini. Minggu depan kamu harus melayaniku, maksudnya menemaniku," Usan tersenyum licik, Asha pun juga membalasnya dengan senyuman penuh arti.
Keduanya keluar dari ruangan, kemudian berjalan berlawanan arah. Di mana Usan menuju ruang meeting tersembunyi dan Asha turun ke lantai bawah untuk pulang. Tiba di pelataran parkir, Asha langsung masuk ke dalam mobil yang sudah ada Asisten Via menunggunya.
"Kita akan ke mana dulu, Nona?" tanya Asisten Via sopan.
"Butik," jawab Asha singkat.
Beberapa menit perjalanan, akhirnya Asha tiba di butik, dengan dikejutkan akan kehadiran Ibu dan Adik tirinya, yang sudah duduk santai di lobby butiknya.
"Wah, ada tamu penting yang datang kenapa tidak kalian suruh masuk?" tanya Asha pada karyawannya, tapi pandangan tetap menatap Ibu dan Adik tirinya yang reflek berdiri.
"Maaf, Nona. Kami tidak tahu kalau mereka benar-benar Ibu dan Adik, Nona. Jadi mohon maafkan kami," jawab salah satu, tapi semua membungkukkan tubuh.
"Ibu tiri kejam dan Adik tiri licik, panggil saja mereka begitu," ralat Asha membuat semuanya saling berbisik menyudutkan Ny. Kiya dan Laura.
"Mulutmu dija—"
"Asha, Sayang. Ibu minta maaf akan kejadian di masa lalu," potong Ny. Kiya langsung menarik Putrinya mundur. Laura pun mengerutkan alisnya heran, sesat kemudian barulah dia melirik para karyawan yang terus membicarakan dirinya dan Ibunya sebagai Ibu tiri dan Adik tiri yang kejam.
__ADS_1
"Via," panggil Asha tetap berdiri tegap dan melipat kedua tangan lengkap dengan ekspresi cueknya.
"Iya, Nona." jawab Asisten Via.
"Tanyakan apa keperluan Ibu dan Adik tiriku datang kemari. Kalau hanya uang, berikan saja kemudian usir!" titah Asha langsung berjalan dengan segela kearoganannya, membuat Ny. Kiya dan Laura meradang, terlihat keduanya menarik napas dalam untuk menenangkan diri.
"Asha!" Asha segera membalikkan badan.
"Kenapa?"
"Ibu tidak datang untuk meminta uang. Juga tidak datang meminta maaf karena Ibu tahu kesalahan Ibu di masa lalu terlalu besar untuk dimaafkan, Ibu sadar bila Ibu tidak pantas dimaafkan dan—"
"Stop! Dialog basa-basi tidak penting dan terlalu panjang. Cepat, katakan apa keinginan kalian berdua datang kemari bila tidak minta belas kasihan atau uang," potong Asha dengan ekspresi tak peduli yang dipenuhi kearoganan.
Asha tersenyum smirik—kala tak sengaja melihat Ibu tirinya mencubit lengan Laura agar gantian berbicara.
"Kakak, minggu depan aku akan menikah dan—"
"Iya, Kak. Aw!" jawab Laura sambil berteriak kencang ketika lengannya dicubit kuat oleh Ibunya sendiri.
"Bukan begitu maksud Laura, Sayang. Tentu saja kita akan membayarmu, asal kamu mau mendesain dan membuatkan gaun pengantin khusus untuk Laura," ralat Ny. Kiya.
"Via," panggil Asha.
"Iya, Nona."
"Ada Istri dan Putri dari pawaris RL Grup datang ke butik kita. Karena mereka berdua bukan orang sembarang, tolong berikan pelayanan VVIP kepada mereka. Camkan baik-baik apa yang mereka katakan, mereka bilang akan membayar. Layani mereka dengan baik, setelah itu bawa mereka ke ruanganku untuk diukur dan melakukan hal lainnya. Hari ini kita juga tidak memberikan diskon, pastikan semua pelanggan membayar dengan pas."
"Baik, Nona. Siap dilaksanakan." jawab Asisten Via tersenyum smirik sambil melakukan pemanasan ringan seakan siap membuat perhitungan dengan kedua manusia kejam yang telah banyak membuat Nona kesayangannya terluka.
Ny. Kiya bergetar tubuhnya mendengar perkataan arogan Asha juga melihat tingkah Asisten Via. Sungguh di luar dugaannya, benar-benar di luar dugaan. Tidak pernah dirinya sangka bahwa Asha yang dulunya culun, lemah dan selalu menangis. Kini telah berubah menjadi Asha yang sangat menakutkan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
__ADS_1
Hari itu, keduanya benar-benar telah dikerjai oleh Asha juga Asisten Via. Begitu banyak pelayanan yang mereka dapatkan, entah berapa banyak uang yang akan mereka keluarkan nantinya untuk semua pelayanan. Jantung kedua berdegub kencang, rekening mereka bisa-bisa menangis.
Setelah semua pelayanan mereka dapatkan, barulah mereka diarahkan menuju ruangan Asha yang berada di lantai paling atas. Keduanya terlihat begitu iri dengan apa yang kini mereka lihat. Tidak disangka Asha bisa menjadi begitu sukses dan memiliki harta yang mungkin lebih besar dari harta milik Suaminya, setelah melihat langsung bagaimana luasnya dan besarnya gedung butik milik Asha yang memiliki lama belas lantai.
Tiba di lantai lima belas, keduanya kembali dibuat tercengang melihat betapa ruangan yang didesain bak Apartemen lengkap dengan ruang tamu, dapur, ruang makan, balkon, kamar mandi, bahkan kamar tidur.
"Silahkan duduk, Ibu dan Adik tiriku," sambut Asha dengan ramahnya. Dengan ekspresi terpaksa, kedua manusia itu pun duduk di sofa.
"Katakan padaku, desain seperti apa yang kamu mau?" Asha menatap Laura dengan ekspresi misteriusnya.
"Yang biasa saja, Sayang."
"Ibu, kok yang biasa?" protes Laura.
"Itu pesan Ayahmu, Sayang. Kita tidak boleh membuang-buang uang terlalu banyak, kasihan Ayahmu." Jawabnya beralasan. Padahal, dia takut tidak sanggup membayar karena tahu diri bahwa Asha telah berhasil menjebaknya.
"Tenang saja, Laura Sayang. Yang biasa juga akan jadi luar biasa bila kamu yang mengenakan, Kakak akan membuatkan gaun secantik mungkin untukmu dan kamu akan bercahaya seperti bidadari di pesta pernikahan kamu nanti,"
"Apa hanya itu saja, apa ada yang lainnya?"
"Sudah cukup, Sayang." jawab Ny. Kiya.
"Kalau sudah tunggu apa lagi? Silahkan pergi," usir Asha membuat wajah keduanya semakin berkerut, kemudian sama-sama bangkit dan langsung pergi dengan emosi yang meradang.
Lihat saja nanti, lihat saja aku pasti akan membalasmu, Asha. batin Ny. Kiya berendam.
Melihat kepergian kedua manusia itu, Asha tersenyum miring sambil melipat kedua tangannya. "Kita lihat, sejauh mana kalian berdua ingin mengusikku."
*
*
__ADS_1
*