
"Ayah, Kak Asha sudah datang!" seru Laura sambil menunjuk ke arah Asha yang datang bersama Asisten Via di sampingnya, di belakangnya menyusul Nyonya Kiya yang menunjukkan raut wajah tak senangnya atas kearoganan yang Asha perlihatkan padanya.
Mendengar seruan Laura, Tuan Riol pun memutar kepalanya ke belakang, kemudian mantap kegat Asha yang berjalan dengan arogannya. Tuan Riol sama sekali tak mengedipkan matanya barang sedetik pun, pria paruh baya itu sampai tak mengenali Putrinya sendiri yang telah dia usir tiga tahun lalu.
Sungguh tidak dia sangka, Putri culunnya yang dahulu dia benci bahkan dia usir, kini datang kembali dengan penampilan yang begitu membuatnya takjub. Asha datang dengan mengenakan pakaian seksi yang didominasi warna hitam dengan rok mini mekar di bagian bawahnya, tak lupa sedikit belahan di bagian dada yang membuat dua gundukannya sedikit menyembul. Rambutnya di ikat tinggi dengan make up berani khas ala Asha yang tak terkalahkan.
Ketika Asha sudah berdiri tepat dekatnya, Tuan Riol pun berdiri tegap sambil berkata. "Kau!" tekannya.
"Hallo, Mantan Ayah. Apa kabar?, sepertinya baik-baik saja, ya, hanya terlihat lebih tua dan tak terurus," sapa Asha sinis.
Dalam hatinya, Asha berusaha menahan diri agar tak meluapkan emosinya terlalu terburu-buru. Sungguh Asha ingin memeluk dan melepas rindu dengan Sang Ayah yang dulu begitu menyayangi serta memanjakannya. Ayah yang dahulu rela melakukan apa pun untuk membuatnya selalu tersenyum bahagia.
__ADS_1
Namun, itu semua dulu. Itu semua dulu sebelum seorang wanita siluman hadir di tengah-tengah keluarga bahagiannya. Setelah kehadiran siluman itu, Asha dan Ibunya hidup begitu menderita. Tak pernah mendapatkan kasih sayang dan selalu disalahkan, hingga akhirnya Sang Ibu kehilangan nyawanya dengan insiden yang begitu tragis.
Di mana Sang Ibu jatuh dari lantai tiga atap rumahnya, lalu mendarat tepat di hadapan Asha yang kala itu baru pulang dari sekolah. Trauma akibat insiden itu masih membekas hingga saat ini.
Datang kembali ke rumah yang bagaikan neraka ini, membuat Asha tak sabar—juga ingin melempar Ibu tirinya dari tempat yang sama. Asha menggepalkan tangannya erat sambil bersumpah dalam hati bahwa dirinya akan menghancurkan orang-orang yang telah menghancurkan hidupnya, Ibunya, dan juga Neneknya. Asha tak akan membiarkan mereka hidup bahagia.
Dan untuk pria paruh baya di hadapannya kini, pria yang adalah Ayah kandungnya sendiri, Ayah kandung yang lebih menyayangi dan mencintai orang lain dibanding darah dagingnya sendiri. Tak hanya pilih kasih dalam kasih sayang, Ayahnya juga telah mengusirnya, menelantarkannya dan membuat hidup semakin menderita di luar sana.
Walau Ayah kandungnya sendiri, Asha juga tak akan membiarkan Sang Ayah hidup tenang. Pria itu tak hanya melukainya, tapi juga telah melukai hati Ibunya, Asha tak akan memaafkan pria paruh baya yang sudah tampak keriput dan lemah di hadapannya kini.
"Sayang, tenangkan dirimu," bujuk Nyonya Kiya menuntun Tuan Riol hingga duduk kembali di sofanya.
"Jelaskan kepadaku!" bentaknya dengan emosi yang belum sepenuhnya stabil.
__ADS_1
"Akan aku jelaskan, tapi kamu tenanglah dulu. Minumlah tehmu ini," Nyonya Kiya memberikan teh khusus kepada Tuan Riol.
Sementara Asha masih berdiri melipat kedua tangan sambil melihat drama rayuan yang Ibu tirinya praktekan saat ini.
"Asha, kamu duduklah dulu Sayang," titah Nyonya Kiya lembut.
Asha memberi isyarat dengan lirikan matanya kepada Asisten Via, Asisten Via yang tanggap pun langsung beraksi dengan menyuruh Laura untuk minggir dan duduk di kursi lain karena Asha tak suka berbagi tempat duduk.
Dengan raut wajah kesalnya, Laura pun menyingkir dan memilih duduk di kursi lainnya yang berada dekat dengan Ibunya. Setelah kepergian Luara, Asisten Via menepuk-nepuk sofa yang akan Asha duduki, setelah memastikan tidak ada debu yang tertinggal, barulah Asisten Via memasang alas mini khusus tepat di atas bagian yang akan Asha duduki. Setelah semua beres, barulah Asisten Via mempersilahkan Asha duduk dan Asha pun duduk dengan penuh kearoganan.
Sedangkan Tuan Riol, Nyonya Kiya dan Laura menatap kelakuan Asha dengan mulut terbuka lebar dan mata yang tak berkedip. "Dulu rumah ini didominasi warna yang ceria yaitu merah muda, tak disangka sekarang berubah dan didominasi warna gelap hitam dan abu-abu. Sungguh merusak pemandangan, sepertinya aku hanya bisa bertahan sekitar satu jam di rumah tak nyaman ini," cela Asha sambil menatap dinding dan atap rumah yang berwarna gelap.
"Oh Astaga!"
__ADS_1
DOR!
"Aaaakh ....