
"Kamu mau?" tanya Simone membuat Arra langsung mengangguk cepat.
"Baiklah, mari kita lakukan." Simone meraih wajah Arra, menatap mata, hidung kemudian bibirnya. Sedangkan Arra malah tersenyum tatkala merasa geli ketika Somone mengelus bibirnya lembut.
"Ayo cium aku, Kak. Kenapa lama sekali? Tunggu ... Apa mulutku bau?" tanya Arra polos, lalu mencium aroma mulutnya sendiri.
"Wangi, tadi saat mandi aku tidak lupa untuk sikat gigi," lanjutnya malah membuat Simone mengulum senyum.
"Kenapa malah tertawa, ah Kakak kelamaan, biar aku saja," seru Arra langsung menempelkan bibirnya di bibir Simone, membuat Simone diam membatu dengan mata membulat sempurna.
"Katanya rasa berciuman itu manis, ini kenapa tidak ada rasa? Hanya terasa hangat dan kenyal saja," protes Arra membuat Simon seketika melepaskan senyumnya yang mematikan, membuat Arra tak dapat mengalihkan pandangan, dan terus melihat senyum indah bak candu itu.
"Sini, Kakak ajarin bagaimana caranya berciuman yang sebenarnya," tutur Simone yang langsung mendaratkan bibirnya di bibir Arra. Perlahan namun pasti, Simone mulai melu mat bibir atas dan bibir bawah Arra, begitu seterusnya, hingga Arra memejamkan matanya menikmati.
Tak cukup sampai di situ. Simone pun mulai menekan lembut kedua pipi Arra, kemudian Simone langsung menguasai rongga mulut yang terasa hangat dan manis, tepat ketika Arra membuka mulut memberikan peluang untuk Simone masuk semakin dalam.
Simone terus melu mat, menyesap, meng ulum, dan memberikan gigitan lembut pada mulut manis Arra. Sementara Arra hanya terdiam kaku dan lebih memilih menikmati apa yang Simone lakukan padanya.
Ketika Arra hampir kehabisan napas, barulah Simone melepaskannya dan Arra langsung memburu oksigen dengan cepat. Melihat Arra yang sudah kembali tenang, saat itu pula Simone kembali melakukan permainan panas di bibir candu milik Arra, kala tak kunjung merasa puas.
__ADS_1
"Uuhhh ..." Arra merintih karena tak sanggup menahan kenikmatan tiada tara, saat Simone beralih menyusuri lidah di ceruk lehernya yang jenjang.
Simone menghentikan gerakannya, kemudian tersenyum bangga saat memandang wajah Arra yang sudah Semerah tomat. Malu terus dilihat oleh Sang Suami, Area langsung mengalihkan pandangannya.
"Kakak akan melakukannya dengan lembut," bisik Simone di telinga Arra. Arra tak merespon, tapi langsung memeluk erat tubuh Simone ketika merasa geli saat Simone men jilat serta meng gigit lembut cuping telinganya.
"K-kak, ge-geli ... hen-tikan!" rintuh Arra meminta Simone untuk menghentikan permainan yang membuatnya menggila.
"Hentikan? Maksudnya sampai sini saja?" tanya Simone dengan raut wajah kecewanya, namun dia tak bisa mengingkari janjinya kepada Sang Daddy, yang memintanya untuk melindungi dan memastikan Arra tidak kesakitan.
"Bukan begitu maksudku," kesal Arra.
"Maksudku tetap lanjutkan malam pertama, tapi berhenti bermain di telingaku. Di sana sangat geli, aku tidak sanggup menahannya." terang Arra membuat Simone mengangguk mengerti.
"Baiklah, Kakak akan bermain di bagian lain saja," jawab Simone langsung menarik satu tali tipis berbentuk pita yang melingkar di perut datar Arra.
Hanya dengan sekali tarikan, seluruh kain yang melekat di tubuh Arra pun terlepas. Manampakan seluruh bagian sensitif di tubuh Arra, di bagian atas juga di bagian bawah.
"Meski tidak sebesar milik Kak Asha, tapi dua gundukanku ini juga tidak kalah indahnya, bukan, Kak?" tanya Arra menatap nanar Simone, yang kini juga menatapnya penuh hasrat yang kian memuncak.
__ADS_1
"Kak Simone, apa kakak bisa mendengarku?" tanya Arra sukses membuyarkan lamunan Simone yang tak kunjung merasa puas menikmati pemandangan indah di hadapannya kini.
"Ah iya, tadi kamu bilang apa, Sayang?" tanya Simone menelan saliva yang tercekat.
"Milikku tidak sebesar punya Kak Asha. Apa tidak apa-apa? Apa Kakak tetap akan menyukainya? Apa Kakak tidak—"
"Tentu Kakak suka, Arra. Apa pun yang ada di tubuhmu, Kakak menyukainya," jawab Simone, sukses menerbitkan senyum lebar di bibir Arra, yang kini masih memegang kedua gundukannya.
"Ahhh ..." Senyuman itu sirna seketika, tepat saat Simone mere mas kedua gundukannya untuk yang pertama kalinya.
"Geli, Kak, ahh ..." rintih Arra, sementara Simone tetap meng gigit chocochipnya gemas sambil memelintir chocohip di sebelahnya. Cukup lama Simone bermain di sana, merasa sudah tak lagi sanggup menahan hasratnya, Simone pun langsung turun ke bawah sana.
Arra menutup wajahnya malu saat melihat Simone terus menatap bagian intinya. Simone hanya tersenyum melihat ekspresi malu-malu di wajah Arra. Tanpa aba-aba Simone langsung mendaratkan jemarinya di sana. Baru saja Simone akan mengusap bagian sensitif nan indah itu. Tapi, satu kalimat dari bibir Arra berhasil membuatnya terbelalak.
"Kak Simone, aku mau ....
*
*
__ADS_1
*