
"Kenapa tidak pergi bersama Usan saja?"
"Dia pasti akan pergi bersama Desainer Lulu untuk memanasiku. Dia memang disukai banyak wanita, tapi aku juga disukai banyak pria. Aku tidak sabar ingin melihat, siapa yang lebih besar api cemburunya?" jawab Asha tersenyum jahat.
"Sangat mudah membangunkan seekor Singa Jantan yang kelaparan," sambung Lorix menyadarkan tubuhnya ke punggung sofa.
"Kan ada Kakak," balas Asha tersenyum manis.
"Jadi, Kakak mau temenin aku atau tidak?" lanjut Asha bertanya memastikan.
"Kalau tidak?"
"Maka aku akan cari pria lainnya," Asha mengalihkan pandangan kala tak suka akan respon Lorix.
"Baiklah-baiklah, Kakak akan ikut bersamamu malam ini, berdandanlah yang cantik agar singa jantanmu semakin terbakar," goda Lorix, membuat Asha langsung mengubah raut wajahnya.
"Biar dia tahu rasa, Kak. Mau membuatku cemburu, lihat bagaimana seorang Dasha Drace membalikkan keadaan," imbuh Asha percaya diri. Asha yakin Usan lah yang akan terbakar api cemburu, bukanlah dirinya.
"Tapi, sepertinya dia tidak selemah yang kamu kira. Lihatlah, dia tidak melakukan apa pun setelah postinganmu."
"Kakak jangan patahkan semangatku, dia yang lebih dulu tertarik padaku. Tentu saja dia sendiri yang akan cemburu, aku biasa saja." sahut Asha santai.
"Baiklah, terserah padamu. Luka di bahu bagaiamana? Apa sudah lebih baik?"
"Hum, sudah lebih baik, Kak."
__ADS_1
"Nyeri perutmu?" tanya Lorix yang khawatir akan Asha yang biasanya akan mengalami dismenore cukup parah di setiap masa menstruasinya tiba.
"Aman karena aku sudah minum obat pereda nyeri juga obat tambah darah. Aku akan baik-baik saja, Kakak tidak perlu khawatir," jelas Asha dan Lorix hanya menganggukkan kepalanya.
"Lihat di sana," tunjuk Lorix pada layar televisi yang berada cukup jauh dari hadapan mereka berdua.
"Ibu tiriku, dia sudah dibebaskan?" tanya Asha.
"Iya, kondisinya cepat pulih. Dia sudah mulai melakukan tugasnya untuk mengelabuhi Edrik. Kalau semua sudah beres, maka kita akan mulai beraksi pada saatnya nanti. Apa kamu siap? Perang sesungguhnya akan segera dimulai," ungkap Lorix pada Asha.
"Tentu saja aku siap, Kak. Aku yakin aku bisa mengalahkannya," jawab Asha yakin.
"Bagus. Karena kamu begitu keras kepala ingin menghabisi Edrik sendirian. Maka, Kakak sendiri yang akan melatihmu ketika bahumu sembuh nanti, apa mengerti?" terang Lorix seketika serius.
"Oke, Tuan. Saya mengerti dan siap melakukan apa pun termasuk hal berat sekali pun," jawab Asha meniru ucapannya ketika pertama kali diajari oleh Lorix. Mendengar itu, Lorix hanya tersenyum kecil.
"Kau mau ke mana Usan? Ini masih jam kerja?"
"Aku lapar, apa tidak boleh makan? Kakak juga ada, Kakak saja yang lanjutkan kertas-kertas memusingkan kepala itu," jawab Usan tak peduli, dia tetap berlalu pergi karena merasa pusing dengan kisah cintanya, juga dibuat pusing ketika menghadapi pekerjaan.
Menjelang sore itu, Usan pergi ke Apartemen di mana Xean tinggal di sana. Xean memilih tinggal di Apartemen agar tak tergesa-gesa untuk berangkat bekerja, karena Apartemennya berada tepat di samping rumah sakit tempatnya bekerja sementara.
Karena malam ini adalah hari ulang tahunnya, Xean pun pulang lebih awal. Xean memilih menghabiskan waktu di Apartemennya, malam nanti barulah dirinya akan pulang ke rumah karena pesta ulang tahunnya akan dilakukan di Mansion Jonason.
Ketika Usan masuk ke dalam Apartemen, Xean tengah memasak makanan lezat untuk dirinya sendiri. Tanpa permisi, Usan yang kelaparan langsung malahap pasta yang Xean letakkan di atas meja ruang makan. Sedangkan dirinya tengah pergi ke dapur untuk mengambil minuman jus sehat yang sebelumnya telah dia buat sendiri.
__ADS_1
"Kau!" Xean tercengang murka kala melihat Usan tengah melahap makanan yang dia buat dengan bersusah payah.
"Masakanmu tidak pernah gagal," puji Usan, membuat Xean langsung merubah ekspresi wajahnya. Pujian adalah kelemahan pria kekar berwajah rupawan itu.
"Ada urusan apa kau kemari?" tanya Xean memilih duduk di kursi, yang berada tepat dihadapan Usan. Pasrah, Xean pun memilih berselancar di layar ponselnya dan memesan beberapa macam makanan kesukaan.
"Aku ingin menikahi Asha," kata Usan to the point. Melihat ekspresi wajah Xean yang terlihat biasa saja, Usan pun mengerutkan alis heran.
"Kenapa kau tidak kaget?"
"Aku sudah menduganya," jawab Xean sambil menyeruput jusnya.
"Kau tahu, Xean. Asha itu dekat bahkan terkadang sangat dekat denganku. Tapi, aku merasa begitu jauh untuk menggapainya. Menurutmu apa yang harus aku lakukan?" tanya Usan serius.
"Ada dua cara untuk menggapai sesuatu yang terlihat dekat, tetapi jauh. Pertama, luluhkan hatinya dan buat dia mencintaimu."
"Itu terlalu sulit, yang kedua apa?"
"Yang kedua adalah ....
*
*
*
__ADS_1
Usan