Terjerat Ranjang Hangat Si Culun Seksi

Terjerat Ranjang Hangat Si Culun Seksi
Bab 64 ~ Pertemuan Asha dan Simone


__ADS_3

Di sebuah kampus terkenal di kota Oesteria. Pagi itu, Arra diantar oleh Simone untuk pertama kalinya setelah kecelakaan yang menyebabkan Simone mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya. Dan hari ini adalah hari pertama baginya untuk menjalankan aktivitas seperti biasa setelah sembuh dari lumpuhnya.


"Setelah ini Kakak mau ke mana lagi?" tanya Arra sebelum menutup pintu mobil.


"Dash Boutique, memangnya kenapa?" tanya balik Simone.


"Nggak apa-apa, aku ke kelas dulu, ya, Kak. Hati-hati di jalan," seru Arra sambil melambaikan tangannya. Sedangkan Simone hanya menunjukkan ekspresi seperti biasa, tetap cuek dan tampak tak peduli. Meski begitu, dia diam-diam mengulum senyum kecil kala melepas kepergian Arra.


Entah kenapa Simone masih belum mengerti seperti apa perasaannya terhadap Arra, apakah cinta atau hanya kasih sayang seorang Kakak terhadap Adiknya. Setelah Arra sudah tak lagi tampak di pandangan matanya, barulah Simone tancap gas menuju Dash Boutique untuk bertemu dengan Asha, Adik kandungnya.


Beberapa menit perjalanan, Simone telah sampai di depan pintu masuk Dash Boutique, seorang tukang parkir langsung mengamankan mobil Sang CEO TB Grup yang dikabarkan telah sembuh tersebut. Di hari pertama kesembuhannya, bukannya pergi ke TB Grup, Simone justru malah pergi ke Dash Boutique.


Hal itu tentu masuk ke dalam daftar berita heboh dan panas, membuat gosip tentang Simone, Usan, dan Asha yang terlibat cinta segitiga pun kembali menjadi tranding topik. Menggeser berita tentang kegaduhan pesta pernikahan Laura yang berantakan. Saking berantakannya, Laura pun di bawa pergi oleh Suaminya ke luar negeri. Sedangkan Ibunya yaitu Nyonya Kiya masih dalam pencarian setelah dikabarkan menghilangkan secara misterius.


Kedatangan Simone disambut langsung oleh Asisten Via yang kebetulan tengah berada di lantai bawah. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan Simone?" tanya Asisten Via ramah.

__ADS_1


Melihat ada begitu banyak pengunjung yang diam-diam merekam dirinya, Simone pun terpaksa berpura-pura kalau dirinya ingin dibuatkan pakaian khusus oleh Asha. Setelah mengatakan keinginannya, Asisten Via langsung mengantar Simone menuju ruangan Asha, karena Asisten Via paham untuk apa Simone datang ke Dash Boutique.


Tok, tok, tok ....


"Masuk!" seru Asha di dalam sana.


Mendengar sautan dari Sang Nona Muda, Asisten Via langsung membuka pintu, kemudian mempersilahkan Simone untuk masuk. "Terima kasih," ucap Simone tulus.


"Sama-sama, Tuan," balas Asisten Via segera menutup pintu ruangan begitu Simone telah masuk ke dalam ruangan kerja Asha.


"Ada apa, Via?" tanya Asha tetap fokus pada gambar desainnya, hingga salah mengira bahwa yang masuk ke dalam ruangannya adalah Asisten Via. Karena selain Asisten Via, tidak ada karyawan lain yang berani bertemu dengannya walau dalam kondisi sepenting apa pun.


"Tu-tuan Si-simone," ujar Asha langsung berdiri dari duduk nyamannya.


"Apa sibuk?" kembali Simone bertanya singkat.

__ADS_1


"Ti-tidak," seketika Asha menjadi gugup, berbiacara dengan Usan dia sama sekali tidak begini. Bahkan, Asha merasa sangat berani. Meski merasa gugup, Asha tetap memutari mejanya, kemudian mempersilahkan Simone untuk duduk di sofa.


"Apa menggambarnya sudah selesai?" tanya Simone kaku, berbasa-basi adalah hal yang paling dirinya benci.


"Nanti akan saya lanjutkan, Tuan. Tuan Simone ada perlu apa datang kemari?" tanya Asha ramah dan sopan. Bukan hanya Simone saja yang merasa gugup, tapi dirinya juga. Setelah sama-sama mengetahui ada hubungan darah antara mereka, keduanya kompak sama-sama merasa canggung.


"Jadi benar kita adalah Kakak Adik kandung?" tanya Simone mamastikan sambil meraih sebuah foto Asha dan almarhum Nyonya Disha di dalam sana. Dari foto yang kini Simone lihat, tampak Nyonya Disha tengah berpelukan dengan seorang gadis SMA yang penampilannya begitu berbeda dengan Asha.


"Iya, Tuan. Kita adalah saudara satu Ibu beda Ayah. Ini adalah foto saya ketika masuk SMA berusia tujuh belas tahun. Memang saya telah mengalami banyak perubahan dalam hal penampilan," terang Asha dan Simone pun mengangguk mengerti. Karena Asha memiliki banyak kemiripan dengan Almarhum Sang Ibu. Dari raut wajah, tubuh seksinya, dan juga suaranya. Itu alasan kenapa sebelumnya Simone sempat tertarik kepada Asha.


"Bisakah kamu panggil saya Kakak," pinta Simone tiba-tiba, membuat Asha merasa begitu gugup. Simone kembali menatap foto di tangannya dengan kedua mata yang memerah, seperti menahan tangis.


"Ka-kakak," gagap Asha.


"Mulai sekarang, panggil saja Kak Simone," tutur Simone dan Asha langsung mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


"Asha!" panggil seorang pria yang langsung menerobos masuk ke dalam ruangan Asha, membuat kaget Asha juga Simone.


"Kamu ....


__ADS_2