Terjerat Ranjang Hangat Si Culun Seksi

Terjerat Ranjang Hangat Si Culun Seksi
SEASON 2 ~ Bab 31


__ADS_3

"Jadi benar dialah Daddy yang menelantarkan kita. Apa mereka semua juga menindas Mommy? Katakan kepadaku kalau iya, aku akan membidik mereka satu persatu."


Asha membulatkan mata sempurna kala tak percaya akan ucapan Lewis yang terdengar begitu arogan persis seperti Usan. Buah jatuh benar-benar tidak jauh dari pohonnya. Sulit dipercaya, tapi begitulah kenyataannya.


"Lewis, kamu tidak boleh berkata seperti itu," sahut Lorix yang baru disadari keberadaannya.


"Paman," panggil Lewis merubah ekspresi wajahnya menjadi lembut seketika.


"Benar apa kata Paman Lorix, Sayang. Kamu tidak boleh berkata seperti tadi. Keluarga Daddy-mu sama sekali tidak menindas Mommy," jelas Asha berharap dapat diserap sempurna oleh Lewis.


"Baiklah, aku akan berusaha memaafkan meraka semua yang sudah menindas Mommy," imbuh Lewis dengan aksen suara imut serta tatapan manisnya. Berbeda ketika berbicara dan menatap Usan dan keluarganya.


"Lewis sayang, ini Grandma. Kemarilah peluk Grandma, kita makan malam bersama. Besok Grandma akan mengajakmu berlatih membidik dan menembak, kamu mau?" bujuk Mommy Ziva. Karena Lewis adalah duplikat Usan, maka Mommy Ziva yakin apa yang disukai Usan dahulu juga pasti disukai oleh Cucunya Lewis.

__ADS_1


Dulu Mommy Ziva dan Daddy Lolan melarang Usan untuk melakukan hal yang berbau mafia, namun kini keduanya ingin memperbaiki kesalahan di masa lalu. Untuk Lewis, Mommy Ziva dan Daddy Lolan sepakat untuk tak menuntut banyak dari apa yang ingin Lewis lakukan.


Toh, keduanya sudah belajar dari ketika mendidik Usan. Menjadi mafia tak selamanya Usan lakukan, ketika puas, Usan pun kembali memimpin perusahaan. Mulai saat ini, keduanya kompak ingin mempercayakan segalanya kepada Cucu mereka, tidak akan lagi mamaksa seperti halnya Usan dulu.


"Berlatih menembak!" seru Lewis dengan ekspresi wajahnya yang bersinar ketika mendengar kata menembak. Berlatih menembak adalah olahraga yang paling Lewis sukai dibandingkan olahraga lain, yang mengharuskannya untuk berlatih dan menekuni walau dirinya sendiri sangat tidak menyukai hal tersebut.


"Iya, Sayang. Kamu mau, bukan?" Mommy Ziva tersenyum senang. Lewis benar-benar adalah Usan ketika kecil dulu.


"Ehem ..." Lewis berdehem dengan gaya-nya yang super cool.


Mendengar itu, Daddy Lolan, Simone, dan Usan tercengang kaget. Sementara Mommy Ziva dan Arra menutup mulut yang terbuka lebar dengan kedua tangan, kala tak percaya saat Lewis menyebut setiap senjata yang sudah pernah diajarkan kepadanya. Sedangkan Lorix dan Asha terlihat biasa, karena Keduanya sudah paham apa-apa saja yang sudah diajarkan kepada Lewis.


Di luar akal sehat manusia dewasa. Di saat anak-anak lain masih belajar berbicara. Maka berbeda dengan Lewis yang begitu istimewa. Darah Mommy dan Daddy yang adalah seorang mafia mengalir kental padanya.

__ADS_1


Semuanya tampak berpikir keras tentang bagaiamana bisa seorang anak yang bahkan belum genap berusia tiga tahun, mampu menyebut berbagai jenis senjata dengan lancarnya. Bahkan, Usan sudah tak lagi mengingat jenis-jenis senjata itu karena sudah lama tak lagi bergelut di bidang yang dahulu begitu dia gilai.


"Sayang, Granpa dan Granma akan mengajakmu untuk berlatih menembak dengan senjata apa pun yang kamu inginkan. Bagaiamana? Kalau Lewis setuju, kita ke ruang makan dan makan malam bersama sekarang," Daddy Lolan menunjukkan wajah seramah mungkin kepada Lewis, berharap Sang Cucu tidak terlalu arogan kepadanya.


"Akan aku pikirkan nanti, karena Mommy-ku pastinya sudah lapar. Jadi, ayo kita makan malam bersama," ajak Lewis menyingkir dari hadapan Usan, Mommy Ziva, juga Daddy Lolan.


Lewis beralih ke samping, lalu menggandeng tangan Sang Mommy dengan lembut, kemudian berucap dengan ekspresi yang begitu menggemaskan. "Ayo Mommy, kita makan malam sekarang," ajaknya langsung berubah ekspresi.


Daddy Lolan, Mommy Ziva, Simone, dan Arra terdiam seribu bahasa menatap kepergian Lewis yang tampak meloncat-loncat kegirangan persis seperti anak seusianya. Jelas sangat berbeda ketika bersama mereka.


"Sabar Usan, pengorbanan Asha banyak merubah Lewis," tutur Lorix.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2