
"Bagaimana kalau dia menyakiti apalagi membunuh Puβ" reflek Asha menutup mulut dengan kedua telapak tangan.
"Pu siapa? Apa maksudmu Asha?" desak Usan terlihat penasaran akan gerak-gerik Asha yang mencurigakan.
"Maksudku membunuh kamu. Aku tidak ingin melibatkan siapa pun dengan masalahku. Aku mohon, untuk kedepannya jangan lagi melakukan hal seperti ini. Kamu terlalu bodoh, jadi aku mohon jangan lagi terluka karena aku," pinta Asha serius, mendengar ucapan Asha, tentu Usan murka. Cintanya terhadap Asha sudah sampai dititik paling atas, tetapi Asha masih saja meremehkan dirinya.
"Tidak akan. Apa pun itu aku pasti akan melindungimu!" tegas Usan membuat Asha menghela napas.
"Dengar Usan, aku sangat berterima kasih atas bantuanmu. Tapi, yang harus kamu tahu adalah saat aku melihatmu terluka, rasanya lebih sakit daripada aku sendiri yang terluka. Bila kamu ingin bersamaku, maka jangan lakukan hal itu lagi." tutur Asha langsung pergi begitu saja, meninggalkan Usan yang kini tersenyum lebar.
"Akui saja kalau tidak mau aku terluka karena kamu akan sangat khawatir. Kanapa harus mengeluarkan cara ambigu begitu," batin Usan yang mulai memahami isi hati kekasihnya tercinta.
***
Pagi menjelang siang itu, Asha pergi ke Mansion Lorix karena akan menghadiri acara penghormatan terakhir untuk semua anggota Lorehot yang meninggal karena tragedi Bom yang Edrik pasang.
__ADS_1
Asha bersimpuh menangis di depan peti mati yang di dalamnya ada Asisten Via yang juga turut menjadi korban. Asha sudah menganggap Asisten Via sebagai saudaranya sendiri. kepergian Asisten Via tentu meninggalkan luka besar di hatinya.
Melumpuhkan Edrik memang sulit bagi anggota Lorehot. Hal itu terjadi bukan tanpa alasan, karena Lorix ketahui kalau Edrik dulunya adalah salah satu anggota Lorehot yang punya potensi sangat besar, Edrik pernah menjadi ketua di bagian pembuatan senjata termasuk bom. Untuk itulah Edrik pandai membaca strategi mereka.
"Sudahlah Asha, semuanya sudah berakhir," bujuk Lorix menuntun Asha untuk berdiri. Lorix mengulurkan tangannya, membantu menyeka air mata seorang wanita seksi yang sudah dirinya anggap seperti Adik kandung sendiri.
"Semuanya belum berakhir, Kak." tekan Asha penuh makna.
Mendengar itu, Lorix menghentikan gerakannya, lalu menatap Asha serius.
"Jangan katakan itu, Kak! A-aku ...."
"Kamu menyesal, Asha. Berhenti membohongi dirimu sendiri. Kamu memang mendapatkan apa yang kamu inginkan, tapi kamu membiarkan banyak hal yang lebih berharga lainnya menghilang dalam genggamanmu."
"Kenapa Kakak berkata seperti ini! Dulu, dulu Kakak sangat mendukung apa pun yang aku lakukan!" teriak Asha memukul Lorix dengan segenap tenaganya yang kuat. Beruntung yang dia pukul adalah Lorix, bila orang lain mungkin sudah terjungkal ke belakang.
__ADS_1
"Karena saat itu kamu sudah melangkah, Kakak tidak mungkin mematahkan semangatmu dan membuatmu kembali hidup dalam keterpurukan. Sekarang kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan, untuk itu, katakan kepada hatimu bahwa kamu menyesal dan berjanjilah tidak akan melakukannya lagi. Hiduplah dengan bahagia, sesali saja dendammu, tapi jangan sesali orang-orang yang pergi karenanya, karena itulah pilihanmu."
"Kenapa Kakak berkata seperti ini?" Asha menarik kerah baju Lorix.
"Karena Kakak mengkhawatirkan Lewis." Asha menjatuhkan tubuhnya.
*
*
*
Kenapa Lorix mengkhawatirkan Lewis? Ada yang tahu?
Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya π Calangeo semuanya ππππ
__ADS_1