
"Aku tidak bisa menjawabnya sekarang, Daddy. Maaf Arra, berikan Kakak sedikit waktu untuk memastikan apakah Kakak benar-benar mencintaimu atau tidak, Kakak hanya tidak ingin membuatmu kecewa," jawab Simone jujur membuat Arra langsung mencebikkan bibirnya kecewa.
"Tidak apa-apa, Simone. Daddy mengerti perasaanmu, terima kasih sudah menjawab dengan jujur. Satu pesan Daddy, Daddy berharap kamu jangan merasa tidak pantas untuk Arra karena kamu hanya seorang anak angkat. Daddy percaya kepadamu," jelas Daddy Lolan serius.
"Tidak Daddy, aku tidak akan merasa seperti itu. Aku hanya membutuhkan sedikit waktu untuk memastikan," jelas Simone lagi.
"Kamu dengar itu Arra?" ledek Usan. Arra tak meresponnya sama sekali. Gadis itu terdiam seraya menundukkan wajahnya dalam, Mommy Ziva langsung memeluk Arra dengan erat sambil mengelus bahunya lembut.
"Arra," panggil Simone lembut.
"Hem," dehem Arra sebagai jawaban.
"Arra, Kakak tidak menolakmu," imbuh Simone sedang berusaha membujuk Arra.
"Arra tahu," jawab Arra singkat dengan bibir yang bergetar hebat karena menahan tangis.
"Jangan menangis," sahut Simone.
__ADS_1
"Siapa yang menangis?" tanya Arra dengan setetes buliran bening mengalir dari kedua sudut matanya.
"Tidak akan lama, hanya butuh waktu sebentar saja. Bantu Kakak untuk memastikannya," pinta Simone lembut.
"Hem," kembali Arra menjawab dengan dehemannya.
"Arra, jangan begini, Sayang." ujar Daddy Lolan menengahi.
"Arra tidak apa-apa, Daddy. Ini air mata bahagia bukan air mata kecewa, Arra bahagia karena Kak Simone bukanlah Kakak kandung Arra. Arra juga bahagia karena Mommy dan Daddy menyetujui hubungan Arra dan Kak Simone. Terima kasih sudah mengerti perasaan Arra. Arra menangis karena terharu bukan karena sedih. Mommy Daddy tidak perlu khawatir, membuat Kak Simone jatuh cinta kepada Arra adalah hal yang mudah," terang Arra detail.
"Baguslah kalau begitu, Sayang. Kamu masih punya banyak waktu untuk bersenang-senang, dua atau tiga tahun lagi saja baru menikah, tidak perlu terburu-buru," lanjut Daddy Lolan.
***
Keesokan harinya, sesuai janji, Asha pun berangkat menuju Mansion Ayahnya, di mana di rumah mewah itulah dirinya dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh Almarhum Ibunya tercinta.
Tiba di depan Manson luas itu, Asha berdiri di depan gedung 2 lantai itu. Mengingat betapa banyak siksaan dan hinaan yang dirinya terima selama tinggal di Mansion itu. Di mana di rumah mewah itulah Asha kerap mendapatkan perlakuan tak baik dari Ibu tirinya.
__ADS_1
Hingga datang sebuah insiden yang menyebabkan Asha diusir dari rumahnya tepat pada saat dirinya menginjak usia delapan belas tahun. Asha begitu ingat bagaimana keras dan kasarnya dia ketika diusir. Bahkan, Ayahnya membuat pengumuman bahwa dirinya bukan lagi bagian dari RL Grup.
"Astaga Asha, Ibu tidak menyangka kalau kamu benar-benar akan datang memenuhi undangan Laura dan Ibu," sambut Nyonya Kiya antusias dengan menyambut kedatangan Asha Sang Putri yang sebentar lagi akan dirinya dilenyapkan.
"Aku langsung masuk saja," tutur Asha sambil berjalan mendahului dengan penuh percaya diri.
"Tentu saja Sayang, Ayahmu juga sudah lama menunggu kedatanganmu. Ayahmu sanga ingin bertemu denganmu, Sayang. Dia sangat merindukanmu." kilah Nyonya Kiya.
"Tidak usah membohongiku, Ibu. Aku tahu Ibu tidak memberitahu Daddy sama sekali tentang kedatanganku hari ini,' ujar Asha membuat Nyonya Kiya menelan saliva bersusah payah.
Dan benar saja, ketika Asha tiba di ruang keluarga, kedatangannya seketika membuat Tuan Bredariol terbelalak kaget.
"Kau!"
"
*.
__ADS_1
"