Terjerat Ranjang Hangat Si Culun Seksi

Terjerat Ranjang Hangat Si Culun Seksi
Bab 15 ~ RIP


__ADS_3

"Nenek Dariyah mengalami serangan jantung akibat terlalu kaget mendengar suatu kabar buruk yang menyebabkan penyumbatan aliran darah karena penurunan kadar oksigen, hal itu membuat otot mati dan Nenek Dariyah kehilangan nyawanya," jelas Dokter Xean detail membuat Asha menjatuhkan tubuhnya ke lantai, dengan tangisan yang begitu histerisnya.


"Kau adalan Dokter terbaik, Xean. Bagaimana mungkin kau gagal?, sedangkan selama ini kau selalu berhasil menangani pasien sekritis apa pun," Usan menyalahi kinerja Dokter Xean, sahabatnya yang selama ini dikenal tidak pernah gagal mengatasi pasiennya. Ini adalah kali pertama kegagalan untuk Dokter Xean.


"Tugasku hanya menyembuhkan, bukan mengubah takdir kematian seseorang." jawab Dokter Xena membuat Usan sadar akan kesalahan pertanyaannya.


Tak pernah Asha bayangkan dalam hidupnya, bahwa dirinya akan kembali kehilangan orang yang begitu dia sayangi di dunia ini. Nenek yang mau menerima dirinya setelah diusir oleh Ayahnya sendiri, Nenek yang membuatnya tak mengakhiri hidupnya, Nenek yang selama ini menemani hari suka dan dukanya, Nenek yang memberikannya begitu besar kasih sayang, Nenek yang begitu Asha sayangi itu telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.


Asha tak dapat berkata-kata, hanya tangisan pilu dan air mata yang terus mengalir, yang menjadi bukti betapa hancurnya dia saat ini. Asha tak lagi menahan kesedihannya, bodoh dengan imege wanita kuat yang kini dia pegang. Asha tak ingin memikirkan hal itu, yang hanya ingin Asha lakukan sekarang adalah menangis, menangis sambil memohon kepada Tuhan agar mengembalikan Neneknya. Mengembalikan orang-orang yang menyayanginya.


Ya, dugaan Asha tak salah, Tuhan memang membenci dirinya. Lihatlah, Tuhan kembali merengut nyawa orang-orang yang menyayanginya, tapi membiarkan orang-orang yang membenci dirinya hidup dalam ketenangan dan kebahagiaan.


Apa arti perjuangannya selama ini? Apa arti pengorbanannya selama ini? Tidakkah Tuhan berpikir bahwa terlalu berat ujian tiada akhir yang kini dia hadapi. Apakah Tuhan memberikannya nyawa hanya untuk menderita tanpa bahagia? Bila benar begitu, Asha menyerah. Asha benar-benar telah menyerah.

__ADS_1


"Kenapa tidak ajak Asha, Nek? Kenapa pergi sendiri tanpa ajak Asha? Kenapa kalian semua pergi bersenang-senang tanpa mengajak Asha? Apakah kalian tidak menyayangi Asha? Asha tidak bahagia, Asha menderita! Tolong, tolong jemput Asha juga! Asha Lelah!" teriak Asha terdengar begitu pilu, membuat sakit siapa pun yang mendengarkan keluh-kesahnya.


Detik itu, Usan melihat kembali sosok Asha yang seperti tiga tahun lalu. Asha yang benar-benar rapuh. Asha tak lagi menyembunyikan kesedihannya, dia terus menangis dan menyalah Tuhannya. Usan memang tidak mengerti apa saja yang telah Asha alami, tapi dia dapat merasa betapa lelahnya Asha. Penderitaan Usan yang dituntut oleh kedua orangtuanya, tentu tak seberapa dibandingkan dengan penderita yang Asha alami.


Perlahan, Usan meraih tubun lemah yang terbujur di lantai itu. Asha tak menepis apalagi menolak, melainkan Asha memeluk Usan dengan begitu eratnya. Asha menangis pilu dalam pelukan Usan yang selalu setia menemani dirinya.


Sore itu, Asha berpisah dengan Sang Nenek untuk selama-lamanya. Asha melihat proses itu dengan wajah pucatnya dengan mata bengkak akibat terlalu lama menangis. Pipinya sudah tak lagi dibanjiri air mata, air matanya seakan telah mengering.


Hari itu, untuk pertama kalinya Asha tak menolak perhatian-perhatian kecil yang Usan berikan. Sedangkan Usan juga tak kalah sedihnya, melihat Asha yang terluka hatinya, hatinya juga ikut terluka. Apalagi saat melihat Asha yang terus memeluk pusaran kuburan Sang Nenek yang masih merah tanahnya.


Usan mengekor di belakang Asha hingga masuk ke dalam mobil. "Kita ke mana dulu, Tuan?" tanya Sekretaris Evan.


Usan "Ke Apartemenku." Asha "Ke Mansionku." jawab keduanya bersamaan membuat Sekretaris Evan terdiam bingung

__ADS_1


"Kita pulang ke Mansion Asha," ralat Usan mengalah.


Selama di perjalanan, Asha menyandarkan kepalnya ke kaca mobil sambil menatap pohon-pohon serta gedung-gedung yang dilewati. Asha memeluk diri, dia menggigil kedinginan karena masih mengenakan gaun seksinya yang mini. Melihat hal itu, Usan berinisiatif melepaskan jasnya, kemudian membalutnya ke tubuh Asha. Asha tak merespon juga tak menolak, dia masih menatap jalanan dengan Pandangan kosong.


Tiba di rumah, kedatangan Asha disambut dengan raut wajah sedih para pelayannya. Asha mengabaikan dan berjalan sendiri masuk ke dalam rumahnya, hingga merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Usan duduk di samping Asha, sementara Sekretaris Evan menunggu di luar rumah.


"Bukankah kamu belum makan apa pun hari ini?, apa mau aku ambilkan?" tanya Usan dan Asha menggeleng cepat.


"Ibu meninggal karen aku, sekarang Nenek meninggal juga karena aku. Semuanya berantakan karena aku."


Air mata Asha kembali mengalir kala memikirkan tentang Sang Nenek yang meninggal karena kesalahannya. Nenek pasti kaget mendengar berita buruk tentangnya di sosial media.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2