
"Evan. Kau ada di sini, tapi kenapa tidak menyusul Asha yang pergi! Apa kau tidak melihatnya?" bentak Usan pada Sekretaris Evan yang berada di dalam mobil.
"Saya melihat Nona pergi, Tuan."
"Lalu, kenapa kau tidak mengejarnya?" bentak Usan geram.
"Nona Asha bukan prioritas saya, Tuan. Lagipula, Tuan dan Nyonya besar tidak terlalu menyukainya. Saya hanya bekerja untuk Tuan Usan, saya akan melakukan apa pun yang Tuan perintahkan. Karena tadi Tuan tudak memberi perintah, maka saya tidak melakukannya," jawab Sekretaris Evan membuat Usan mengusap rambut dan wajahnya kasar.
"Astaga, tersersah kau saja. Sekarang berhenti bicara! Dan cepat lajukan mobilnya!"
"Baik, Tuan." jawab Sekretaris Evan langsung tancap gas.
Beberapa menit perjalanan, akhirnya Sekretaris Evan dan Usan sudah tiba di Mansion Asha yang cukup luas dan besar. Ketika akan masuk ke dalam bersama dengan mobilnya, perjalanan Usan dan Sekretaris Evan dihalangi oleh banyak pengawal yang berjaga di depan pintu gerbang.
"Siapa mereka? Sepertinya bukan pengawal yang kuminta untuk menjaga Asha. Jumlah mereka juga terlalu banyak," tukas Usan heran sambil melepaskan safetybelt siap akan keluar dari mobil.
"Memang bukan, Tuan. Sepertinya mereka adalah orang suruhannya Nona Asha," balas Sekertaris Evan juga turut keluar dari mobil.
__ADS_1
"Kenapa kalian menghalangiku yang ingin bertemu dengan Asha," tekan Usan.
"Maaf, Nona Asha sedang tidak ingin diganggu."
***
"Ayah Mertua?" tanya Tuan Riol dengan raut wajahnya yang lagi-lagi dibuat terkejut kala mendengar panggilan Lorix untuknya.
"Iya, Ayah. Lorix adalah tunanganku," jawab Asha manatap Ayahnya dengan senyuman manis yang terlihat begitu bahagia.
"Apa Ayah tidak salah dengar?" tanya Tuan Riol yang sulit mempercayai hal itu. Putrinya, Putrinya adalah tunangan dari seorang Lorix Lore, seorang pria tampan dan kuat melebihi Usan, yang pintar melebihi Simone, Lorix adalah pria yang bukan hanya sangat-sangat sempurna. Tapi, dia adalah pria yang begitu berkuasa. Hingga sulit bagi Tuan Riol untuk mempercayai atas apa yang kini dia dengarkan.
"Apa Ayah tidak setuju?" tanya Asha bingung akan ekspresi yang Ayahnya tunjukkan.
"Bagaiamana mungkin Ayah tidak setuju, Sayang. Kamu sangat beruntung dan Ayah sangat bangga kepadamu," tutur Tuan Riol memeluk Asha dengan erat, membuat Asha merasakan sakit pada bahunya, tapi dia dapat menahannya dengan sekuat tenaga.
Melihat raut wajah Asha yang tampak menahan sakit, Lorix pun mengingatkan Calon Ayah Mertuanya itu. "Bahu Asha terluka, Ayah." ujar Lorix mengingatkan, Tuan Riol langsung melepaskan Sang Putri dan memeriksa luka.
__ADS_1
"Maaf, Sayang. Apakah lukanya terbuka?" tanya Tuan Riol panik dan khawatir.
"Tidak apa-apa, Ayah. Aku baik-baik saja," jawab Asha tenang.
"Syukurlah, Nak."
Tok, tok, tok ....
"Biar saya yang membuka pintunya," izin Lorix langsung berjalan dengan langkah lebar menuju pintu kamar yang masih diketuk dari luar.
"Ada apa?" tanya Lorix dalam bahasa Oesteria yang terdengar begitu fasih.
"Di luar ada Tuan Dusan Atlemose yang meminta Nona Asha keluar," lapor pelayan tersebut dengan pandangan yang tak bisa berpaling dari wajah sempurna milik Lorix.
"Astaga. Aku akan menemuinya sebelum dia melihatmu," Asha bergegas akan keluar dari kamarnya. Namun, Lorix malah menahannya.
"Ada apa, Kak Lorix? Usan pasti akan menerobos masuk kalau tidak aku yang keluar menemuinya," imbuh Asha terdesak. Karena akan gawat bila Usan melihat ada Lorix di dalam rumahnya.
__ADS_1
"Kamu takut dia cemburu?"
"Bukan begitu maksudku, Kak. Aku hanya, hanya ....